Kamis, 26 November 2020

Strategi Mewujudkan Desa yang Merdeka dan Berdaya


Selasa, 01 September 2020 | 14:07:13 WIB


/ Istimewa

Oleh Bery M

PROYEKSI pengangguran tahun ini menurut Kementerian Keuangan, jika dalam skala berat akan mencapai hingga sekitar 12,05 juta jiwa. Artinya, ada warning 5 juta pengangguran baru.

Sementara dalam skala rendah, pengangguran akan menyentuh angka 2,9 juta jiwa, sehingga totalnya menjadi 9,05 juta jiwa. Hasil proyeksi tersebut, bercermin dari data BPS Indonesia tahun 2019 , jumlah pengangguran sekitar 7,05 juta jiwa. Pertanyaannya, di mana dapat mendeteksi potensi besar yang mampu mendongkrak agresivitas ekonomi sehingga memberikan efek domino di tengah pandemi ?

Pagebluk virus Corona telah secara kasat mata memorak-porandakan ekonomi dunia. Berbagai proyeksi ekonomi negara-negara global terjerembab dalam skala memprihatinkan. Warga kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Namun, seperti pepatah negara Tiongkok, krisis tidak dimaknai tunggal. Weiji adalah kosakata yang mengandung arti dalam krisis ada sebuah kesempatan baik. Pertanyaannya, kesempatan baik apa yang mampu menjadi daya ungkit perekonomian Indonesia dalam menghadapi krisis wabah ganas tersebut ?

Desa menjadi pilihan prioritas jika pemerintah serius membangun kembali ekonomi lebih berdaya dan produktif. Apalagi, proyeksi krisis pangan bukan tidak mungkin terjadi, jika wabah pandemi kian tidak terkendali dan membutuhkan beberapa tahun untuk pulih. Dengan kebijakan dana desa yang terfokus dan dilakukannya subsitusi fokus anggaran pemerintah, seharusnya desa, pasca wabah ganas Corona mampu menjadi lokomotiv strategis dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi lebih progresif sekaligus menjaga keamanan pangan.

Mengacu pada informasi data yang di keluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri ( Kemendagri ), jumlah desa saat ini ada sekitar 83.184. Dari data tersebut klasifikasi desa & kelurahan yang berkembang sebanyak 24.410, kurang berkembang sebanyak 9.715 dan yang cepat berkembang hanya berkisar 7.963.
Potensi desa Indonesia sudah terlalu lama di abaikan pemerintah. Padahal, jika bangsa kita bercermin dari negara Tiongkok, kita melihat lonjakan golongan kelas menengah yang besar, ada sekitar 636 juta ( 53,9 persen ) tinggal di desa dalam mengelola usahanya, sedangkan di kota hanya ada sekitar 542,2 juta ( 46,1 persen ) penduduk kelas menengah. Sebagai contoh, Huaxi dan Shenzhen yang menjadi pusat industri besar untuk tekstil dan manufaktur. Kunci negara tirai bambu berhasil menggenjot desa menjadi lebih berdaya adalah dengan menerapkan kemudahan perizinan usaha, infrastruktur, dan SDM.

Tentu saja negara “Panda” dan Indonesia memiliki potensi yang berbeda. Belum lagi akibat pandemi, ruang gerak aktivitas ekonomi terlihat mandek karena kebijakan “new normal”. Karena itu Indonesia perlu melirik sektor ekonomi potensial seperti apa yang nantinya akan menciptakan efek domino multi sektor ekonomi sehingga desa juga mampu menjadi tuan rumah sendiri bagi kesejahteraan masyarakatnya sekaligus menyokong ekonomi nasional. Sektor ekonomi digital menjadi pilihan relevan melihat kemajuan teknologi saat ini yang berkembang pesat sekaligus solusi dari kendala jarak dan kecemasan warga beraktivitas di luar ruangan.

Indonesia sebenarnya memiliki kesempatan emas di sektor ekonomi digital jika mengembangkannya pada sektor agribisnis dan pariwisata ( ekowisata & desa wisata ) karena di dukung ratusan ribu pulau yang memiliki kontur tanah yang sesuai dengan berbagai jenis kebutuhan pangan, laut yang luas dan keindahan alam , budaya serta tradisi lokal yang beragam. Selain itu, ekonomi digital yang identik dengan pemanfaatan teknologi otomatis membuka lapangan kerja produktif bagi kaum muda, dimana kita tahu, generasi kaum muda lebih fasih memanfaatkan teknologi. Dengan begitu ada dua generasi yang dapat saling bersinergi, kaum muda dan generasi lebih senior ( tua ) yang cenderung tidak terlalu fasih akan pemanfaatan teknologi.

Apalagi tantangan bonus demografi akan segera mengalami puncaknya pada tahun 2030 di Indonesia. Di perkirakan ada sekitar 190 juta jiwa usia produktif. Tahun ini saja, perubahan struktur kependudukan usia produktif muda yang berusia 15-34 tahun telah berjumlah sekitar 90-100 juta jiwa. Momentum bonus demografi jelas memberikan kesempatan bagi siapa saja yang siap dan jeli menangkap peluang karena otomatis tingkat konsumsi bertumbuh pesat. Kabarnya baiknya, surplus demografi tersebut dapat di berdayakan lebih produktif jika ada kebijakan pendukung pemerintah, seperti melibatkan kaum muda turun ke desa sebagai fasilitator edukasi teknologi agar warga desa mampu memanfaatkan berbagai platform inovasi teknologi dalam aktivitas penjualan ataupun promosi jasa sehingga market lebih luas.

Konklusinya dengan melihat potensi desa yang besar, kemajuan teknologi yang sulit di tolak saat ini dan momentum bonus demografi yang di isi oleh struktur angkatan usia produktif yang besar, adaptasi ekonomi digital pada sektor agribisnis dan pariwisata sangat relevan menjadi prioritas pengembangan pembangunan di desa. Pertanyaannya bagaimana ini bisa di mulai ?

Seperti di jelaskan di atas, transaksi perdagangan daring saat ini memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi lokomotiv dalam menggerakkan ekonomi. Saat ini telah banyak platform gratis market place dalam pemasaran daring. Sebut saja , SatuAir ( Marketplace ikan hias ), E-fishery ( Teknologi budidaya perikanan ) dan Pak Tani Digital ( Marketplace Pertanian ). Pemasaran hasil dari sektor agribisnis baik itu hasil pertanian dan peternakan akan memotong jalur distribusi sehingga efektif meningkatkan pendapatan para pelaku agrobisnis karena harga yang relatif stabil dan menguntungkan karena langsung membidik end user. Selain itu, juga akan membantu untuk para pelaku pertanian di desa untuk lebih melek akan inovasi digital sekaligus lebih atraktif dan cepat meningkatkan wawasan serta peluang pasar jika ada informasi terkait demand dan supply.

Begitu pula dengan sektor pariwisata, desa akan lebih mudah mempromosikan daerahnya jika memang ada yang menarik dan istimewa sehingga efek dominonya akan mengembangkan ekonomi kreatif misal kriya, seni pertunjukan, kuliner dan lainnya. Apalagi sektor pariwisata juga sedang di genjot oleh pemerintah ( 10 Bali Baru ). Platform yang terkait tersebut di , samping tidak memerlukan biaya besar karena tidak membutuhkan bangunan fisik, juga sangat mudah di aplikasikan bagi siapa saja. Tentu saja dengan situasi sulit saat ini, pariwisata tetap harus mematuhi protokol kesehatan agar tidak terjadi cluster penyebaran virus ketika pariwisata di buka kembali. Jika sudah begini , masyarakat desa khususnya kaum muda juga lambat laun akan merubah mind setnya untuk tidak berpindah ke kota karena berharap hidup yang lebih baik. karena, toh, kesempatan besar dalam mendapatkan pekerjaan atau wirausaha juga relatif sama. Tingkat urbanisasi pun semakin dapat di tekan.

Jutaan kaum muda akan menjadi golongan menengah baru di desa. Golongan menengah ini tidak perlu lagi menempatkan bisnisnya di kota atau pindah ke kota. Dengan episentrum denyut ekonomi desa, kita berharap pasca pandemi mampu di hadapi oleh bangsa kita dengan kesiapan masyarakat desa yang lebih berdaya dan produktif. Inilah yang biasa di sebut dengan global village—desa yang berdaya dan menyokong perkembangan ekonomi di banyak belahan dunia dengan pemanfaatan teknologi informasi. Sudah saatnya desa menjadi mercusuar pembangunan Indonesia, bukan sekedar menjadi lokasi janji-janji berbusa setiap perhelatan politik semata. Bukankah, kemerdekaan adalah janji memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa? Amat Victoria Curam. Kemenangan membutuhkan persiapan.


*) Penulis adalah Pengamat Sosial


Penulis: Bery M
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments