Rabu, 21 Oktober 2020

Pendidikan Pekerja Jambi


Jumat, 11 September 2020 | 15:05:52 WIB


Syaeful Muslih
Syaeful Muslih / istimewa

Oleh: Syaeful Muslih *)

Tingkat pendidikan berbanding lurus dengan produktivitas dan tingkat upah. Pendidikan yang semakin tinggi berbanding lurus dengan kemampuan dan keterampilan kerja. 

Namun di balik itu semua, tingkat pendidikan yang tinggi berpengaruh pada pilihan-pilihan pekerjaan. Tenaga kerja dengan pendidikan tinggi tidak akan sembarangan memilih pekerjaan. 

Dengan tingkat pendidikannya, mereka berharap mendapat pekerjaan dengan tingkat penghasilan yang lebih baik. 

Akibatnya, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula persentase yang menganggur. Artinya, banyak yang masih mencari kerja terkait dengan pilihan-pilihan mereka pada pekerjaan-pekerjaan yang lebih menjanjikan.

Secara umum, tingkat pendidikan penduduk yang bekerja di Provinsi Jambi masih tergolong rendah, sebagian besar pekerja berpendidikan SD ke bawah. Jika dilihat dari pendidikan dasar 9 tahun, tercatat 59,04 persen pekerja berpendidikan SLTP ke bawah. Pekerja terdidik (SLTA keatas) hanya 40,96 persen.

Keadaan ini secara umum berlaku di semua kabupaten/kota, kecuali untuk Kota Jambi dan Kota Sungai Penuh. Bahkan untuk di Kabupaten Tanjung Jabung Timur lebih dari separuh pekerja dengan pendidikan sangat rendah yaitu tamatan SD ke bawah. 

Jika membahas keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Jambi maka bisa diketahui yang lebih baik kondisinya adalah Kota Jambi dan Kota Sungai Penuh. Di Kota Sungai Penuh pada tahun 2019 tercatat pekerja yang berpendidikan SD ke bawah hanya sebesar 22,0 persen sedangkan di Kota Jambi jauh lebih kecil lagi yaitu sekitar 19,1 persen saja. 

Kecilnya persentase pekerja dengan pendidikan rendah berbanding terbalik dengan persentase pekerja terdidik (SMA ke atas) di kedua wilayah ini. Kota Sungai Penuh mencatat pekerja terdidiknya sebesar 62,87 persen dan Kota Jambi jauh lebih tinggi lagi yaitu sebesar 65,06 persen.

Seperti diuraikan sebelumnya bahwa perbedaan tenaga kerja terdidik dan tak terdidik adalah dalam hal penentuan pekerjaannya. Tenaga kerja tak terdidik tidak mempermasalahkan jenis dan status pekerjaan yang akan digelutinya. 

Minimnya keterampilan dan keahlian memaksa mereka bekerja pada lapangan pekerjaan apapun tanpa meperhitungkan besaran upah/penghasilan yang akan diperolehnya. Akhirnya mereka masuk pada lapangan pekerjaan yang tidak menuntut kualifikasi tertentu yang memberikan penghasilan tidak optimal. 

Tidak sama halnya dengan tenaga kerja-tenaga kerja terdidik, karena berbekal kemampuan dan keahlian yang dimilikinya mereka tidak sembarangan menentukan jenis dan status pekerjaannya. Perhitungan rate of return dari masa pendidikan yang telah dikeluarkannya harus lebih tinggi. 

Harapan akan tingkat penghasilan/pendapatan yang tinggi harus sesuai dengan tingkat pendidikan/keterampilan/keahlian yang dimiliki. Bisa disimpulkan bahwa di Provinsi Jambi separuh lebih pekerja masuk dalam pasar kerja dan bekerja pada lapangan pekerjaan karena ketiadaan pilihan atas pendidikan rendah yang melekat pada diri mereka. 

Keterpaksaan ini berdampak pada tingkat penghasilan yang diperoleh terletak pada tingkat upah yang rendah.

Tingginya persentase pekerja dengan pendidikan rendah perlu diperhatikan keberadaannya pada pasar kerja Provinsi Jambi. Pekerja ini ada di setiap kelompok umur. Besarannya bervariasi dan membesar pada kelompok umur 40 tahun ke atas. 

Dengan demikian jika selama 15 tahun ke depan mereka tetap berada pasar kerja maka mereka ini akan tetap menjadi penyumbang besarnya persentase pekerja Jambi yang berpendidikan rendah.

Persentase penduduk yang bekerja bila dibandingkan secara gender, akan diperoleh gambaran bagaimana tingkat kesetaraan gender dalam dunia kerja di Provinsi Jambi berdasarkan tingkat pendidikan yang telah ditamatkan. Misalnya dengan membandingkan secara gender dari sisi tenaga kerja terdidik dan dari sisi tenaga kerja yang berpendidikan rendah (SD kebawah).

Kesenjangan masih terjadi di pasar kerja Provinsi Jambi pada tahun 2019. Namun kesenjangan tersebut tidak begitu besar. Menurut tingkat pendidikan tertentu, kesempatan tenaga kerja perempuan untuk masuk dalam lapangan pekerjaan belum setara dengan laki-laki. 

Data Sakernas 2019 mempelihatkan bahwa persentase pekerja laki-laki untuk tingkat pendidikan terdidik yaitu SMA masih terdapat selisih yang cukup besar. Tercatat pekerja laki-laki berpendidikan SMA sebanyak 31,38 persen dan pekerja perempuan pada tingkat pendidikan yang sama hanya berkisar 23,50 persen. 

Namun demikian ada hal yang sangat membanggakan yang menunjukkan kesamaan peran yaitu pada tingkat pendidikan tinggi (Diploma/ Sarjana) di mana persentase pekerja perempuan memiliki persentase hampir dua kali lipat dibandingkan pekerja laki-laki. Masing-masing sebesar 9,70 persen untuk laki-laki dan 17,26 persen untuk perempuan pada tingkat pendidikan diploma/Sarjana.

Jika dipilah-pilah menurut lapangan pekerjaan utama, tingkat pendidikan tenaga kerja dari sektor jasa mempunyai sumber daya manusia dengan tingkat pendidikan paling baik diantara sektor lainnya. Pada sektor jasa persentase tenaga kerja terdidiknya mencapai 65,38 persen, disamping itu pada sektor ini persentase tenaga kerja dengan pendidikan SD kebawah juga paling kecil, yaitu sebesar 20,16 persen, paling rendah diantara sektor lainnya.

Pertanian adalah sektor subsisten yang tidak menuntut kualifikasi pendidikan/keterampilan bagi para pekerjanya. Sektor ini sangat mudah dimasuki, ketika dengan latar belakang pendidikan yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaan di sektor industri (M) atau jasa (S), maka mereka tidak punya pilihan selain bergelut di sektor pertanian (A). 

Bukan hal yang perlu ditanyakan kenapa sektor pertanian memiliki persentase pekerja yang tidak/belum pernah sekolah/ tidak/belum tamat SD jauh lebih besar dan berlipat-lipat dibandingkan sektor industri (M) atau jasa (S). Kondisi yang sama juga untuk tingkat pendidikan SD.

Semakin tinggi tingkat pendidikannya maka semakin kecil persentase pekerja pada sektor pertanian (A). Ini menunjukkan bahwa pertanian semakin ditinggalkan oleh para tenaga kerja terdidik. Pertanian hanya dilirik oleh tenaga kerja berpendidikan rendah. 

Tingkat penghasilan yang rendah dan pekerjaan yang dianggap bukan kantoran dan menguras fisik diduga menjadi penyebab rendahnya persentase pekerja terdidik di sektor ini.

Justru sebaliknya, sektor industri (M) atau jasa (S) merupakan sektor yang paling banyak dilirik oleh pekerja terdidik (SMA ke atas). Setara dengan kualifikasi pendidikan yang disyaratkan sektor ini bagi para pekerjanya, maka tidak salah jika kedua sektor ini memiliki persentase paling besar untuk pekerja dengan tingkat pendidikan tinggi. Dan nilainya sangat jauh lebih besar dibandingkan sektor pertanian (A) dengan tingkat pendidikan sama. 

Apabila membandingkan antara industri (M) dan jasa (S), maka pada tingkat pendidikan tinggi, sektor jasa (S) memiliki persentase lebih tinggi dibandingkan sektor industri (M).

Setelah dicermati, pekerja yang berstatus buruh/karyawan/ pegawai didominasi oleh tenaga kerja terdidik (SMA dan Perguruan Tinggi). Hal ini juga menggambarkan bagaimana kualitas karyawan atau pegawai di Provinsi Jambi. 

Namun kondisi ini harus mulai digeser ke arah wirausaha, tenaga kerja terdidik masih sangat kecil yang berstatus berusaha, baik yang berusaha sendiri maupun yang berusaha dibantu buruh. Ketika tenaga kerja terdidik terutama yang pendidikan tinggi berorientasi untuk menjadi pegawai, maka tentunya angkatan kerja tersebut tidak akan terserap semua dalam pasar kerja, dan pada akhirnya akan terakumulasi sebagai pengangguran.

Peran pendidikan vokasi sekali lagi mungkin bisa menjadi alternatif untuk mengurangi fenomena berlomba-lombanya angkatan kerja untuk menjadi pegawai terutama aparatur sipil negara (ASN). Sehingga memunculkan generaasi wirausaha. 


Penulis: Syaeful Muslih
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments