Jumat, 10 Juli 2020

Aktivitas PETI di Tebo Libatkan Keluarga Aparat Pemerintah Desa, Peralatan Dompeng Dibakar Warga


Sabtu, 27 Juni 2020 | 21:00:38 WIB


Warga Desa Punti Kalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo membakar alat dompeng yang digunakan pelaku penambangan emas tanpa izin (PETI)
Warga Desa Punti Kalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo membakar alat dompeng yang digunakan pelaku penambangan emas tanpa izin (PETI) / metrojambi.com

 MUARATEBO - Aktivitas penambangan emas tampa izin (PETI) di Kabupaten Tebo hingga saat ini masih marak. Salah satunya di aliran Sungai Arang, tepatnya di Dusun Tangkit, Desa Punti Kalo, Kecamatan Sumay.

Kamis (25/6/2020) malam, warga yang geram dengan aktivitas PETI tersebut lantas mengamankan dua unit peralatan dompeng. Berdasarkan kesepakatan, alat dompeng untuk PETI tersebut lantas dibakar, dan pelaku dikenakan sanksi adat.

Kepala Desa Punti Kalo M. Amin mengatakan, setelah mendapat informasi adanya aktivitas PETI, ia langsung meminta kepala dusun dan ketua RT melakukan penelusuran, namun tidak membuahkan hasil. Namun demikian, Amin mengatakan pihaknya mengetahui siapa pelaku PETI tersebut.

Ditambahkan Amin, pihaknya lantas memanggil empat orang pelaku PETI di daerah tersebut. Para pelaku kemudian diberikan teguran sesuai dengan Peraturan Desa Punti Kalo Nomor 12 tahun 2017 tentang pelarangan menambang emas.

"Namun dua minggu berselang (dari pemanggilan pelaku, red), dompeng tersebut beroperasi lagi. Pelakunya orang yang sama. Alhasil warga mengamankan alat dompeng tersebut ke kantor desa. Dan berdasarkan kesepakatan, dompeng tersebut dibakar," beber Amin.

Ditambahkan Amin, pihaknya juga memberikan batas waktu satu minggu kepada pelaku PETI untuk membayar denda adat yang telah disepakati.

"Berdasarkan Perdes 2017 itu, ada denda adat yang sudah kita sepakati bersama dengan BPD, Lembaga Adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan Pemuda. Bagi siapapun yang mendompeng di wilayah Desa Punti Kalo didenda sebesar 30 juta rupiah per dompeng. Kalau yang (dibakar, red) ini dompengnya satu mesinnya yang dua. Untuk dendanya cuma satu orang dan juga ada batas waktunya. Tadi sudah kita berikan waktu paling lambat satu minggu terhitung sejak hari ini. Berdasarkan informasi dari pelaku dompeng baru tiga hari beroperasi," ungkap Amin.

Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Punti Kalo Suhaili mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan bahwa pelaku yang melanggar aturan tersebut merupakan keluarga dekat daru salah seorang perangkat desa.

"Kami sangat menyayangkan pelaku yang melanggar aturan Perdes Nomor 12 tahun 2017 tersebut adalah bapak dari Kaur Pembangunan di desa ini. Namun hukum tetap harus ditegakkan. Sebelumnya telah diberikan teguran, kenapa masih melanggar juga. Artinya berani mengangkangi aturan, dan menerima resiko," tegasnya.

Bhabinkamtibmas Kecamatan Sumay, Bripka Suwindra Aldi, juga membenarkan kejadian tersebut. Suwindra juga mengakui jika ia mengikuti proses mediasi atau musyawarah yang dilakukan serta memberikan arahan kepada masyarakat.

"Sebenarnya perbuatan pelaku ini merupakan tindak pidana yang dapat dijerat hukum positif. Akan tetapi dikarenakan langkah represif yang ditempuh warga melalui penyelesaian alternatif berbasis masyarakat, dengan mengedepan hukum adat, maka permasalahan ini kita serahkan kepada stakeholder dan pemangku Adat setempat, dengan harapan kedepannya dapat memberikan efek jera bagi  para pelaku PETI," pungkasnya.


Penulis: Suci
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments