Senin, 8 Maret 2021

Bupati Ancam Ambil Langkah Hukum Terhadap Kontraktor Proyek Arena Road Race

PUPR Bantah Asal-Asalan, Ngaku Sudah Libatkan IMI

Selasa, 12 Januari 2021 | 11:11:50 WIB


Bupati Tanjabbar, Safrial saat memberikan keterangan pers
Bupati Tanjabbar, Safrial saat memberikan keterangan pers / Metrojambi.com

KUALATUNGKAL - Kabar ketidakberesan pengerjaan proyek pembangunan arena road race Kualatungkal sampai juga ke telinga Bupati Tanjab Barat Safrial. Bupati mengancam akan mengambil langkah hukum bila temuan auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Jambi atas proyek bernilai sekitar Rp 14 miliar itu tidak digubris.

“Temuan (BPK) itu harus dikembalikan, dalam waktu 2x60 hari,” ujar Safrial kepada wartawan di Kualatungkal, seusai meresmikan sejumlah proyek, Senin (11/1/2021).

Awalnya, Safrial mengaku belum mendapat laporan soal temuan BPK atas proyek tersebut dengan nilai sekitar Rp 500 juta.

Namun, Bupati segera menyatakan akan memanggil pihak-pihak yang terkait temuan ini, seperti, Inspektorat dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tanjab Barat. “Nanti akan kita panggil,” jelasnya.

Menariknya, proyek road race ini pernah akan diresmikan pada Maret 2020. Namun, karena musibah pandemi Covid-19, peresmian ditunda hingga muncul masalah ini. Bahkan, undangan sudah disebar.

“(Pada 2020, red) akan kita resmikan, karena akan ada race-nya tapi keburu pandemi,” sebutnya.

Pada peresmian sejumlah proyek kemarin pun, proyek road race kembali tidak dimasukkan. Itu artinya, proyek ini masih jauh dari selesai.

Menurut Safrial, atas temuan BPK, ada waktu bagi para pihak untuk menindaklanjutinya, termasuk kontraktor. Bila sudah diberi waktu untuk menyelesaikan temuan itu tidak dipatuhi, tegasnya, maka pihaknya bisa membawa ke proses hukum.

"Harus ditindak hukum. Kalau dia (kontraktor) tidak kembalikan (dana yang menjadi temuan, red) ya hukum harus bermain,” jelasnya. “Biasanya kami menggunakan jaksa sebagai pengacara negara kalau tidak mau kita proses,” tegasnya. 

Seperti diberitakan, proyek arena balapan ini dibangunan sejak 2018. Tahap awal, Pemkab Tanjab Barat menganggarkan dana APBD sebesar Rp 2 miliar dengan nama Proyek Pembangunan Arena Mini Road Race Pelabuhan Ro Ro Kualatungkal.

Pada 2019, melalui proyek yang sama, dianggarkan lagi dana sebesar Rp 6 miliar. Tender proyek lanjutan ini dibuka pada April 2019 dengan dengan mensyaratkan peserta dari kualifikasi usaha kecil dan non kecil.

Melewati serangkaian tahapan, tender dimenangkan oleh PT  Dasal Jaya Bersama (DJB), kontraktor yang terdaftar dengan alamat Jalan Kapten Pierre Tendean Tungkal 3, Tungkal Ilir. PT DJB menang dengan penawaran terendah, yakni Rp 5,2 miliar, menyingkirkan belasan kontraktor lainnya.

Salah satu saingan PT DJB adalah PT Andalas Raya, yang menawar paling rendah, yakni Rp 4,7 miliar, tapi tersingkir. Berdasakan informasi dari website LPSE Tanjab Barat, kontrak kerja proyek ini ditandatangani oleh manajemen PT DJB pada  21 Mei 2019.

Masih belum selesai, pada pertengahan 2019 Pemkab Tanjab Barat kembali membuka tender proyek arena road race ini dengan anggaran Rp 6 miliar lagi. Hanya saja, nama proyek diubah menjadi Peningkatan Jalan Road Race Pelabuhan Ro Ro Kuala Tungkal.

Tender mulai dibuka pada 25 September 2019. Menariknya, syarat kualifikasi usaha diubah menjadi kecil, sehingga semua peserta tender adalah CV (perseroan komanditer), tidak ada PT (perseroan terbatas).

Pada Oktober 2019, tender ditutup dengan pemenang CV Sumber Abadi Sentosa (SAS), yang tercatat beralamat di Jalan Bahagia, Kualatungkal, dengan harga penawaran Rp 5,7 miliar. Belakangan, hasil kerja PT SAS menjadi catatan dalam laporan audit BPK 2020.

Ternyata, walau telah menelan dana sekitar Rp 14 miliar, proyek multiyears itu tidak layak dimanfaatkan. BPK memeriksa lokasi pada Februari 2020 dan menemukan kondisi fisik proyek yang mengecewakan.

Turut bersama auditor saat itu, sejumlah pejabat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tanjab Barat, seperti Pejabat Pembuat Komitmen/Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPK/PPTK), konsultan pengawas, dan kontraktor.

Metro Jambi yang melihat langsung lokasi proyek pada Minggu (10/1/2021) menemukan kondisi fisik proyek tersebut banyak yang hancur. Di atas aspal jalur racing itu tumbuh rumput, terutama di bagian yang tergenang air.

Di beberapa bagian lain tampak tumpukan tanah kuning sehingga arena balap itu licin dan sangat rawan bila dimanfaatkan. Tampak jelas pengaspalan seperti asal-asalan. Di beberapa titik bahkan aspal terlihat amblas. Kuat dugaan, pengaspalan dilakukan ketika timbunan tanah belum keras.

Selain soal fisik yang tidak beres, auditor BPK menemukan kekurangan volume pengerjaan senilai Rp 436,2 juta. Di antaranya karena kurangnya pelapisan jalan, terutama pada pondasi dan aspal. Bahkan, walau sudah dilakukan addendum tanpa mengubah kontrak yang berakhir pada November 2019, progress pekerjaan juga tidak selesai hingga 100 persen.

“Terdapat kekurangan volume pada pekerjaan sebesar Rp 436,2 juta, kekurangan volume atas pekerjaan yang belum dibayarkan sebesar Rp 53,9 juta dan denda keterlambatan pekerjaan yang belum dikenakan sebesar Rp 29 juta,” tulis BPK dalam laporan hasil audit yang didapat Metro Jambi.

Ditemui terpisah, Kabid Bina Marga Dinas PUPR Tanjabbar, Arif Sambudi menyatakan, pihak telah membayar kontraktor sesuai progress pekerjaan, yakni 85 persen. Diakuinya, pekerjaan dimulai pada April 2019, namun hingga 25 Desember belum selesai.

"Dibayarkan sesuai dengan pekerjaan yang ada,” atanya saat ditemui Metro Jambi di salah satu rumah makan di Kualatungkal, Senin (11/1/2021).

Dia menjelaskan, BPK menemukan potensi kerugian sekitar 436,720 juta. “Sebagian sudah dikembalikan oleh rekanan, secara bertahap,” ujarnya.

Dia juga mengakui, saat auditor turun pada awal 2020, pekerjaan dilaporkan sudah selesai 100 persen. Itu karena kontraktor menyelesaikan sisa 15 persen pada tahun berikutnya (2020). "Dikerjakan, tapi tidak dibayarkan," tegasnya.

Dia juga menyatakan tidak ada addendum untuk melanjutkan pekerjaan itu. “Pekerjaan (lanjutan) itu sepenuhnya inisatif rekanan,” ucapnya.

Pejabat yang pernah mengabdi di Dinas Perumahan dan Permukiman Tanjab Barat ini membeberkan, sisa pekerjaan 15 persen tersebut merupakan pengerjaan track lurus dari pintu masuk hingga ujung. 

Ditanya soal hasil pekerjaan yang tidak beres, seperti genangan air dan rumput pada track layaknya sawah ditanam padi, Arif berdalih itu disebabkan oleh air pasang yang cukup besar saat ini. “Karena air pasang, tanahnya ikut naik ke aspal. Jangankan di sana, di sini jalan-jalan di kota juga gitu, tergenang air pasang," ujarnya.

Kenapa tidak ditanggul agar air tidak masuk? Arif menyebutkan, perencanaan road race itu sudah ada sejak tiga tahun lalu, saat dia masih di Dinas Perkim Tanjabbar. “Mungkin karena pendangkalan Sungai Pengabuan. Ini sudah lama perencanaannya, tapi baru terealisasi saat saya ada di sini,” bebernya.

Dia membantah tudingan perencanaan proyek itu asal-asalan. Apalagi, katanya, lintasan road race itu dibangun berdasarkan masukan dari Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabar). 

Dia mengkoreksi pemberitaan yang menyebutkan proyek itu dibangun dengan dana multiyear. “Tidak multiyear sebab tidak ada kontrak induk dan sub kontraktor di setiap tahun anggarannya,” katanya.


Penulis: Eko Siswono
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments