Minggu, 17 Januari 2021

Apa Ada Pemimpin “Kampungan” (?)


Selasa, 01 Desember 2020 | 16:42:22 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / istimewa

Oleh: Amri Ikhsan *)

DAERAH yang akan melaksanakan Pilkada tahun 2020 adalah 4 kabupaten: Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Batanghari, dan Bungo, serta 1 kota yakni Kota Sungai Penuh serta pemilihan gubernur Jambi. (jambiprov.go.id)

Siapa yang paling layak memimpin daerah daerah itu. Selain harus dilihat kapasitasnya, seorang pemimpin harus membumikan dirinya dengan nilai-nilai. Juga harus jelas siapa dan dari mana ia berasal. Harus terang benderang bagaimana bobot, bibit, bebetnya. Pemimpin tidak diutus dari negeri antah berantah, tidak juga lahir dari keseringan muncul di TV, media cetak atau medsos, berkunjung kesana kemari, nyumbang kesana kemari menjelang Pilkada. Tapi, ia tumbuh, dipahat dan diukir oleh alam. Pemimpin dilahirkan, bukan diciptakan.

Setiap masa ada pemimpin. Pemimpin itu tidak tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Pendidikan pemimpin handal yang dilahirkan membutuhkan waktu bertahun tahun. Kepemimpinan kuat menentukan dan menciptakan gaya kepemimpinannya sendiri secara kontekstual dan alamiah.

Dan pemimpin bukan hanya ‘mengasuh manusia’. Lebih dari itu, ia mengatur setiap sendi kehidupan. Dari tarikan nafas sampai urusan kuburan. Dari pucuk-pucuk daun yang mulai tumbuh, sampai daun mati yang berjatuhan dari pohonnya. Dari mulai urusan kesejahteraan fisik manusia sampai kesejahteraan rohaninya. Ia menjadi software yang memudahkan segala macam denyut kehidupan.

Waktunya sekarang kita ‘coba’ pemimpin ‘kampungan’. Walaupun istilah ini kedengaran kuno. Memang kalau kita buka KBBI, pengertiannya memang ‘tidak enak’: terbelakang, culun, dan jauh dari peradaban yang maju. Tapi konteksnya adalah pemimpin ‘rasa’ kampung, yakni melakukan kebiasaan kampung.

Maka seperti kebiasaan orang kampung itu hidup sederhana, saling membantu walaupun tanpa diminta, makanan masih alami hasil tanaman sendiri, akrab kekeluargaan, semua dianggap keluarga, mengenal semua orang yang ada di kampung, tanggap bila ada musibah, sering kumpul-kumpul, dan lain-lain.

Boleh jadi ia tidak hebat bicara dengan bahasa asing, tidak mengerti istilah-istilah asing, hanya punya HP cepek, kerjanya mungkin ke kebun atau ke sawah, tapi ia punya pandangan dan bakat sendiri yang lahir dari proses panjang. Ia bukan pemimpin instan yang begitu saja datang, tetapi sudah terbentuk oleh kesadarannya sebagai orang kampung yang terpanggil bukan ‘dipanggil’.

Banyak pemimpin berasal dari kampung, mereka muncul dengan kelebihan dan kekurangan. Kelebihan orang kampung: a) hubungan antar individu bersifat kekeluargaan; b) sistem kepemimpinan informal; c) religius magis artinya sangat baik menjaga lingkungan dan menjaga jarak dengan penciptanya, melaksanakan ritus pada masa- masa yang dianggap penting misalnya saat kelahiran, khitanan, kematian dan syukuran pada masa panen, bersih desa; d) rasa solidaritas dan gotong royong tinggi; e) kontrol sosial antara warga kuat; f) patuh terhadap nilai-nilai dan norma yang berlaku di desanya (tradisi). (Akhmad, 2015).

Sedang yang menonjol pada masyarakat kota: 1) kehidupan keagamaan berkurang; 2) orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain; 3) di kota-kota kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan, karena perbedaan politik dan agama dsb; 4) interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan pribadi daripada kepentingan umum; 5) hubungan antar individu bersifat formal dan interaksi antar warga berdasarkan kepentingan. (Akhmad, 2015).

Pemimpin kampungan adalah sosok yang ‘tidak banyak kehendak’, hidup apa adanya. Tidak ada tuntutan untuk memiliki HP canggih, rumah megah, mobil mewah, baju ‘branded’, bergaya modis, ‘berbedak tebal’, makan ditempat terkenal. Yang penting adalah hidup tenang, nyaman dan bisa membantu sesama.

Gaya pemimpin kampungan dengan pemimpin yang lain tidak sama. Pemimpin kampungan yang dilahirkan tidak harus alumni Pendidikan Tinggi (PT) dengan deretan gelar. Bukan berarti anti pendidikan. PT mereka adalah alam, mereka belajar dengan alam. Mereka mungkin tidak kenal gaya kepemimpinan otokratis, militeristis, paternalistis, kharismatis, Laissez Faire, demokratis. Tetapi mereka bisa menyelesaikan segala permasalahan secara demokratis, yang menyenangkan semua pihak.

Pemimpin kampungan memiliki prinsip yang kuat. Tindakan dan keputusan untuk banyak orang. Ia jarang memikirkan kekayaan bagi diri dan keluarganya. Kebanggaannya adalah membahagiakan masyarakat. Itulah kepuasan bathinnya. Pemimpin kampungan selalu unik, segala tindak-tanduknya alami dan kerap mencengangkan masyarakat. 'Agak aneh memang', lain daripada yang lain. Tetapi mereka dicintai rakyat umat yang dipimpinnya.

Sedangkan pemimpin yang diciptakan merupakan sosok hasil pembentukan di lembaga tertentu, karena faktor ‘seseorang’, karena faktor ‘gizi’. Pemimpin tipe ini mudah rapuh. Pengetahuan dan keterampilan tidak cukup kuat untuk menjadikan pemimpin yang sejati. Ia gampang goyah karena tidak memiliki prinsip dan ideologis yang tangguh.

Sebagian pemimpin tipe ini lebih banyak mencoba-coba. Mereka mencoba karena adanya peluang dan jabatan politik tertentu sehingga memungkinkan mereka menjadi pemimpin. Proses menjadi pemimpin pun lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan 'bargaining' bukan kualitas kepemimpinannya. (Kompas)

Pemimpin ‘lain’ tidak berarti tidak mampu memimpin. Mereka mampu memimpin, kecuali jika memperkuat prinsip yang kuat terutama perjuangannya untuk kepentingan publik. Bukan kepentingan diri, kelompok, dan tim suksesnya.

Akhirnya, kepemimpinan kampungan memiliki karakteristik yang mirip sifat nabi: 1) shidiq (jujur). mengedepankan integritas moral (akhlak), satunya kata dan perbuatan; 2) amanah, bertanggungjawab dari hati, dipercaya oleh kawan dan lawan politik, dapat diandalkan, keberadaannya menggembirakan; 3) tabligh, ‘ngomongnya’ enak, selalu memberi solusi, bicaranya kontekstual; 4) fathanah (cerdas), mencerdaskan.

Pemimpin kampungan bersifat natural, sedang pemimpin yang lain bersifat cenderung tekstual. Apa ada pemimpin seperti ini?

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments