Sabtu, 6 Maret 2021

Mitos-mitos Tentang ASI


Rabu, 16 Desember 2020 | 20:43:55 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Hello Sehat

 AIR Susu Ibu (ASI) adalah cairan yang diciptakan khusus yang keluar langsung dari payudara seorang ibu untuk bayi. Air susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang utama dan paling sempurna bagi bayi terutama bayi berusia kurang dari 6 bulan.

ASI mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan bayi untuk proses pertumbuhan dan perkembanganya. ASI yang diberikan kepada bayi harus optimal untuk proses pertumbuhanya (Sari et al, 2017). Air Susu Ibu (ASI) sebagai makanan ideal untuk bayi yang kandungan gizinya sesuai dengan usia, faktor imunologis dan substansi anti bakteri (Fatmawati et al, 2019). 

Saat ini mitos-mitos terkait ASI banyak beredar di kalangan masyarakat sehingga mempengaruhi pengetahuan ibu. Ada mitos yang tidak diketahui kebenarannya dan hal tersebut diterapkan bagi ibu menyusui.

Mitos yang pertama, ibu hamil dan menyusui beranggapan bahwa ASI yang berwarna kuning basi dan harus dibuang. Faktanya, berdasarkan penelitian Nur dan Nurjannah (2017), ASI yang berwarna kuning adalah kolostrum.

Kolostrum merupakan ASI pertama yang diproduksi pada hari pertama dan sampai hari ketiga setelah bayi lahir. Kolostrum seringkali berwarna keruh, kuning ataupun jernih yang mengandung sel hidup yang menyerupai ”sel darah putih” yang dapat membunuh kuman penyakit sehingga mampu melindungi tubuh bayi dari berbagai penyakit infeksi dan meningkatkan daya tahan tubuh bayi.

Mitos yang kedua, ASI yang encer dan jernih tidak bergizi. Hal tersebut tidak benar, karena ASI memiliki dua karakteristik, yaitu foremilk dan hindmilk.

Menurut penelitian Tiyas dan Murti (2016), Foremilk merupakan ASI yang pertama kali keluar saat menyusui biasanya menit pertama hingga 3-5 menit yang mengandung laktosa yang tinggi dan protein serta lemak yang rendah. Faktanya, foremilk merupakan ASI yang encer dan jernih.

Foremilk membantu memuaskan dahaga pada bayi dan merangsang energi serta perkembangan otak. Hindmilk merupakan ASI yang berbentuk krim dengan kandungan lemak yang tinggi disimpan dalam sel susu dan berfungsi untuk memacu pertumbuhan bayi termasuk otak. Sehingga dapat dikatakan bahwa ASI yang encer dan jernih merupakan ASI yang baik untuk dikonsumsi.

Mitos yang ketiga, ibu dengan ukuran payudara yang kecil tidak bisa memproduksi ASI yang cukup untuk bayinya. Faktanya berdasarkan penelitian Falikhah (2014), ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan produksi.

Apapun ukuran payudara ibu, ASI akan selalu cukup untuk bayi jika ibunya rajin menyusui atau memerah dan selalu berfikir positif. Besar atau kecil payudara pada dasarnya tergantung dari jaringan lemak di dalam payudara.

Mitos yang keempat, bayi laki-laki menyusui lebih banyak dibanding bayi perempuan, sehingga ibu lebih memilih memberikan susu formula kepada bayinya. Faktanya, berdasarkan penelitian Dewi (2019), daya hisap bayi akan merangsang kelenjar hipotalamus untuk memproduksi hormone oksitasin dan hormone prolactin.

Semakin sering dan semakin kuat bayi menghisap maka akan semakin banyak ASI yang di produksi. Dan menurut penelitian Li dkk (2010), semakin sering disusui membuat kualitas ASI meningkat sehingga bayi mendapatkan asupan yang cukup selama 6 bulan pertama.

Mitos yang kelima, semakin sering ibu menyusui akan membuat stok ASI menurun. Faktanya menurut penelitian Juarni (2014), semakin sering ibu menyusui maka produksi ASI akan menyesuaikan kebutuhan si bayi.

Jika frekuensi ibu menyusui kurang, justru akan membuat ASI tersebut keluar tidak lancer. Berdasarkan penelitian Meilirianta dkk (2014), Pertumbuhan bayi sangat di pengaruhi oleh pengeluaran ASI, sebab jika bayi mengalami kekurangan ASI bayi akan mengalami berat bayi lahir rendah (BBLR), penyakit kronik/akut, dan lain-lain.

Mitos yang keenam, potensi daun pepaya (Carica Papaya L.) sebagai alternatif memperlancar produksi ASI. Ibu menyusui membutukan asupan tambahan untuk meningkatkan produksi menyusui, dengan mengonsumsi galactogogues. Contoh galactogogues bisa mudah kita temui adalah pada daun pepaya.

Faktanya, berdasarkan penelitian Suprapti (2005), daun Pepaya adalah salah satu galactogogues yang mengandung quercetin yang dapat mengaktifkan hormon prolaktin, Salah satu manfaat yang bisa dirasakan oleh ibu yang sedang menyusui dari mengonsumsi daun pepaya yaitu dapat melancarkan ASI.

Menurut Haryono (2014), daun pepaya juga mengandung Vitamin dan kalium. Untuk dapat meningkatkan ASI, daun papaya banyak diolah  menjadi jamu ataupun  jus dari daun pepaya ini. Sehingga daun pepaya merupakan salah satu alternatif sumber pangan selain daun katuk yang dapat memperlancar produksi ASI.

Jadi, tidak semua mitos tentang ASI itu benar, hanya ada beberapa mitos yang masih sesuai dengan faktanya. Seperti mitos yang keenam yaitu daun papaya (Carica Papaya L.) memang benar sebagai alternative untuk memperlancar produksi ASI.

Oleh karena itu, semua mitos tentunya harus dipastikan dulu kebenarannya berdasarkan penelitian yang sudah ada, agar kita tidak selalu percaya terhadap mitos-mitos yang sudah beredar, sehingga nantinya kita tidak salah dalam memahami dan menerapkan mitos-mitos tersebut.


Penulis: Kelompok Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim Jambi (Tiara Andhiny, Yolanda Ns, Riska Safitri, Serlhy Nur A, Nora Amelia P, Mardiana)


Penulis:
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments