Selasa, 27 Oktober 2020

Swadisiplin di Tengah Pandemi Covid-19


Kamis, 15 Oktober 2020 | 15:05:04 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / istimewa

Oleh: Amri Ikhsan *)

LONJAKAN kasus Covid-19 di Povinsi Jambi beberapa hari terakhir ini, mulai dirasakan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Data yang diambil di corona.jambiprov.go.id (13/10/20; 20.21) menginformasikan: terkonfirmasi positif 526 orang, sembuh 318 orang, kematian 18 orang, suspek 145 orang, specimen 494.

Sedang data harian positif: 13/10/20 sebanyak 37, 12/10/20 sebanyak 13, 11/10/20 sebanyak 22, 10/10/20 sebanyak 30, 09/10/20 sebanyak 45 dan 08/10/20 sebanyak 46. (media online)

Kita memang patut sangat khawatir dengan perkembangan penanggulangan Covid-19 di Provinsi Jambi. Saat kurva penderita positif Covid-19 diharapkan sudah mulai melandai, Di Jambi justru belum ada tanda-tanda akan menurun. Bahkan, hingga saat ini kita belum tahu, apakah kasus Covid-19 di Jambi sudah mencapai puncaknya atau belum.

Memang tidak ada naskah yang bisa diikuti tentang cara hidup di tengah pandemi. Hal ini bisa sulit untuk ditangani karena wajar untuk membentuk narasi yang membantu kita untuk merespons. Pada saat ini, kita secara kiasan berada dalam kegelapan, dan banyak orang merasa tenggelam dalam pertanyaan yang tidak terjawab dan kecemasan yang mereka bangkitkan. Kapan vaksin akan tersedia? Kapan sekolah akan dibuka kembali (atau tutup lagi)? (thecoversation.com)

Oleh karena itu, penanganan pandemi tidak bisa ditangani oleh pemerintah saja. Dibutuhkan solidaritas bersama antara pemerintah dan masyarakat serta seluruh komponen yang ada dengan disiplin tinggi menerapkan protokol kesehatan.

Masyarakat seharusnya berinisiatif untuk melakukan ini tanpa paksaan. Gerakan massal dalam menerapkan protokol kesehatan, benar-benar terencana, dengan niat baik demi kesehatan dan dievaluasi dengan baik ke depan. Dengan gerakan ini diharapkan proses komunikasi risiko dengan menonjolkan “sense of emergency” untuk mengedukasi masyarakat bahwa Covid-19 ini nyata.

Kita menyadari sekarang, pandemi tidak bisa diselesaikan dengan disiplin karena ‘perintah, swadisiplin perlu dibangun dan dipupuk kembali. Swadisiplin menjadi kekuatan, mungkin satu-satunya di bidang non-medis, pemerintah harus yakin mampu menggalang seluruh kekuatan yang ada dengan konsisten dalam laku teks dan gerak dalam setiap kesempatan. Sehingga masyarakat merasakan betul bahwa pandemi Covid-19 ini benar-benar ada.

Tidak dapat dipungkiri, ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa Covid-19 ini sebetulnya tidak ada, hanya teori konspirasi semata sehingga merasa tidak perlu untuk menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan. (detik.com)

Oleh karena itu, jangan kendor! disiplin pakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan secara rutin. Dipastikan, kunci kemenangan perang melawan Covid itu adalah kedisiplinan kita semua. Swadisplin (disiplin diri) dan kedisiplinan pemerintah untuk membuat kebijakan menghadang Covid-19 dan konsisten untuk menjalankannya.

Dalam kondisi ini kita ‘dilarang’ putus asa, tetaplah disiplin untuk mengikuti semua aturan pemerintah. Jangan pernah abai, jangan menyerah, kita harus terus bersama-sama berjuang.

Semua kita sadar bahaya, tapi sayang masih melanggar, Ini sering terjadi di tengah masyarakat bukan karena ketidaktahuan. Hampir semua kita mengetahui tentang protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Informasi tentang hal ini sudah sangat gencar disampaikan dengan berbagai cara. Masyarakat diyakini tahu bahwa jika melanggar protocol kesehatan akan menimbulkan potensi kemudharatan baik terhadap dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

Di sini, kita perlu bersama merawat istiqomah dengan sabar. Mempertahankan disiplin dan merawat konsistensi (istiqomah) ini tidaklah mudah, bukan seperti membalik tangan. Diperlukan pembiasaan yang terus menerus, juga dukungan lingkungan yang tak putus. Kesadaran dalam diri menjadi faktor yang sangat menentukan. Betapapun mudahnya protokol kesehatan, sesering apapun pemerintah melakukan penertiban, jika tak ada kesadaran diri untuk menerapkan, swadisiplin hanya sekadar harapan tak berguna.

Swadisiplin memang tak mudah, tapi inilah saatnya untuk belajar. Belajar menjadi sabar, belajar untuk mengikuti pimpinan, belajar untuk memahami aturan, belajar menjaga diri sendiri dan orang lain, juga belajar beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru.

Disiplin merupakan kesadaran yang berkenaan dengan pengendalian diri seseorang terhadap bentuk-bentuk aturan (Ekosiswoyo, 2000). Dipastikan, disiplin khususnya swadisiplin adalah modal utama dalam menghadapi pandemi Covid-19. Disiplin untuk selalu menjaga jarak, disiplin untuk menggunakan masker, disiplin mencuci tangan dan disiplin untuk mentaati seluruh himbauan pemerintah dalam suasana pandemi ini.

Kita memang harus belajar disiplin. Idealnya kita self-discipline (disiplin diri, swadsiplin). Disiplin ini berasal dari dalam diri masing-masing yang dibentuk secara bertahap dan melawan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan diri. Disiplin karena kita sadar bahwa protokol kesehatan adalah cara ‘berkomunikasi’ dengan virus dengan aman.

Susah memang swadisiplin, perlu pembiasaan tapi minimal mulai dengan forced discipline. Disiplin yang dipaksakan ini digerakkan dari luar oleh pemerintah, lembaga tempat bekerja, orangtua, guru, dan lingkungan. Pada awal, tidak apa apa kita disiplin karena orang yang memantau, ada denda, ada kerja sosial.

Hindari disiplin. Ini adalah perilaku tidak berdisiplin. Masyarakat tidak menaati himbauan atau peraturan pemerintah di masa pandemi ini, masyarakat ‘seenaknya’ berkumpul-kumpul atau membuat kerumunan, semaunya tidak pakai masker. Manusia seperti ini tidak akan mendapatkan tempat dalam masyarakat. Manusia yang seperti ini senang berkelit jika diminta untuk disiplin. Alasannya macam-macam. (diolah dari berbagai sumber)

Kalau memang angka pasien positif terus meningkat, tidak apa apa melakukan ‘ide ide gila’” yang mungkin tidak biasa, yang mungkin dikritik orang. Melakukan Lockdown akhir pekan. Masyarakat setiap akhir pekan tidak diizinkan keluar rumah apapun alasannya. Masyarakat diminta menyiapkan bekal hidup sebelum akhir pekan.

Atau melakukan batasan khusus usia untuk keluar rumah. Hanya orang yang berusia antara 20-65 tahun yang diizinkan keluar rumah pada hari biasa. Sementara masyarakat yang berusia di atas 70 tahun tidak diperbolehkan untuk keluar rumah.

Bisa juga menerapkan Lockdown berbasis gender. Senin, Rabu, dan Jumat hanya pria yang diperbolehkan keluar rumah. Sementara Selasa, Kamis, dan Sabtu hanya wanita yang diizinkan. Sedangkan Minggu, melarang semua warganya untuk keluar rumah. (RMOL.ID)

Patut dicoba, agar masyarakat taat memakai masker saat keluar rumah, adakan saja patroli ambulans setiap satu jam sekali dengan membawa keranda dan membawa penumpang dengan APD lengkap. Hanya untuk mengingatkan.

Hanya orang disiplin yang akan memenangkan sebuah peperangan.


*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments