Sabtu, 16 Oktober 2021

Perjuangan Tenaga dan Orang Tua Peserta Didik Di Masa Pandemi

Rabu, 25 November 2020 | 14:59:40 WIB


/ istimewa

MUARABULIAN - Pandemi Covid-19 di Indonesia telah berjalan delapan bulan lamanya. Hal ini menimbulkan banyak dampak, termasuk ke dunia pendidikan.

Selama masa pandemi kegiatan belajar mengajar tatap muka di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi terpaksa dihentikan selama waktu yang tidak ditentukan. Hal tersebut dilakukan agar dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Bumi Serentak Bak Regam.

Dengan demikian, agar dunia pendidikan terus berjalan maka dari itu Pemerintah memberlakukan sekolah secara daring. Seperti halnya di beberapa seluruh PAUD, TK, SD dan SMP yang ada.

Perjuangan para tenaga didik, orang tua dan peserta didik pun menjadi sangat penting demi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar agar peserta didik tetap mendapatkan ilmu sesuai dengan jenjang sekolah masing- masing.

Kepala Sekolah SD 13/1 Muara Bulian, Dwiyanti Marlina mengatakan kegiatan belajar mengajar tatap muka sejak bulan Maret telah dihentikan hingga saat ini. Upaya yang diterapkan sesuai dengan petunjuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Batanghari adalah memberlakukan sekolah daring (dalam jaringan).

"Kita berlakukan sekolah daring dan luring. Melalui group whatsapp yang telah dibuat oleh masing- masing guru kelas. Jadi mereka memberikan tugas melalui group tersebut," ujarnya, Rabu (25/11/2020).

Dikatakan Dwiyanti, saat ini pun diberlakukan piket 5 orang guru setiap harinya. "Karena jumlah guru yang ada sebanyak 30 orang dan kita bagi setiap hari. Jadi ada 5 orang guru yang piket per hari," ujarnya.

Sementara itu, Dian Christina Sitorus, S. Pd. Wali Kelas 4 A mengatakan semasa sekolah daring dirinya kesulitan untuk menilai sikap siswa dimana tak dapat bertemu langsung.

"Kita mengajar melalui daring, tidak bisa menilai sikap siswa secara langsung," ujarnya.

Dilanjutkan Dian, bahwa semasa pandemi ini ia selalu memberikan tugas dan mengajar melalui video pendek atau vidcon.

"Tugas tiap harinya satu tugas. Kemudian memberikan paparan materi melalui video pendek. Tugas yang diberikan dari hari senin hingga sabtu akan dikumpulkan dihari Sabtu setiap minggunya," lanjutnya.

Sementara itu salah satu orang tua murid yang bersekolah di SD 13/1 Muara Bulian, Desi mengatakan prihatin terhadap anaknya yang masih duduk di kelas I karena apa? Anaknya enggan membuat tugas atau pun belajar.

"Kalau absen mau, tapi diminta belajar tidak pernah mau. Dan sama sekali tidak pernah membuat tugas. Saya juga jadi khawatir bagaimana perkembangan ilmu yang didapat semasa pandemi ini. Tapi jika di sekolah dengan guru, dia mau belajar," katanya.

Desi pun berharap, agar kedepannya sekolah tatap muka kembali dilaksanakan mengingat hal yang dialaminya.

"Mudah- mudahan secepatnya kegiatan belajar mengajar di sekolah kembali dilakukan. Apa lagi anak saya yang SD bukan hanya satu tapi ada 3. Yang tidak mau daring ini anak yang bungsu," katanya.

Hal senada turut disampaikan oleh Lia Anggraini, ia mengeluh dengan kondisi sekolah daring saat ini, sebab itu mengurangi tingkat kedisiplinan anak.

"Kalau sekolah anak sangat disiplin, mau mengikuti aturan sekolah, seperti bangun lebih awal, nah, jika tidak kesekolah bangunnya siang, mandi pagi tidak mau," keluhnya.

Lia berharap agar sekolah tatap muka kembali berlangsung seperti sedia kala agar peserta didik dapat mengikuti kegiatan seperti biasa.

"Mudah- mudahan pandemi berlalu, agar anak kembali ke sekolah lagi," demikian Lia.


Penulis: chy
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments