Sabtu, 28 November 2020

12 Orang di Jambi Meninggal Dunia Akibat DBD


Jumat, 11 September 2020 | 11:13:19 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAMBI - Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Jambi sepanjang Januari hingga Agustus 2020 ini, mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun 2020 lalu.

Untuk tahun ini tercatat ada sebanyak 1.740 kasus DBD, dengan meninggal dunia 12 orang. Sedangkan tahun lalu 1.417 kasus.

Kabid Pencegahan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jambi, Eva Susanti menyampaikan, meski terhitung mengalami kenaikan dalam periode yang sama, namun jika dibandingkan dengan rentang waktu selama tahun 2020 ini saja (Januari-Agustus) DBD di Provinsi Jambi cenderung menurun.

"Iya untuk periode yang sama dengan tahun sebelumnya meningkat, tapi dari awal tahun ke sekarang menurun. Karena total kasus DBD tahun 2019 semuanya ada 2.229 kasus, dan tahun ini yaitu Januari hingga Agustus baru 1.740 kasus," tuturnya, Jumat (11/9/2020).

Eva merincikan, untuk total data DBD tahun 2020, terhitung bulan Januari ada 648 kasus dan meninggal 1 orang, Februari 472 kasus meninggal 6 orang, Maret 273 kasus meninggal 1 orang, April 161 kasus meninggal 3 orang, Mei 81 kasus meninggal 0, Juni 51 kasus meninggal 1 orang, Juli 35 kasus meninggal 0, dan Agustus 41 kassu meninggal juga 0.

"Kalau jumlah di bulan Agustus 2020 ini saja dari Kota Jambi 11 kasus, Batanghari 2 kasus, Muaro Jambi 2 kasus, Tanjung Jabung Barat 14 kasus, Tanjung Jabung Timur 2 kasus, Bungo  1 kasus, Tebo 4 kasus, Sarolangun 0, Merangin 3 kasus, Kerinci dan Kota Sungai Penuh masing-masing 1 kasus," sampainya.

"Sementara untuk kabupaten yang tidak mengalami peningkatan kasus DBD berdasarkan perbandingan jumlah kasus Januari-Agustus tahun 2020 dibanding periode yang sama tahun 2019, yaitu Tanjung Jabung Timur, Bungo, dan Merangin," sambung Eva.

Kendati demikian, pihaknya terus berupaya menekan peningkatan kasus DBD dimasa pandemi ini, terlebih sebentar lagi akan kembali memasuki musim penghujan yang kerap kali sebagai pemicu berkembangnya jentik nyamuk.

"Langkah kita dalam menanggapi kasus DBD tetap melakukan upaya penanggulangan kasus dengan melakukan Penyelidikan Epidemiologi, mengintensifkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik melalui PSN 3M Plus baik di tatanan rumah tangga, institusi dan tempat-tempat fasilitas umum lainnya untuk pengendalian jentik Aedes, serta tindakan Fogging Fokus untuk pemutusan rantai penularan oleh nyamuk dewasa Aedes. Dan tentunya semua tindakan tetap mematuhi protokol pencegahan penularan Covid-19," terangnya.

Karena Penyakit DBD ini merupakan penyakit berbasis lingkungan yang multifaktor maka Eva berharap dalam penanganannya juga harus melibatkan multisektor, semua komponen masyarakat pada tatanan rumah tangga, institusi dan tempat-tempat umum bergerak melakukan PSN 3M Plus rutin setiap minggu secara berkesinambungan (ada ataupun tidak ada kasus).

"Semua kita bertanggungjawab memberantas jentik nyamuk Aedes penular DBD lebih efektif dan efisien daripada memberantas nyamuk dewasanya. Jangan bilang peduli DBD kalau tidak melakukan pemberantasan jentik nyamuk di rumah tangga, di institusi (kantor dan sekolah-sekolah) serta tempat-tempat umum (tempat ibadah, terminal, tempat pariwisata, dan lainnya)," tandasnya.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments