Jumat, 10 Juli 2020

Negeri Seribu Istilah


Kamis, 25 Juni 2020 | 12:27:31 WIB


/

 Oleh: Amri Ikhsan *)

UNTUK merujuk pada kondisi dimana pembelajaran tidak terlaksana di sekolah selama pandemi covid-19 dan harus dilakukan jarak jauh, maka muncul beberapa istilah: 1) pembelajaran daring; 2) pembelajaran jarak jauh; 3) pembelajaran online (pembelajaran dalam jaringan); 4) pembelajaran luring (pembelajaran luar jaringan; 5) BDR (belajar dari rumah; 6) pembelajaran offline; 7) TFH (teaching from home).

Di lain pihak masih banyak pihak yang masih belum bisa membedakan antara social distancing dengan physical distancing, maksud dari hasil reaktif dan hasil positif. Banyak pihak yang belum memahami konteks droplet, hand sanitizer, lockdown, PSBB, dll.

Dalam sebuah media ditulis: “Pasien dengan kode 111, adalah lelaki berusia 22 tahun berinisial EF asal Sungai Penuh, riwayat kontak pasien positif di Sungai Penuh atau riwayat kontak Gowa”. Kira-kira orang awam tahu dengan istilah “kode’ atau kontak Gowa?. Ada yang bisa menjelaskan perbedaaan “orang terinfeksi, orang terpapar, orang positif, orang terkontaminasi, orang teridentifikasi covid-19?.

Di tengah ketidakpastian kapan vaksin Covid-19 ditemukan, kita dihadapkan dengan berbagai macam istilah di media massa termasuk media sosial. Beberapa istilah sudah dipahami oleh masyarakat, ada juga istilah yang belum dimengerti bahkan mungkin membingungkan.

Tidak dapat disangkal bahwa selama pandemi Covid-19 merebak, begitu banyak kosakata, akronim baru, bahasa asing yang membuat proses komunikasi jadi lancar, atau bisa jadi menghambat komunikasi. Kosakata baru tersebut berupa akronim dan istilah-istilah asing yang masif digunakan. Diakui sebagian begitu lancar ‘mengucapkan’ tapi belum tentu memahami maka istilah yang diucapkan.

Hingga saat ini, tercatat ada beberapa akronim dan istilah asing yang sering digunakan selama penyebaran maupun penanganan pandemi Covid-19 ini.

Ada Social distancing, pembatasan sosial, Physical distancing, pembatasan jarak fisik, Isolasi, tindakan memisahkan orang yang sudah sakit dengan orang yang tidak sakit, Karantina, memisahkan dan membatasi kegiatan orang yang sudah terpapar virus Corona namun belum menunjukkan gejala, Lockdown, pembatasan pergerakan penduduk dalam suatu wilayah, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Kemudian muncul akronim: Pasien dalam pengawasan (PDP), sudah ada gejala demam maupun gangguan pernapasan, Orang dalam pemantauan (ODP), gejala yang muncul hanya salah satu antara demam atau gangguan pernapasan, ODR (Orang Dalam Risiko), OTG (Orang Tanpa Gejala), semua kondisi fisik  sehat, tidak batuk, tidak sesak.

Pernah didengar flattening the curve ( upaya memperlambat penyebaran penyakit menular), herd immunity (kekebalan kelompok. Wabah (kejadian tersebarnya penyakit pada daerah yang luas dan pada banyak orang), epidemi (wabah yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga), Pandemi (epidemi yang telah menyebar di wilayah yang lebih luas).

Pasti kita sering menemukan istilah Droplet, tetesan atau cipratan yang dihasilkan dari bersin, batuk maupun saat berbicara. Rapid Test ( metode uji cepat untuk melacak seseorang terinfeksi virus). Screening (mengidentifikasi orang yang mungkin telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi virus).  Inkubasi (waktu yang diperlukan untuk gejala muncul setelah seseorang terinfeksi). Kluster (satu kelompok dengan satu kejadian kesehatan yang sama, yang terjadi dalam area dan waktu yang sama).

Dari segi kebijakan: WFH: Work From Home (bekerja dari rumah), WFO: Work from Office (Bekerja dari Kantor), TFH: Teaching From Home (mengajar dari rumah), stay at home (dirumah saja), layanan tatap muka,  virtual,

Domain pendidikan: e-learning, pembelajaran daring, pembelajaran jarak jauh, pembelajaran dalam jaringan, pembelajaran luar jaringan, kurikulum darurat, BDR (Belajar Dari Rumah).

Masih adalagi yang lain: tracing, swab test (tes usap), hand sanitizer (penyanitasi tangan), thermogun (pistol termometer), Suspect (orang yang sedang mengalami gejala-gejala dan juga pernah melakukan kontak dengan pasien yang dinyatakan positif terkena Covid-19),  disinfectant. Dalam  Surat Keputusan Bersama 4 Menteri, ditemukan istilah dan akronim ‘baru’: rekayasa enggineering, psikososial, comorbid, CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun). (diolah dari berbagai sumber)

Fenomena munculnya istilah ‘baru’ bagi sebagian masyarakat menunjukkan bahasa memang dijumpai dimana mana. Kita tidak dapat lepas dari bahasa. Bahasa telah menyerap masuk ke dalam pemikiran kita, menjebatani hubungan kita dengan orang lain. Perangkat pengetahuan manusia yang begitu banyak juga disimpan dan disebar luaskan melalui bahasa.

Bahasa digunakan sehari hari oleh siapa saja dalam transaksi apa saja, dan oleh karena itu, bahasa sebagai alat komunikasi antar manusia  dengan menggunakan simbol simbol lisan dan tertulis secara acak sesuai dengan makna yang telah diterima masyarakat penutur. (Ohoiwuton)

Covid-19 adalah sebuah virus baru (novel) yang dibicarakan hampir seluruh dunia yang sangat berbeda (divergent) satu sama lain. Hampir semua negara sedang berjuang mengatasi penyebaran virus ini dan dituntut berkomunikasi demi bersama sama menghentikan penyebaran virus ini, maka dipakailah satu bahasa berdasarkan kesepakatan bersama. Menurut pakar linguistik, ini disebut Lingua Franca.

Paul Ohoiwuton (2002) mengatakan penggunaan istilah atau frasa tertentu yang bercampur atau penggunaan lebih dari satu  atau kode dalam satu wacana menurut pola pola yang masih belum jelas disebut code mixing atau campur kode. Penggunaan campur kode ini didorong oleh keterpaksaan, karena prestise, seolah olah yang pakai bahasa asing lebih terpelajar, seakan akan tidak ada padanannya dalam bahasa indonesia.

Penggunaan akronim ‘baru’, istilah-istilah asing, istilah ‘campuran’ bahasa Indonesia dan asing dan banyaknya padanan kata  ini memperkaya kosa kata masyarakat sekaligus ‘membingungkan’. Tidak semua orang memahami istilah-istilah baru ini muncullah kesenjangan atau gap informasi antara kelompok masyarakat menengah ke bawah. Padahal kelompok masyarakat ini termasuk paling rentan terjangkit virus. (detik)

Istilah dan akronim baru dan asing dalam proses komunikasi sebenarnya  hanya menyakinkan si pembicara tapi belum tentu bagi pendengar. Dalam praktik berbahasa dalam konteks ini melahirkan masalah baru: kebingungan, kesalahpahaman, ketidakmengertian, dan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat, mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Apalagi dalam urusan virus yang mematikan ini.

Dikhawatirkan, akronim dan istilah bahasa asing ini hanya diketahui oleh kalangan tertentu saja sesuai bidang keahlian dalam konteks kesehatan. Dan semua hal ini akan menjadi asing bagi kalangan tertentu khususnya masyarakat awan.  Yang sangat dicemaskan adalah disaat perintah untuk sosial distancing, sebagian orang masih santai untuk kumpul-kumpul tanpa menjaga jarak, masih berkerumun saat di pasar. Sebagian masih bersalaman saat ketemu, masih tidak pakai masker, masih ‘rapat’ konvensional, enggan CTPS, dll.

Tapi masih untung, setiap ada aturan tertulis yang dikeluarkan pemerintah, istilah ‘aneh’ masih dijelaskan dengan catatan dalam ‘kurung’ yang membantu pembaca memahami istilah itu. Alhamdulillah!


*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments