Jumat, 10 Juli 2020

Perspektif Mahasiswa Terhadap New Normal


Jumat, 26 Juni 2020 | 14:50:54 WIB


Muhammad Arjun, S.M
Muhammad Arjun, S.M / Istimewa

Oleh : Muhammad Arjun, S.M

SUDAH tiga bulan lebih sudah Indonesia hidup dengan adanya covid-19, kini berbagai cara pun sudah dilakukan oleh pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus ini dengan menerapkan untuk stay at home, work from home, study from home hingga adanya PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar serta lockdown lokal oleh masyarakat.

Namun hal ini belum mendapat tanda-tanda baik dari beberapa cara yang di lakukan oleh pemerintah, sehingga angka positif di Indonesia masih tinggi dan bertambah di setiap harinya.

Tidak dipungkiri juga selama masa PSBB ini berdampak pada penurunan ekonomi negara, dikarenakan selama masa PSBB sektor perbelanjaan, tempat rekreasi ditutup demi memutus rantai penyebaran covid-19. Karena kondisi ekonomi saat ini sudah menurun, sehingga pemerintah mengubah kebijakan tidak adanya perpanjangan masa PSBB tetapi pemerintah menetapkan saat ini dengan adanya PSBB Transisi.

Pada masa PSBB Transisi Pemerintah sudah membuka beberapa sektor peribadahan, perbelanjaan, dan tempat rekreasi dengan melakukan pembukaan dalam beberapa tahap dan tetap pada protokol kesehatan guna memperbaiki ekonomi negara.

Di masa PSBB Transisi ini Presiden Joko Widodo memberikan statmentnya yaitu kita harus hidup berdampingan dan berdamai dengan virus ini, serta pemerintah mulai melakukan kebijakan dengan mulai di bukanya sektor peribadahan, perbelanjaan, tempat rekreasi dan kantor-kantor dengan tetap menggunakan protokol kesehatan. Hal ini di sebut juga dengan New Normal.

Dengan adanya New Normal, mungkin para mahasiswa mempunyai harapan untuk bisa kembali lagi kuliah secara tatap muka walau harus mematuhi protokol kesehatan di masa New Normal ini karena sudah kurang lebih 3 bulan mahasiswa melakukan kuliah online atau daring yang membuat perkuliahan kurang efektif serta keluh kesahnya terhadap tugas -- tugas yang di berikan terlalu banyak sehingga mahasiswa merasa sudah bosan dan ingin kembali seperti semula melakukan kuliah dengan tatap muka oleh dosen.

Tetapi apakah New Normal menjadi kabar baik untuk mahasiswa? Tentu tidak. Harapan itu tidak sesuai dengan ekpetasi para mahasiswa, karena nyatanya Kemendikbud sudah mengumumkan bahwa pelajar dan mahasiswa belum bisa untuk di buka kembali, karena pemerintah merasa kondisi di lapangan beresiko tinggi sehingga kondisi ini belum aman bagi pelajar dan mahasiswa dan hal lain yaitu data masih menunjukan jumlah kasus positif yang meningkat setiap harinya.

Pak Nadiem sudah menjelaskan pada saat live dari Kemendikbud bahwa untuk tingkat pendidikan belum bisa di buka kembali dan harus menjalani kegiatan pembelajaran secara online selama masa pandemi Covid-19.

Keputusan itu di ambil karena kesehatan dan keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama, dan di samping itu pemerintah merasa perguruan tinggi juga lebih mampu beradaptasi dengan model pembelajaran jarak jauh atau daring.

Apakah new normal ini sudah dikatakan efektif? Belum sepenuhnnya, karena masih banyak masyarakat yang tidak patuh terhadap peraturan dan protokol kesehatan.

Karena kini masih banyak masyarakat yang kurang memahami seberapa bahayanya virus ini sehingga masih adanya masyarakat yang tidak memakai masker dan kurangnya mematuhi himbauan jaga jarak di tempat umum.

Maka dari itu, kini pemerintah membuat peraturan dan sanksi kepada masyarakat yang melanggar kebijakan pemerintah dengan tidak mematuhi protokol kesehatan. Hal ini di lakukan supaya masyarakat sadar akan pentingnya menjaga kesehatan guna memutus penyebaran covid-19 di Indonesia dan menurunkan angka positif.

*) Mahasiswa pascasarjana Unja


Penulis: Muhammad Arjun, S.M
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments