Minggu, 17 Januari 2021

Arena Road Race Salah dari Awal, DPRD: Sudah Tahu Rawan Banjir, Kenapa Bangun di Pelabuhan


Rabu, 13 Januari 2021 | 11:57:55 WIB


Arena Road Race
Arena Road Race / Eko/Metrojambi.com

KUALATUNGKAL - Pembangunan arena road race Kualatungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), yang dianggarkan menelan dana Rp 14 miliar, disayangkan dan disorot kalangan politisi. DPRD Tanjab Barat menilai perencanaan proyek tersebut sudah salah sedari awal.

“Kenapa dibangun di situ (di tepi pelabuhan roro)? Sudah jelas lokasinya tidak sesuai, rawan banjir rob,” ujar Supra Yogi, anggota DPRD Tanjab Barat kepada Metro Jambi, Selasa (12/1/2021). Politikus muda Partai Golkar ini mengatakan, setiap musim hujan dan air pasang, banjir rob akan melanda kawasan tersebut. Karena itu, tidak layak dijadikan lokasi arena balapan.

Seperti diberitakan, proyek arena balapan ini dibangunan sejak 2018. Tahap awal, Pemkab Tanjab Barat menganggarkan dana APBD sebesar Rp 2 miliar dengan nama Proyek Pembangunan Arena Mini Road Race Pelabuhan Ro Ro Kualatungkal.

Pada 2019, melalui proyek yang sama, dianggarkan lagi dana sebesar Rp 6 miliar. Tender dimenangkan oleh PT Dasal Jaya Bersama (DJB), kontraktor yang terdaftar dengan alamat Jalan Kapten Pierre Tendean Tungkal 3, Tungkal Ilir.

Masih belum selesai, pada pertengahan 2019 Pemkab Tanjab Barat kembali membuka tender proyek arena road race ini dengan anggaran Rp 6 miliar lagi. Hanya saja, nama proyek diubah menjadi Peningkatan Jalan Road Race Pelabuhan Ro Ro Kuala Tungkal.

Pemenangnya CV Sumber Abadi Sentosa (SAS), yang tercatat beralamat di Jalan Bahagia, Kualatungkal, dengan harga penawaran Rp 5,7 miliar. Belakangan, hasil kerja PT SAS menjadi catatan dalam laporan audit BPK 2020.

Saat mengecek lokasi pada Februari 2020, BPK menemukan kondisi fisik proyek yang mengecewakan. Metro Jambi yang melihat langsung lokasi proyek pada Minggu (10/1/2021) menemukan hasil pekerjaan banyak yang hancur. Di atas aspal jalur racing tumbuh rumput, terutama di bagian yang tergenang air.

Di beberapa bagian lain tampak tumpukan tanah kuning sehingga arena balap itu licin dan sangat rawan bila dimanfaatkan. Tampak jelas pengaspalan seperti asal-asalan. Di beberapa titik bahkan aspal amblas. Kuat dugaan, pengaspalan dilakukan ketika timbunan tanah belum keras.

“Terdapat kekurangan volume pada pekerjaan sebesar Rp 436,2 juta, kekurangan volume atas pekerjaan yang belum dibayarkan sebesar Rp 53,9 juta dan denda keterlambatan pekerjaan yang belum dikenakan sebesar Rp 29 juta,” tulis BPK dalam laporan hasil audit yang didapat Metro Jambi.

Kabid Bina Marga Dinas PUPR Tanjabbar Arif Sambudi mengakui air pasang yang cukup besar belakangan ini menyebabkan lintasan tergenang. “Karena air pasang, tanahnya ikut naik ke aspal. Jangankan di sana, di sini jalan-jalan di kota juga gitu, tergenang air pasang," ujarnya.

Menurut Supra Yogi, seharusnya perencanaan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor alam. Ada baiknya arena road race dibangun di kawasan yang kontur tanahnya lebih keras, seperti di Pematang Lumut atau Betara Ujung. “Di sana lebih keras tanahnya, risiko alamnya lebih kecil," ujarnya.

Namun dia berharap proyek ini tidak terbengkalai karena uang rakyat yang sudah digelontorkan tidak sedikit. “Tinggal Pemkab lagi bagaimana memanfaatkan, agar tidak mangkrak. Sayang bila dana belasan miliar terbuang sia sia,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Komisi III DPRD Tanjabar H Assek justru mempertanyakan tujuan awal proyek tersebut. Dia mengakui, saat pembahasan awal, konsep yang disampaikan Pemkab kepada DPRD sangat bagus. Namun, belakangan kok bermasalah.

“Saya tanyakan ini kepada Pemkab. Pas pembahasan dulu bagus, tapi kenapa jadinya begini?" kata Politisi Gerindra ini. Dia juga mempertanyakan, apakah arena road race itu dibangun atas dasar kebutuhan atau keinginan pemimpin saja. “Kalau keinginan yang besar, ya begini jadinya,” ujarnya.

Dia meminta Pemkab bertanggung jawab, jangan lepas tangan. Sebab saat mulai bermasalah, pejabat PUPR seolah-olah mulai lepas tangan dengan menyalahkan rekanan. “Rekanan juga harus tangung jawab,” tandas Assek.


Penulis: Eko Siswono
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments