Senin, 23 November 2020

Kejari Tanjabbar Lakukan Restorative Justice Kasus Penggelapan Gas Elpiji


Selasa, 20 Oktober 2020 | 16:29:57 WIB


 Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) melakukan restorative justice (mempertemukan korban dengan tersangka) atas kasus penggelapan gas elpiji 3 Kg sebanyak 15 tabung dengan tersangka AN (33), warga Jalan Ketapang, RT 05 Kelurahan Tungkal Harapan, Kecamatan Tungkal Ilir.
Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) melakukan restorative justice (mempertemukan korban dengan tersangka) atas kasus penggelapan gas elpiji 3 Kg sebanyak 15 tabung dengan tersangka AN (33), warga Jalan Ketapang, RT 05 Kelurahan Tungkal Harapan, Kecamatan Tungkal Ilir. / Eko/Metrojambi.com

KUALATUNGKAL - Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) melakukan restorative justice (mempertemukan korban dengan tersangka) atas kasus penggelapan gas elpiji 3 Kg sebanyak 15 tabung dengan tersangka AN (33), warga Jalan Ketapang, RT 05 Kelurahan Tungkal Harapan, Kecamatan Tungkal Ilir.

Kejari Tanjabar, Togar Rafilion mengatakan, dasar mereka melakukan restorative justice adalah Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 tahun 2020. Dalam aturan tersebut, kata Togar, syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan restorative justice adalah kerugian kurang dari Rp 2,5 juta dan hukuman di bawah lima tahun.

"Kasus ini sudah terpenuhi secara syaratnya dan disetujui oleh kedua belah pihaknya,” tandasnya.

Sementara itu, Kasi Pidum Kejari Tanjabbar, Novan Harpanta mengatakan, penegakan hukum secara restorative justice baru pertama kali dilakukan. Hal ini dilakukan sesuai dengan Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020.

"Hari ini diadakan keadilan restorative atau restorative justice dan ini sesuai dengan peraturan jaksa agung nomor 15 tahun 2020. Ini kasus pertama di Kabupaten Tanjabbar yang diajukan secara RJ," kata Novan.

Dikatakannya lagi, yang mengakukan restorative justice adalah pihak jaksa berdasarkan pertimbangan hari nurani. Dikatakan Novan, sebagai jaksa pihaknya memposisikan diri sebagai fasilitator untuk dilakukan upaya perdamaian terhadap korban dan tersangka.

"Nantinya setelah dilakukan upaya perdamaian terhadap perkara yang di jalani oleh tersangka, berdasarkan surat keputusan atas perintah dari pak Kepala Kejari bisa di hentikan tuntutannya," pungkasnya.


Penulis: Eko Siswono
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments