Minggu, 17 Januari 2021

Menyentuh Sains dengan Bahagia Bersama LiSa (Literasi Sains) di SMA Negeri 1 Kerinci


Sabtu, 26 Desember 2020 | 15:14:23 WIB


/

 Oleh: Nelly Afrianti *)

SAINS yang biasa dikenal dengan Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diperoleh dalam pendidikan, mulai dari pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tingkat atas. Bahkan sejak pendidikan anak usia dini pun sains juga sudah mulai diperkenalkan.

Berbicara masalah sains tidak lepas dari konteks dan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai fenomena alam yang terjadi pun juga tidak terlepas dari kata sains.

Namun tidaklah mudah untuk menyajikan pembelajaran sains. Di tingkat PAUD, pembelajara sains harus dikemas sedemikian rupa agar menarik dan mudah difahami.

Pembelajaran sains dapat dikemas menjadi sebuah dongeng, permainan, gerak dan lagu ataupun praktik yang sangat sederhana yang dapat dilakukan di rumah. Sama halnya di tingkat sekolah dasar, pembelajaran sains juga harus dikemas sedemikian rupa secara bertema dan saling barkaitan dengan mata pelajaran lainnya.

Di tingkat menengah, pembelajaran sains sudah menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri yang dikenal dengan IPA terpadu. Dalam mata pelajaran IPA terpadu ini pembahasan sains sudah mulai diarahkan sesuai kontennya. Ada konten yang membahas tentang makhluk hidup dan konten yang membahas tentang benda tak hidup.

Barulah di tingkat sekolah menengah atas pembelajaran sains disajikan secara lebih khusus sesuai dengan kontennya. Sains yang mempelajari semua tentang makhluk hidup disajikan pada mata pelajaran Biologi, sedangkan sains yang membahas tentang benda tak hidup disajikan pada mata pelajaran Fisika dan Kimia.

Biologi atau ilmu hayat merupakan sains yang mengkaji tentang kehidupan dan organisme hidup, termasuk struktur, fungsi, pertumbuhan, evolusi, persebaran, dan taksonominya. Dalam pelajaran Fisika, sains atau ilmu alam yang mempelajari tentang materi beserta gerak dan perilakunya dalam lingkup ruang dan waktu, bersamaan dengan konsep yang berkaitan seperti energi dan gaya. Sedangkan Kimia merupakan cabang dari ilmu fisik yang mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, dan perubahan materi.

Ketiga cabang sains ini dipelajari secara lebih mendalam di tingkat sekolah menengah atas sesuai dengan standar isi pada kurikulum 2013 (revisi), yang dilengkapi dengan kompetensi dasar masing-masing mata pelajarannya.

Dalam perkembangannya, pembelajaran sains sering dianggap sebagai mata pelajaran yang menjadi “momok” menakutkan bagi sebagian peserta didik. Padahal, tidaklah demikian adanya jika pembelajaran sains disajikan dengan menarik. 

Untuk menyajikan pembelajaran sains yang menarik dibutuhkan kreatifitas dan kepiawaian pendidik sains dalam merancang media dan menyajikan pembelajarannya. Trik-trik sederhana namun penuh sensasi sains juga dapat mengangkat literasi sains menjadi sebuah alternatif untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap ilmu sains.

Seperti yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) IPA baru-baru ini, dengan meluncurkan program Mobil Semua Pintar Sains (Modis Pisan) yang bekerja sama dengan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) di setiap provinsi, dengan melibatkan perwakilan pendidik sains dari seluruh Indonesia. Program ini merupakan salah satu program yang perlu kita besarkan bersama karena program ini sangat membantu para pendidik untuk mengembangkan literasi sains secara sederhana dan menyenangkan.

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada hari Kamis tanggal 17 Desember 2020, SMA Negeri 1 Kerinci telah menggelar kegiatan demo sains sebagai bentuk implementasi dari program Modis Pisan ini. Sebagai perwakilan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Provinsi Jambi yang diberikan kesempatan untuk ikut andil dalam program ini, SMA Negeri 1 Kerinci bekerjasama dengan LPMP Provinsi Jambi dan PPPPTK IPA Bandung sukses melaksanakan kegiatan Demo sains yang bertemakan “Sehari Bersama LiSa (Literasi Sains)”.

Pada kegiatan ini ditampilkan literasi sains tradisional yang dimiliki oleh suatu komunitas budaya tentang tumbuh-tumbuhan obat yang ada di sekitar kita (etnosains), dan juga percobaan sederhana tentang konsep gerak sentripetal dengan menggunakan alat dan bahan yang ada di sekitar yang mudah didapatkan.

Konsep etnosains ini sangat menarik dan dapat membuka wawasan sains peserta didik tentang manfaat tumbuhan di sekitar sebagai obat tradisional. Kajiannya dapat dikembangkan dalam bentuk artikel yang memuat data-data penunjang tentang kandungan kimia dari tumbuhan tersebut serta senyawa aktif yang berperan dalam fungsinya sebagai bahan obat-obatan.

Hal ini juga menegaskan bahwa penggunaan obat-obat tradisional alami jauh lebih aman penggunaannya dibandingkan dengan penggunaan obat-obat kimia. Begitupun percobaan gerak sentripetal yang dilakukan dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar dan bahkan dapat menggunakan benda bekas kiranya mampu membuka wawasan peserta didik bahwa sains itu mudah dan menyenangkan.

Memperkenalkan sains tidak selalu harus menggunakan peralatan/kit laboratorium yang canggih serta bahan-bahan yang sulit didapat. Dengan kreatifitas dan inovasi kita dapat memperkenalkan sains dengan mudah dan menyenangkan.


*) Guru SMA Negeri 1 Kerinci


Penulis: Nelly Afrianti
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments