Kamis, 6 Mei 2021

Penerus Warisan Budaya Turun Mandi Ka Aek Terima SK Penetapan WBTB


Rabu, 06 Januari 2021 | 15:09:50 WIB


/ istimewa

JAMBI - Pemerintah Kabupaten Tebo menerima Surat Keputusan (SK) penetapan dan sertifikat warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia berupa karya budaya turun mandi ka aek yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI oleh Gubernur Jambi.

Penyerahan ini dilakukan saat rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi dalam rangka HUT Jambi ke-64, Rabu (6/01/2021), yang diterima oleh Bupati Tebo Sukandar sebagai kepala daerah dan kepada pemilik kebudayaan/pewaris/penerus warisan yakni Novpriadi dari lembaga adat Kelurahan Sungai Bengkal.

Novpriadi menyampaikan ucapan terimakasihnya atas bantuan semua pihak terutama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Pemerintah Daerah Kabupaten Tebo, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Tebo.

"Alhamdulillah Bersyukur kita Kepada Allah SWT. Melalui Sidang Penetapan WBTB Indonesia 2020 telah menetapkan tradisi mandi ka aek masyarakat Kelurahan Sungai Bengkal menjadi Salah satu WBTB Indonesia. Terimakasih juga kepada Nyai Aminah yang senantiasa gigih mempertahankan tradisi lama ini," ujarnya.

Cucu dari Nyai Aminah ini berharap agar tradisi mandi ka aek masyarakat Kelurahan Sungai Bengkal tetap lestari atau tetap dipertahankan, karena ini merupakan salah satu kearifan lokal. "Kami juga berharap PETI dapat diberantas agar tradisi ini bisa dilakukan sesuai ECO pakai yang sebenarnya yaitu mandi di sungai Batanghari," sampai Novpriadi.

Kegiatan ini rutin dilakukan oleh Kemendikbud RI setiap tahunnya. Dimana tahun 2020 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi telah mengusulkan 7 kegiatan tradisi masyarakat Provinsi Jambi.
 
"Dari 7 usulan tahap satu yang mewakili Provinsi Jambi tersebut, hanya 2 usulan  yang lolos, yakni Tradisi Mandi Ka Aek Masyarakat Kelurahan Sungai Bengkal, Kecamatan Tebo Ilir Kabupaten Tebo. Dan yang kedua Dadung Dari Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari. Sementara 5 usulan lainnya di tunda," jelas Novpriadi.

Untuk diketahui, tradisi Mandi ka aek dilakukan pada saat usia bayi 7 hari atau setelah lepasnya tali pusat sang Bayi. Tradisi ini juga dikenal dengan istilah nyebur yang telah ada turun temurun  dilakukan masyarakat Kelurahan Sungai Bengkal, Kecamatan Tebo Ilir dari Zaman dahulu.

Bayi di gendong oleh seorang dukun yang telah membantu proses kelahiran sang bayi, dengan menggunakan Kain Panjang menuju sungai Batanghari lengkap dengan arak dan iringan keluarga besar dari pihak ayah dan ibu.

Mengawali perjalanan bayi dan sang dukun pada barisan terdepan dibawa Tunam sesuatu yang dibungkus oleh kain hitam yang berisi Sabut tebenam, ijuk tebenam, mancung kelapo dan tulang tebenam serta kemenyan. Tunam ini dibakar agar mengepul asapnya sebagai pembuka jalan.

Sesampainya di sungai juga telah disiapkan Baskom yang berisi air dengan campuran kembang 7 Rupa, paku, besi, batu, sirih masak, kencur, jeringau dan Bunglai.

Sebelum bayi diturunkan ke air sungai Batanghari maka sang dukun membaca mantra mudik Aek Ilir Aek. Yaitu "Ambek Aek pepat an Batang, Beranjak kau antu Aek, Aku nan Mandian anak cucu Adam".

Secara berurutan dimandikan dengan air sungai, lalu air Kembang terakhir ditiupkan kencur jeringau. Lalu bayi dipakaikan handuk dan berpakaian hingga kembali dibawa kedalam rumah untuk selanjutnya diayun kain panjang tiga lembar, dibentangkan pada ujung kiri dan kanan dipegang oleh perwakilan keluarga. Kemudian bayi diayun dan dikelilingi asap Tunam dibacakan salawat nabi dan doa-doa keselamatan. Terakhir, arang hitam tunam digosokkan ke dahi bayi.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments