Kamis, 3 Desember 2020

Bahasa Darurat Pandemi


Kamis, 27 Agustus 2020 | 16:52:07 WIB


/

Oleh: Amri Ikhsan *)

PEMERINTAH melakukan penyesuaian dalam proses pembelajaran baik dengan moda daring, luring atau tatap muka dengan mengantisipasi konsekuensi negatif & isu dari PJJ, pemerintah mengimplementasikan dua kebijakan baru, yaitu: 1) Perluasan pembelajaran tatap muka untuk zona kuning dan, 2) Kurikulum darurat (dalam kondisi khusus). Sekolah diberi fleksibilitas untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa.

Ini tertuang dalam: 1) Surat Keputusan Bersama (SKB) Mendikbud, Menag, Menkes dan Mendagri RI tentang Perubahan Atas Keputusan Bersama Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021 di masa pandemi Coronavirus Disease- 2019 (Covid-19) dan 2) slide pemaparan Mendikbud tentang Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, tanggal 7 Agustus 2020.

Sangat dipahami, konstruksi bahasa yang digunakan dalam keputusan dan penjelasan Mendikbud cukup ‘menghibur’ para pejuang pendidikan, sangat memperhatikan realitas pembelajaran daring yang selama ini dilakukan sehingga mengurangi bebas psikososial guru dan peserta didik dan orang tua.

Bahasa yang digunakan ‘kembali memfungsikan’ peran guru, siswa dan orang tua dalam PJJ selama pandemi. Tugas yang ‘maha’ berat guru selama pandemi seolah olah kelihatan ringan dari bahasa yang digunakan, walaupun bagaimanapun tugas guru tetaplah berat. Pada konteks ini, terasa lebih ringan karena negara ada bersama guru.

Pertama, Keputusan Bersama dan penjelasan Mendikbud sudah ‘mendengar’ keluhan, jeritan para guru, siswa dan orang tua: 1) Guru kesulitan mengelola PJJ dan cenderung fokus pada penuntasan kurikulum; 2) waktu pembelajaran berkurang sehingga guru tidak mungkin memenuhi beban jam mengajar; 3) Tidak semua orang tua mampu mendampingi anak belajar di rumah karena ada tanggung jawab lainnya (kerja, urusan rumah, dsb).

Kemudian, 4) Siswa kesulitan konsentrasi belajar dari rumah dan mengeluhkan beratnya penugasan soal dari guru; 5) peningkatan rasa stress dan jenuh akibat isolasi berkelanjutan berpotensi menimbulkan rasa cemas dan depresi bagi anak;

Kedua, apabila konteksnya berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan, maka pilihan kata yang dipakai adalah ‘wajib atau dilarang’: 1) Kepala satuan pendidikan wajib melakukan pengisian daftar periksa kesiapan; 2) Apabila terindikasi dalam kondisi tidak aman atau tingkat risiko daerah berubah, satuan pendidikan wajib ditutup kembali; 3) ZONA ORANYE dan MERAH berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nasional, dilarang melakukan proses pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.

Ketiga, berhubungan dengan tugas dan kewajiban guru, SKB dan Paparan Mendikbud menggunakan diksi modalitas: (dapat) diperbolehkan, perlu, akan: 1) Pembelajaran tatap muka di sekolah di zona kuning dan hijau diperbolehkan, namun tidak diwajibkan; 2) Selain zona hijau, satuan pendidikan di zona kuning dapat diperbolehkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

Kemudian, 3) Jenjang pendidikan dasar dan menengah dapat memulai pembelajaran tatap muka secara bersamaan dengan pertimbangan; 4) Untuk membantu siswa paling terdampak pandemi dan berpotensi paling tertinggal, guru perlu melakukan asesmen diagnostik; 5) Kegiatan harian bisa dikerjakan dalam 3 sesi: pagi, siang, dan sore hari; 6) Dapat melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan setelah mendapatkan izin dari pemerintah daerah.

Keempat, kalau ada sesuatu yang sangat baru misalnya, Kurikulum Darurat dan Modul Pembelajaran, pilihan kata yang digunakah adalah ‘dapat atau diharapkan’: 1) Untuk meringankan kesulitan pembelajaran di masa COVID-19, kurikulum darurat & modul pembelajaran dapat digunakan; 2) Kurikulum darurat diharapkan akan memudahkan proses pembelajaran di masa pandemi; 3) Modul diharapkan akan (1) mempermudah guru untuk.

Kelima, menggunakan kalimat kondisional dan konjungsi dengan pilihan untuk memberi kesempatan kepada guru dan satuan pendidikan untuk ikut mengambil keputusan ‘penting’: 1) Pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan yang memenuhi kesiapan dilaksanakan secara bertahap, diawali dengan masa transisi selama dua bulan. Jika aman, dilanjutkan dengan masa kebiasaan baru;

Begitu juga, 2) Walaupun di zona hijau dan kuning, sekolah tidak dapat melakukan pembelajaran tatap muka tanpa persetujuan…; 3) Pelaksanaan kurikulum berlaku sampai akhir tahun ajaran (tetap berlaku walaupun kondisi khusus sudah berakhir).

Keenam, apabila suatu kebijakan yang selama ini ‘ditakutkan’ para guru yang sangat erat hubungan dengan pembayaran Tunjangan Fungsional Guru (TFG), untuk menarik perhatian, maka digunakan diksi ‘negatif plus modal dengan syarat tertentu: Guru tidak lagi diharuskan untuk memenuhi beban kerja 24 jam tatap muka dalam satu minggu. Guru dapat fokus untuk memberikan pelajaran interaktif kepada siswa tanpa perlu mengejar pemenuhan jam.

SKB ini secara fungsional menggunakan bahasa untuk menyampaikan gagasan, ide, perasaan, atau pernyataan yang dapat dipahami berdasarkan kondisi darurat covid-19. Ini bertujuan untuk membangun hubungan sosial yang saling menguntungkan antar stakeholder pendidikan dalam konteks pandemi covid-19.

SKB ini mencoba menjelaskan bagaimana bahasa beroperasi dalam fungsi. Bahasa yang fungsional bukanlah bahasa yang terisolasi dari konteks atau merupakan produk semata, tetapi bahasa yang beroperasi dalam suatu proses (Halliday).

Dalam proses (darurat covid-19), terlibat partisipan, yaitu stakeholder pendidikan (Dinas pendidikan, Kemenag, sekolah, guru, orang tua dan masyarakat); apa yang terjadi dan dirujuk (pandemi); waktu; tempat (masa pandemi); dll.

SKB ini memandang bahasa dari aspek fungsinya sebagai alat berinteraksi sosial. Halliday dan Mathiessen (2014:84) menyebutkan bahwa bahasa memiliki tiga metafungsi bahasa, yaitu metafungsi ideasional, metafungsi interpersonal dan metafungsi tekstual.

Metafungsi ideasional berkaitan dengan bagaimana bahasa digunakan untuk merepresentasikan pengalaman atau untuk mengorganisasikan, memahami dan mengekspresikan persepsi tentang dunia dan kesadaran. Metafungsi ideasional adalah fungsi bahasa sebagai representasi pengalaman (apa yang terjadi selama pandemi covid-19).

Bahasa digunakan untuk membawa gambaran realitas dan proses kejadian (atau segala sesuatu yang terjadi selama pandemi covid-19), partisipan (orang, tempat atau benda yang terlibat di dalam proses) dan suasana kejadian (tempat, waktu, cara, penyebab dan sebagainya) yang terkait dengan proses itu.

Metafungsi interpersonal berkaitan dengan penggunaan bahasa untuk mempertahankan interaksi antara pengguna bahasa. Fungsi interpersonal membentuk hubungan sosial, termasuk penafsiran probabilitas oleh penutur serta relevansi pesan (Halliday dan Mathiessen, 2014:30). SKB ini memberi masukan kepada stakeholder tentang aturan alternatif yang bisa dilakukan selama pandemi.

Metafungsi tekstual berkaitan dengan dengan bagaimana bahasa beroperasi untuk menciptakan wacana yang utuh, berkesinambungan, kohesif dan koheren (Halliday dan Mathiessen, 2014:31). SKB ini ringkas, mudah dipahami dan menggunakan kata kata yang dekat dengan guru.

Penggunaan banyak modalitas dalam SKB ini menunjukan pemerintah memberi pandangan, pertimbangan, atau pendapat kepada guru sebagai alternatif dalam menjalankan tugasnya. Keputusan akhir ada pada pertimbangan guru tanpa mengurangi substansi dari SKB tersebut.

Mari menggunakan bahasa yang ‘menyejukkan’ selama pandemi covid-19, sehingga ‘imun sosial’ kita menjadi meningkat.


*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments