Minggu, 17 Januari 2021

Komunikasi Vaksin dengan Pendekatan Pragmatik


Senin, 11 Januari 2021 | 16:51:38 WIB


/

Oleh: Amri Ikhsan

“No one is safe until everyone is safe” (Dr.Tedros Adhanom Ghebreyesus)

PRESIDEN Jokowi menilai, komunikasi publik terkait dengan vaksin corona harus betul-betul diperhatikan. Dijelaskan secara komprehensif ke publik soal manfaat vaksin dan peta jalan vaksinasi. Sehingga tak terjadi disinformasi dan penyebaran berita hoaks dari berbagai platform di media yang ada. (Kumparan)

LaporCovid19.org melakukan survei persepsi warga yang dirilis Oktober 2020 menunjukkan hanya 31% warga yang bersedia menerima vaksin Sinovac-Biofarma dan 44% warga bersedia menerima vaksin Merah Putih yang dirintis Eijkman. (Independen)

Hasil ini menunjukkan rendahnya kepercayaan masyarakat pada upaya pengadaan vaksin yang dilakukan pemerintah. Ketidakpercayaan ini perlu direspon pemerintah dengan membangun komunikasi yang terbuka soal vaksin Covid-19.

Strategi komunikasi pemerintah soal vaksinasi harus mampu menjangkau ruang ruang media sosial sampai Whatsapp grup warga. Dalam beberapa pekan terakhir ini, kita melihat mulai marak kabar simpang siur soal vaksin dan vaksinasi. Pertama, pemilihan vaksin. Informasi di publik yang beredar adalah vaksin untuk Indonesia hanya dari Sinovac. Ini jelas menyesatkan. karena Kementerian Kesehatan juga memasukkan lima merek vaksin, seperti AstraZeneca, Pfizer, dll.

Kedua, karena vaksin dari Cina maka dianggap tidak manjur atau tidak semanjur vaksin yang digunakan di Amerika Serikat atau Inggris. Padahal, menurut WHO, keampuhan vaksin amat bervariasi, mengacu pada berbagai variabel relawan dan pagebluk di negara masing-masing.

Ketiga, beredar di media sosial, berita soal orang yang usai disuntik vaksin pingsan atau masuk rumah sakit karena memicu reaksi alergi lainnya. Melihat efek vaksinasi yang tidak jelas sumbernya itu bisa mengubah persepsi warga akan amannya vaksinasi Covid-19. (Republika)

Berita medsos soal kegagalan vaksin di mancanegara kadang kadang mengerus kepercayaan publika. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sikap ragu-ragu terhadap keampuhan vaksin menjadi salah satu dar1 10 ancaman terbesar terhadap kesehatan global untuk tahun ini.

Kalau ingin program vaksinasi ini diterima dengan baik di masyarakat, idealnya pemerintah harus berkomunikasi dengan pendekatan pragmatik. Pragmatik itu mengkaji makna pembicara, makna menurut konteksnya, kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. (Yule)

Pendekatan pragmatik berdasar pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang melibatkan berbagai aspek di luar bahasa yang mampu memberikan makna. Pendekatan ini menggunakan dua konteks: konteks sosial, sebuah pesan akan lebih cepat dicerna publik bila disampaikan dalam bentuk interaksi antar anggota masyarakat dalam komunitas sosial dan budaya mereka. Ada percakapan, dialog yang bukan menggurui apalagi memaksa.

Dan konteks sosietal, tokoh masyarakat, alim ulama, kaum cerdik pandai, institusi social keagamaan dengan penampilan alami (tidak dalam situasi formal, memakai baju ‘dinas’, dengan pidato berapi api) harus mengambil peran dengan melakukan ‘percakapan informal’ untuk menyakinkan publik.

Pendekatan pragmatik berprinsip, katakan secukupnya, jangan berlebihan, jujur, relevan sehingga publik dapat memproses dan mempercayai segala informasi yang disajikan dengan mudah, lugas, luwes dan jelas, sehingga program vaksinasi bisa diterima secara terbuka oleh publik.

Pendekatan pragmatik menggunakan model komunikasi kajian lintas budaya (cross culture), dengan mempertimbangkan cara berfikir, pola hidup, etos kerja, serta kepercayaan yang di anut, kebutuhan masyarakat, menggunakan diksi yang berbeda untuk budaya yang berbeda, sehingga tujuan komunikasi dapat dicapai secara efektif dan menghindari kesalahfahaman. Pola komunikasi tidak boleh seragam untuk semua komunitas.

Pendekatan pragmatik menempatkan budaya dan komunikasi adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan seperti kata Edward T. Hall “Culture is communication and communication is culture”. Karena cara kita berkomunikasi sebagian besar dipengaruhi oleh kultur, orang-orang dari kultur yang berbeda akan berkomunikasi secara berbeda. Budaya turut menentukan bagaimana orang menyadari pesan, makna yang ia miliki untuk pesan dan kondisi untuk mengirim, memperhatikan, dan menafsirkan pesan. (Sihabuddin)

Pendekatan pragmatik menghindari pesan tidak jelas dan ambigu tapi menekankan bagaimana bahasa itu berterima (appropriateness). Proses komunikasi dapat terganggu dengan adanya kesalahan, sehingga pesan akhirnya disalahtafsirkan oleh penerima. Ketika gangguan tersebut tidak terdeteksi, hal ini dapat menimbulkan kebingungan, ketidakpercayaan. Oleh karena itu, pesan tidak boleh salah sedikitpun.

Pendekatan pragmatik melakukan komunikasi yang menguntungkan semua pihak, menguntungkan dalam artian sama-sama berbagi makna dan memahami makna secara bersama sehingga melakukan proses selanjutnya juga bersama dalam kesamaan makna atau dengan kata lain komunikasi efektif (Ingie Hovland).

Menguntungkan lebih merujuk pada mencontohkan, dia sendiri yang melakukan, merasakan. Bukan membuat contoh dari pihak lain, pihak lain yang berbuat dan merasakan. Apa lagi mencontoh contoh, membanding bandingkan dengan orang lain, padahal dia sendiri tidak berbuat apa-apa.

Pendekatan pragmatik tidak menuntut kesamaan gagasan, semua harus sependapat, semua harus seragam. Tapi, komunikasi menghasilkan ‘keenakan perasaan’. Tidak ada pihak yang merasa paling tahu, merasa paling kompeten. Keenakan perasaan apabila kedua belah pihak sama sama berniat untuk salin berbagi informasi.

Saling ‘mengenakkan’, kedua belah pihak sepakat untuk memulai, menghentikan, mempertahankan, memperbaiki, dan meluruskan kembali komunikasi dengan saling percaya, saling menghormati. Ini dilakukan untuk memfungsi bahasa secara utuh: bahasa untuk mengontrol perilaku orang lain, untuk menciptakan interaksi dengan orang lain, untuk mengungkapkan perasaan dan makna, untuk belajar dan menemukan makna, untuk menciptakan dunia imajinatif dan untuk menyampaikan informasi. (Halliday)

Pendekatan pragmatik mengutamakan kemampuan penguasaan terhadap kaidah-kaidah bahasa yang membuat orang itu mampu membedakan mana kalimat yang benar dan mana yang salah, menggunakan bahasa secara tepat sesuai dengan konteksnya, menggunakan bahasa sesuai dengan kondisi psikososial dan berusaha agar komunikasi berjalan dengan lancar atau komunikasi tidak macet. (Hymes)

Pendekatan pragmatik menyadari bahwa publik memiliki monocular vision (Fishman, 1976), berpandangan sempit, terkungkung oleh budaya dalam bahasa yang dikuasainya. Dia merasa pendapat, bahasa dan budaya dialah yang paling tepat, paling baik, paling benar. Kalau ketemu ‘manusia seperti ini’, bertanyalah, dengarlah, akuilah ‘kehebatan’ orang ini, baru kemudian berikan informasi valid. Jangan saling menyalahkan.

Komunikasi tentang vaksinasi adalah proses untuk saling menjaga perasaan, proses untuk ‘mengenakkan’ semua pihak, tapi vaksinasi bukan ikhtiar tunggal mencegah pandemi Covid-19. Tetap terapkan 3 M, berdoa dan bertawakkal!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments