Selasa, 27 Oktober 2020

Di Balik Fenomena Anak Bermata Biru Pekanbaru


Selasa, 06 Oktober 2020 | 17:24:48 WIB


/ Antara

PEKANBARU - Sosok Dzakira Azizy Naqiya sekilas tak ubahnya anak kecil pemalu, yang kerap bersembunyi di belakang ibunya. Rambutnya hitam dan ikal panjang sebahu. Kulitnya warna sawo matang, dan hidungnya tak pula mancung, sangat khas eksotisnya orang Indonesia. Namun, mata anak berusia enam tahun itu sungguh istimewa, karena warnanya biru seperti orang Eropa.

Zizy, begitu ia akrab disapa, punya sepasang mata biru tanpa perlu menggunakan lensa kontak artifisial seperti para artis kita zaman sekarang. Kilau mata birunya seperti langit cerah, makin berkilat ketika terkena pantulan cahaya, dan dihiasi alis yang menyatu ke arah hidungnya.

Anak perempuan ini kini ramai di jagad maya karena videonya tersebar atau viral, karena punya mata biru dan dianggap fenomena langka. Padahal, Zizy adalah orang Indonesia, anak semata wayang dari pasangan suami istri Zulbahri dan Ermi Julita, di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Mereka bukan keluarga “bule” ningrat, dan ayah Zizy sehari-hari bekerja sebagai supir pengantar galon air minum isi ulang.

“Sepengetahuan saya, kami ini masih asli lokal Indonesia. Mata biru ini turunan dari kakeknya,” kata Zulbahri di Pekanbaru, Selasa (6/10).

Pria berusia 48 tahun ini juga punya mata biru, namun karena faktor usia warnanya agak memudar. Ia mengatakan tidak ada penjelasan sahih bagaimana mereka bisa mendapatkan mata yang tidak biasa untuk orang Asia Tenggara itu. Namun, Zulbahri berkisah ada faktor keturunan dari keluarga ayahnya di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat.

“Ayah saya juga matanya biru, dan katanya kakek saya juga matanya biru. Tapi saya gak pernah nanya dari mana asalnya karena namanya juga orang kampung, kurang terbuka. Di kampung saya (Bukittinggi) cuma keluarga kami yang mata biru,” katanya.

Zulbahri punya kakak perempuan yang juga bermata biru, namun tidak ada saudara sepupunya yang seperti mereka. Anak-anak dari kakaknya juga tidak. Mata biru muncul lagi di keluarganya ketika Zizy lahir pada 13 Maret 2013.

“Dia adalah anak yang sangat kami nantikan, kami menunggu tujuh tahun,” ujar Zulbahri menceritakan anak satu-satunya itu.

Meski warna mata berbeda dari orang Indonesia pada umumnya, ia mengatakan tidak pernah mengeluhkan sakit pada matanya. Penglihatan ayahnya tetap bagus hingga tutup usia pada umur 70 tahun, begitu juga kakak perempuannya yang sampai kini tak pakai kacamata.

“Pandangan anak saya juga bagus, bisa digunakan bermain dan membaca,” katanya.

Ermi Julita, ibunda Zizy mengaku terkejut saat pertama melihat anak yang lama dinanti itu seperti orang bule Eropa. Apalagi, ia baru menyadarinya ketika Zizy sudah berumur sekitar satu bulan. Anaknya itu lahir melalui proses operasi sesar di rumah sakit di Pekanbaru.

Ia mengatakan saat bayi Zizy lebih sering tidur, sehingga matanya yang indah tidak terlihat. “Pas lahir perawat dan dokter tidak terlalu perhatikan matanya Saya pun baru nengok matanya biru ketika Zizy sudah sebulan di rumah, waktu ayahnya bilang anak kami matanya biru,” kata Ermi.

Ia mengatakan Zizy punya sifat pemalu, terutama saat bertemu dengan orang baru untuk pertama kali. Ia menilai anaknya sangat sensitif kalau ada orang yang membahas tentang matanya yang berbeda dari anak lainnya. Sebabnya, ada juga kawan Zizy yang takut melihatnya.

“Kawan-kawannya sudah ada yang terbiasa melihatnya, tapi ada juga kawannya yang bilang takut melihat matanya,” ucap Ermi.

Bukan Sindrom Waardenburg

“Tambah cantik anaknya, Pak! Kulit hitam manis, rambut ikal dan mata biru,” kata dokter spesialis mata Nofri Suriadi setelah melihat foto-foto Zizy bermata biru, yang dikirim wartawan Antara di Pekanbaru.

Dokter spesialis mata di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru ini mengatakan, kasus mata biru di keluarga Zizy bukan karena sindrom Waardenburg. Saat ini juga sedang ramai jadi perbincangan tentang keunikan orang Suku Buton di Provinsi Sulawesi Utara, yang banyak bermata biru karena sindrom Waardenburg. Fenomena mata biru suku Buton sampai menjadi ulasan media massa di Eropa.

Secara ilmiah, sindrom itu merupakan mutasi genetik turun-temurun yang sangat langka, dan selain membuat warna mata berbeda, juga dapat menyebabkan hilangnya pendengaran. Namun, untuk kasus Zizy diyakini berbeda.

“Bukan,” kata dr Nofri Suriadi singkat

Menurut dr Nofri Suriadi, keluarga Zizy memiliki iris mata biru seperti orang Eropa, yang diturunkan secara genetika dan tidak banyak terjadi di Indonesia. Iris berfungsi mengatur cahaya yang masuk, dan menentukan warna mata manusia. “Kalau lihat fotonya, ini warna irisnya yang biru, sehingga dilihat dari luar atau dari jauh, terlihat bermata biru,” katanya.

Ia menjelaskan warna iris diturunkan dari orang tua ke anak, sama halnya dengan warna rambut. Untuk orang Indonesia, pada umumnya rambut berwarna hitam dan iris warna coklat tua. Sedangkan, pada sejumlah orang seperti Zizy, warna irisnya biru seperti orang Eropa pada umumnya.

Ia menjelaskan, warna mata biru tersebut diturunkan secara genetika. Pola pewarisannya bermacam-macam, ada yang dominan, resesif, dan lain sebagainya. Apabila pola pewarisannya dominan, maka kemungkinan besar iris anaknya nanti juga akan berwarna biru. Sedangkan, pada pola pewarisan resesif, mata biru tersebut bisa muncul dan bisa juga tidak pada generasi selanjutnya.

“Kalau pola pewarisannya resesif, bisa jadi di nenek pas tidak muncul, tapi ada gen pembawa warna tersebut yang muncul pada anak atau cucunya,” katanya.

Menurut dia, iris warna biru pada orang Indonesia ada, tapi tidak banyak terjadi. Ia mengaku pernah menemukan kasus serupa di Jakarta dan selama praktik sebagai dokter spesialis mata di Kota Pekanbaru.

“Karena saya praktik di Pekanbaru, kasus seperti ini saya lihat di Pekanbaru, dan di Jakarta waktu saya sekolah di Jakarta dulu,” katanya.

Yang terpenting, dr Nofri Suriadi mengatakan, iris biru di keluarga Zizy tidak berdampak buruk pada kesehatan penglihatan mereka. “Ini tidak ada masalah untuk kesehatan mata. Warna iris ini sama seperti iris orang Eropa, biru,” ujarnya.


Penulis: Antara
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments