Sabtu, 28 November 2020

Tutur


Kamis, 17 September 2020 | 21:28:21 WIB


/

 Oleh: Musri Nauli *)

SEBAGAI bagian dari masyarakat adat Melayu Jambi, cara bertutur, bersikap sekaligus menempatkan diri adalah ciri dan budaya adiluhung.

Menempatkan pemimpin sering disampaikan di dalam Seloko seperti “kayu gedang di tengah dusun. Pohonnya rimbun. Akarnyo tempat duduk besilo”.

Sedangkan para guru sering ditempat bak “obor di tengah malam. Tempat pegi betanyo. Tempat pegi bercerito”.

Orang tua sering disebutkan di dalam seloko “kenyang makan asam garam”. Sehingga anak muda sering merendahkan diri dengan seloko “ilmu belum seciap ayam. Belum seumur jagung”.

Sedangkan menggambarkan kecantikan perempuan disematkan di dalam seloko

Bak bidadari turun dari surgo
Mukonya bak bulan penuh
Pipih bagai pauh dilayang
Alis mata bak semut beriring
Bibir tipis bak jeruk diiris
Katup mulut bak delima merekah
Rambut hitam bergelombang
Betisnya bagai jelipung tumbuh
Tumitnya bagai dusun tunggal
Hidungnya mancung bak bungkal bawang merah
Kulitnya kuning langsat
Pinggangnya ramping bak biola cino

Atau ada juga menyebutkan “Alisnya bak semut beriring, hidungnya bak dasun tunggal, rambutnya bagai mayang terurai, pipinya bak pauh dilayang, kukunya bak kiliran taji, bibirnya bak delima merekah, dan suaranya merdu bagai buluh perindu.”

Sedangkan penempatan Semendo sering disebutkan di dalam seloko “orang semendo duduk dekat Rajo”.

Begitu agung dan penghormatan terhadap setiap struktur sosial ditengah masyarakat Melayu Jambi menyebabkan berbagai peristiwa kehidupan menjadi indah. Kaya dengan tutur dan tinggi penggunaan kata.

Pemilihan kata, istilah kata yang tidak jauh berasal dari alam sekitarnya menyebabkan “alam takambang jadi guru”. Alam-lah sumber inspirasi. Alam adalah ilmu pengetahuan empirik. Alam adalah guru yang mengajarkan manusia.

Dalam alam kosmpolitan, cara pandang alam ini juga dikenal didalam masyarakat Jawa. Istilah “Jagad gedhe” dan “jagad alit”. Jagat gedhe diterjemahkan sebagai alam makrokosmos. Sedangkan jagad alit adalah mikrokosmos.

Cara memandang “jagad gedhe” kemudian dikenal “keblat papat lima pancer. Selain menunjukkan empat arah mata angin maka dikenal pusat (pancer).

Cara bertutur dalam masyarakat Melayu Jambi ditandai dengan berbagai peristiwa adat. Entah itu “ulur antar (lamaran), kenduri sko, penyelesaian sengketa adat, upacara adat seperti penganugrahan gelar kepada pemangku adat.

Dalam acara-acara seperti itulah maka kemudian berbagai unsur struktur sosial saling mengeluarkan selokonya.

Pentingya memahami tutur ditandai dengan cara menempatkan diri. Sebagai “pemimpin” yang ditempatkan “negeri sekato rajo. Batin sekato negeri” melambangkan pemimpin yang dipercaya masyarakat merupakan orang dihormati.

Entah pengaruh “tuah” dari kepemimpinan keluarga besarnya yang kemudian dikenal sebagai “pemimpin.

Sedangkan para guru, orang pintar, bijaksana, orang tua sering ditempatkan sebagai “tuah guru”. Yang ditandai dengan “cerdik pandai. Alam ulama, tuo tengganai. Ninik mamak”. Begitu juga kelompok petani, pedagang ditempatkan sebagai “tuah pedagang”.

Cara pandang masyarakat menempatkan “tuah” dapat dibaca dalam struktur masyarakat Jawa. Dipengaruhi agama Hindu, dikenal “tuah” Brahmana atau “Pandita”. “Pandita” sering disebut juga “pinisepuh”.

Padannya adalah “cerdik pandai. Alam ulama, tuo tengganai. Ninik mamak”.

Sedangkan “ksatria” sering ditempatkan sebagai pemimpin. Yang mengatur roda kehidupan sosial sehari-hari. Diluar itu dikenal “Waisya”.

Sehingga dalam bertutur dalam kehidupan sehari-hari, tidak dapat dipisahkan dari cara pandang alam kosmolitan terhadap penghormatan kepada “pemimpin (ksatria)”, “cerdik pandai. Alam ulama, tuo tengganai. Ninik mamak (Brahma/pandito/) dan “Waisya”.

Salah menempatkan diri dan “curang” dalam bertutur menyebabkan sang penutur kemudian menerima sanksi sosial. Dan tentu saja akan menerima “kualat” dari alam semesta.

Sebagaimana sering diujarkan didalam Seloko “tinggi tidak dikadah. Rendah tidak dikutung. Tengah-tengah dimakan kumbang”, “Plali”, “ingkar kepada negeri. Serah kepado Rajo”.

*) Advokat. Tinggal di Jambi


Penulis: Musri Nauli
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments