Sabtu, 24 Oktober 2020

Pembelajaran Fungsional Selama Pandemi


Jumat, 04 September 2020 | 21:33:44 WIB


/

 Oleh: Amri Ikhsan *)

HAMPIR semua orang memahami dan menyakini akan pentingnya dan perlunya memiliki ilmu, memang kita diwajibkan menuntut ilmu tanpa batas, selama ilmu itu membawa kebaikan dalam kehidupan.

Memang, tidak semua ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa memberikan berkah dan ilmu yang membuat pemiliknya bertahan hidup (life skills), dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa, masyarakat, keluarga, dan untuk dirinya.

Bisa dipastikan ilmu ini buah dari proses pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses yang paling berperan dalam pengembangan ‘ilmu’, proses dimana kita bersinergi dalam mengelola potensi diri. Pembelajaran ini adalah proses ‘memfungsikan’ seluruh potensi yang dimiliki: afektif, kognitif, maupun psikomotorik.

Potensi potensi ini harus diberdayakan dengan menanamkan nilai nilai spritual, kadang kadang manusia bisa ‘bergerak’ karena ajaran agama. Diyakini agama mengandung ‘pembelajaran’ yang bisa menyelamatkan manusia dunia dan akhirat. Ini harus menjadi basis pembelajaran fungsional. Banyak ‘pekerjaan’ yang berat dikerjakan karena faktor ‘agama’: sholat, puasa, membayar zakat, naik haji, dll.

Ini adalah pembelajaran fungsional, yakni: 1) menerima segala problem anak didik dengan hati dan sikap terbuka dan tabah; 2) bersikap penyantun dan penyayang; 3) menjaga kewibawaan dan kehormatan dalam tindak; 4) menghindari dan menghilangkan sikap angkuh terhadap sesama; 5) bersikap rendah hati ketika menyatu dengan sekelompok masyarakat. (Al-Ghazali)

Pembelajaran dimasa pandemi Covid-19 selalu hangat dibicarakan. Sebagian besar guru sedang mencari format yang terbaik. Memang ada beberapa alternatif: Daring, Luring, tatap muka. Tentu ketiga format ini memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri, dan tergantung pada zona pandemi, apalagi sebagian besar guru belum berpengalaman dalam mengelola pembelajaran dengan pola seperti itu, dan ini merupakan pengalaman pertama.

Pemerintah juga sudah banyak mengeluarkan regulasi untuk mendukung terlaksananya pembelajaran di masa pandemi ini mulai dari Keputusan Dirjen, Keputusan Kepala Badan, Persetjen, Permen, PMA sampai SKB (Surat Keputusan Bersama) 4 (empat) menteri. Ini biasanya di-follow-up oleh jajaran dibawah.

Regulasi ini bisa berbentuk Surat Edaran (SE), Panduan, Pedoman, Mekanisme, Kurikulum Darurat sampai  penyederhanaan Kompetensi Isi (KI) dan Kompetensi Dasar yang merupakan rohnya pembelajaran. Isinya hampir semuanya mempermudah, memperlancar, mengurangi, memangkas, menyederhanakan, memberi informasi, memberi bantuan dan memperkaya tugas guru dalam pembelajaran masa pandemi.

Pembelajaran selama pandemi tidaklah mudah, banyak tantangan, masalah yang dihadapi. Sering pemerintah menekan bahwa pembelajaran masa ini bukan bertujuan untuk menuntaskan konten kurikulum, tapi memberikan nilai nilai kecakapan hidup (life skills), pendidikan karakter kepada peserta didik.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya pembelajaran selama pandemi menerapkan pembelajaran yang bersifat fungsional yang bertujuan menghasilkan manusia yang sempurna, berilmu, berakhlak dan beradab. Tentu tidak ada manusia yang sempurna, tapi sebuah kewajiban berusaha menjadi manusia yang sempurna. Pembelajaran fungsional akan mengarahkan, membimbing peserta didiknya menjadi manusia yang berilmu, beradab dan bermartabat dan menentramkan hatinya. Ini cikal bakal menjadi manusia sempurna.

Pembelajaran fungsional dibimbing oleh seorang pendidik yang mempersiapkan dirinya secara holistik, yakni aspek lahir dan batin. Pribadinya paripurna memiliki karakter sifat kasih, sayang, santung tanpa membeda-bedakan kemampuan siswanya. Dia bersikap adil dan menerima segala tingkah laku siswanya yang pintar, kurang pintar, rajin, malas, baik ataupun nakal, dll. Perbedaan ini menjadi kekuatan bagi seorang pendidik untuk terus belajar menghadapi tantangan ini.

Syarat paling utama untuk membuat pembelajaran fungsional adalah bimbingan dari tenaga pendidik yang pembelajar dan berilmu pengetahuan. Akan fatal akibatnya ketika dalam proses pembelajaran, guru tidak memiliki ataupun memahami tentang kompetensi yang hendak diajarkan baik pedagogik maupun profesional yang merupakan basis utama dalam melaksanakan pembelajaran. Begitu juga, kedua kompetensi ini tidak maksimal dijalankan bila guru tidak menerapkan kompetensi kepribadian dan sosial. 

Dia harus all out dalam pembelajaran, dia mengeluarkan seluruh ilmu yang ia miliki, tidak hanya mengajarkan mata pelajaran yang diampunya tapi juga menghubungkan dengan ilmu ilmu lain sebagai penyejuk hati peserta didik dan mengkombinasikan kedua ilmu tersebut dengan jelas dan rinci, sampai anak didiknya benar-benar paham.

Ciri ciri dari pembelajaran fungsional: 1) mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi yang bermanfaat bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya (lingkungannya); 2) menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan; 3) memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan maupun keahliannya secara berkelanjutan.

Kemudian, 4) menyiapkan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa kini maupun masa yang akan datang; 5) menjadi model atau sentral identifikasi diri atau menjadi pusat panutan, suri tauladan dan konsultan bagi peserta didiknya dari semua aspeknya; 6) mempunyai komitmen dengan profesionalitas, yang melekat pada dirinya sikap dedikatif, komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja yang baik. (Mujib, 2006)

Dilain pihak, ketika menemukan kelemahan peserta didik: kekurangmampuan dalam menyerap pelajaran, nakal, tidak serius, kurang motivasi, dsb, jangan terburu buru menilai mereka dengan memberi ‘gelar’ si pemalas, si bodoh, si nakal. Jangan pernah membenci mereka, memperlakukan mereka secara tidak pantas, menghukum secara berlebihan atau bahkan mengatakan mereka dengan perkataan yang tidak mendidik.

Karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menimbulkan masalah baru, dan dipastikan akan mengikis motivasi peserta didik dalam belajar. Maafkanlah semua kesalahan mereka sambil menasehati mereka dengan santun, sikap santun bukan berarti tidak tegas, tetapi santun menasihati dengan tutur kata yang lemah lembut dan tidak mempermalukan mereka, karena mereka adalah tanggung jawab pendidik. Pendidik harus instrospeksi diri, mungkin ada yang kurang pas dalam pembelajaran.

Oleh karena itu, pembelajaran fungsional mengedepankan sisi hati dan moral peserta didik. Jangan dekati mereka dengan nilai dan angka, jangan dekati mereka dengan ‘tidak naik kelas’. Tapi tanamkan ke hati mereka hal hal yang bisa membuat hati mereka lembut dengan mengikat mereka dengan nilai nilai agama. Diyakini, agama lah yang bisa membuat hati seseorang itu luluh.

Maka yang harus didiskusikan dalam pembelajaran fungsional: Pertama, prinsip ketauhidan dengan cara berdiskusi akibat akibat positif bertauhid, dalam bentuk ganjaran kebaikan dan pahala, baik di dunia maupun di akhirat.

Dan jangan lupa menjelaskan akibat-akibat negatif dari sikap penentangan prinsip tauhid baik dalam bentuk akibat yang berupa hukuman hukuman di dunia maupun siksaan diakhirat. Al-Ghazali juga berpendapat bahwasannya pendidikan tauhid itu sebaiknya di dahulukan dari pada pendidikan yang lainnya. Nilai tauhid akan meluruskan niat seseorang dalam mengikuti pembelajaran.

Kedua, akhlak  yang berarti tabiat atau perangai, budi pekerti, kelakuan. (Arief, 2002). Akhlak adalah kemauan yang dibiasakan. Akhlak merupakan gambaran tingkah laku dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. (Al-Ghazali).

Yang sangat vital untuk didiskusikan adalah akhlak terhadap Allah, selalu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan oleh-Nya, tidak sekali kali menyekutukan allah sebab ini merupakan perbuatan yang tercela. Kemudian, akhlak terhadap orang tua, guru, akhlak terhadap sesama manusia, berbuat baik serta mempererat silaturahmi. Akhlak akan menambah kepercayaan diri dalam pembelajaran.

 Ketiga, Pendidikan Ibadah, suatu perbuatan yang dikerjakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan serta mengingat ingat keagungannya, yang akan menjadi tanda bukti bagi keimanan kepada Allah dan pengawasan diri serta menghadapkan hati sepenuhnya kepada-Nya. (Mahmud Syhaltut). Ibadah akan menenteramkan hati dalam mengikuti pembelajaran.

Keempat, Pendidikan Sosial, bagaimana bermanfaat bagi orang lain. Ukuran ketinggian derajat manusia  bukanlah karena harta, kebangsaan, warna kulit, ras, bahasa dsb, akan tetapi yang membedakan tinggi rendahnya kualitas derajat seseorang ditentukan oleh ketaqwaannya dan prestasi kerjanya yang bermanfaat bagi manusia. (Tafsir, 2002).

Pendidikan ini termasuk bagaimana berkomunikasi dengan pihak lain baik komunikasi tatap muka atau di media sosial. Ini perlu ditekankan karena banyak yang salah kaprah dalam kebebasan menyampaikan pendapat di media sosial. Pendidikan sosial akan mempercepat pemahaman terhadap materi yang diberikan selama pembelajaran.

Pandemi membuat semuanya berubah, termasuk pendidikan. Pendidikan yang intinya pembelajaran harus diberdayakan secara fungsional. Mudah mudahan pembelajaran fungsional selama pandemi memberi nuansa baru bagi pendidikan kita.


*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments