Senin, 8 Maret 2021

Seni Dadung, Warisan Budaya Batanghari yang Sempat Hilang Dilahap Waktu

Diperkenalkan oleh Seniman Tradisional Era 60-an

Selasa, 12 Januari 2021 | 11:30:19 WIB


Datuk Azis
Datuk Azis / istimewa

Namanya Datuk Azis. Pada seremonial perayaan HUT Provinsi Jambi ke -64, 6 Januari 2021, dia dipanggil untuk menerima penghargaan atas peran sertanya melestarikan dan mewariskan kesenian Dadung di Kabupaten Batanghari bersama maestro-maestro seni tradisional lainnya. Seperti apa pertunjukan seni yang sempat hilang ditelan zaman ini?

PRATIWI RESTI AMALIA, Muarabulian

Asal katanya dari bedadung, mendendangkan lagu sambil memainkan rebano siam. Alkisah, di zaman dulu, seorang anak Rajo Jambi mengadakan pesta. Karena belum ada alat musik yang memadai, para seniman kala itu hanya memainkan rebana untuk mengiringi lantunan syair lagunya.

Itulah bedadung yang dikenal zaat ini. Rebana dimainkan mengiringi lantunan syair nan mendayu. Ada enam syair yang sangat populer dengan inti kisah dan cerita yang berbeda-beda. Umumnya adalah tentang hubungan muda-mudi.

Yang pertama disebut Bedadung, yakni syair awal perkenalan; lalu Rante Peti (kisah kasih sayang), Ketimbang Banjar (syair tentang masing-masing pasangan menyatakan perasaan), dan Semawo (cerota tentang pasangan mengikat janji).

Syair selanjutnya disebut Mambang, yang berisi kisah keyakinan masing-masing pasangan bahwa mereka benar-benar saling mencintai dan terakhir disebut Dundang Sayang, yang menceritakan tentang acara bersuka ria.

“Waktu Bedadung biasanya di malam hari, pukul 22.00-04.00 pagi, menjelang subuh,” ujar Datuk Azis yang dijumpai Metro Jambi di kediamannya, Jembatan Mas, Pemayung, Senin (11/1/2021). Biasanya, Dadung dimainkan sebagai hiburan malam menjelang pesta dikeesokan harinya.

Dadung sempat punah. Bahkan, masyarakat daerah asalnya, Batanghari, banyak yang tidak tahu apa itu Dadung. Padahal, Dadung diakui secara nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai warisan budaya tak benda Indonesia dari Kabupaten Batanghari.

SK dan sertifikat dari Kemendikbud itulah yang diserahkan oleh Gubernur Jambi kepada Bupati Batanghari dan Datuk Azis yang mewakili masyarakat Pemayung sebagai pemilik/pewaris/penerus karya budaya Dadung saat HUT Provinsi Jambi beberapa waktu lalu.

Peran Datuk Aziz mengembalikan budaya yang nyaris hilang di Bumi Serebtak Bak itu cukup sentral. Itu karena dia menjabat Ketua Lembaga Adat Jembatan Mas, Kecamatan Pemayung dan Ketua Sanggar Seni dan Budaya Sekapur Sirih. Datuk Azis dulunya adalah seniman Dadung.

Munculnya kembali Dadung berawal ketika Datuk Azis pada 2017 diminta oleh Dinas Pendidikan Batanghari untuk tampil pada acara seni budaya di Muarabulian. Datuk Azis langsung menghubungi rekannya, Datuk Arpani di Selat.

Arpani dulunya dikenal sebagai pemain gendang. Dia juga menghubungi Datuk Darazak (peningkah gendang) dan Datuk Usman (penutur syair) di Lubukruso. Mereka bertiga, plus Datuk Aziz, adalah pemain dadung pada era 1960-an.

Suatu waktu, seusai shalat di salah satu masjid di Jembatan Mas, Datu Azis bertemu Datuk Wahab. Dan ternyata, Datuk Wahab merupakan penutur syair Dadung di masanya. Ayahanda Datuk Wahab pun dulunya pemain Dadung.

Selanjutnya Datuk Azis bertemu pemain gendang lainnya, yakni Datuk Nasbian dan Datuk Jang Te, juga di Jembatan Mas. “Nah, sejak saat itu kami pun berlatih Dadung dan akhirnya tampil di halaman Dinas Pendidikan pada 2017. Itulah pertunjukan awal," kata Datuk Aziz.

Sejak saat itu, Datuk Azis bersama maestro Dadung lainnya sudah lima kali menampilkan pertunjukan tradisional ini. “Empat kali di kabupaten dan sekali di provinsi. Setiap kali manggung, kami ikut lomba tapi tidak pernah menang,” ungkapnya.

Menariknya, setelah diakui secara nasional, Datuk Azis justru bingung mau berbuat apa ke depannya. Apalagi dengan kondisi alat musik yang sangat tidak memadai. Mereka memiliki enam alat musik yang didapat dari sepeninggalan orang terdahu di Kecamatan Pemayung.

“Yang ado ni dapat dari mutik-mutik di kampung Selat tiga buah, Lubuk Ruso dua buah dan Jembatan Mas dua buah," urainya.

Dia berharap pemerintah lebih perhatian pada upaya pelestarian warisan budaya agar tidak punah. Anak muda zaman sekarang sebagai penerus bangsa, kata dia, juga harus sadar akan budaya setempat seperti Dadung.

“Saya berharap ada pembinaan dan bantuan untuk pembelian alat musik Dadung dari Pemkab. Kepada pemuda, mari kita bersama melestarikan Dadung. Jika ada yang berminat mari belajar bersama melalui sanggar seni," harapnya.

Datuk Azis berharap ke depan Dadung menjadi pertunjukan yang wajib ditampilkan pada peringatan HUT Kabupaten Batanghari.

Penggiat seni budaya Jambi Sean Popo Hardi menjelaskan, Dadung menjadi warisan budaya Indonesia atas usulan Sanggar Sekapur Sirih ke Dinas Pendidikan Batanghari. Selanjutnya, usulan itu diteruskan ke Pemprov Jambi hingga ke Kemendikbud.

“Setelah diakui kini, masyarakat pemiliknya wajib mewariskan, sementara pemerintah daerah perlu mendukung dan memfasilitasi tradisi tersebut agar memiliki panggungnya di tengah masyarakat yang lebih luas," lanjutnya.

Fasilitasi itu bisa berupa berupa pembinaan, gedung kesenian, sarana dan prasana yang mendukung serta peraturan daerah yang mengatur agar kesenian daerah masuk dalam muatan lokal di sekolah-sekolah.

Pejabat Sekda Batanghari Mulawarman yang mewakili Bupati Batanghari menerima sertifikat dan SK dari Kemendikbud RI bersama Datuk Aziz mengatakan, demi melestarikan budaya Dadung, Pemkab akan menganggarkan pembelian alat musik yang dibutuhkan.

Maka dari itu Mulawarman berharap agar kaum milenial di Batanghari juga harus sadar budaya. “Bagi yang berminat bisa belajar dengan pewaris dan pengajarnya, Datuk Azis bersama datuk-datuk lainnya yang merupakan maestro Dadung," kata Mulawarman.


Penulis: chy
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments