Jumat, 23 April 2021

Tadzakkur dan Siswa Bosan Belajar Online (?)


Senin, 25 Januari 2021 | 16:45:51 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / istimewa

Oleh: Amri Ikhsan *)


" SELAMA sekolah di rumah, anak-anak jadi malas dan mudah bosan," ujar wanita yang putrinya duduk di Kelas XI itu. Karena itu, dia menyarankan pemerintah tetap membuka peluang sekolah tatap muka dengan memperketat protokol kesehatan terkait Covid-19 " (Metro Jambi)

“Saya itu lebih senang dan lebih suka melihat anak saya di rumah ketawa ketiwi, guyonan dari pada melihat anak saya terbaring di ICU”. (dr. Heri Munajib, PP Perhimpunan Dokter Nahdhatul Ulama)

Dua hal yang kontras. Yang satu mementing pembelajaran yang harus dilakukan di sekolah atau tatap muka. PJJ membuat anak ketinggalan pembelajaran dan yang kedua mengutamakan kesehatan, ketinggalan pembelajaran bisa dikejar bila anak sehat. Dihormati kedua pendapat dari perspektif yang berbeda. Tentu kedua memiliki alasan tersendiri.

Pandemi Covid-19 memang memaksa sekolah membelajarkan siswa dari rumah dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), entah kapan akan berakhir. Diakui banyak tantangan dalam proses adaptasi PJJ, yang dirasakan semakin ke sini semakin terasa ketidaknyamanan dan ketidakpastian.

Lamanya PJJ dan tak satu bisa memprediksi kapan akan berakhir membuat siswa mulai jenuh mengikuti pembelajaran, mulai tidak suka melihat materi pembelajaran, mulai berat mencari sumber belajar, tangan siswa sudah penat mengerjakan tugas yang harus diselesaikan setiap harinya.

Harus diakui sebenarnya belajar online bukanlah hal yang membosankan kalau guru bisa mengelola dengan sempurna. Memang tidak semua siswa ‘menikmati’ PJJ ini, tentu ada sebagian besar siswa merasa risih dan resah dalam PJJ, ada yang merasa tertekan dengan setiap kali mendengar kata ‘ónline’ yang dalam pikiran siswa: ‘tugas akan segera datang’.

Sangat manusiawi bila setiap anak merasa bosan ketika harus melakukan aktivitas yang terus-menerus saat PJJ dengan serba keterbatasan akibat pandemi. Terlebih lagi, ini bukan satu atau dua bulan siswa belajar di rumah, namun sudah berbulan bulan, apalagi tidak ada inovasi pembelajaran dalam menyampaikan materi pembelajaran. Itu-itu saja.

Bisa dikatakan kejenuhan belajar itu adalah kondisi emosional dan mental yang mengalami kelelahan yang sangat pada saat belajar, sehingga ia merasa lesuh dan sudah tidak dapat menampung materi atau informasi yang baru. Hal itu dapat disebabkan karena rentang waktu yang digunakan pada saat belajar relative cukup lama. (Rohman, 2018:16)

Perasaan ini merupakan salah satu jenis kesulitan yang sering terjadi. Kejenuhan berarti siswa tidak sanggup lagi menanggung beban belajar baik dari segi waktu yang lama, banyaknya tugas, minimnya sarana belajar, monoton cara berinteraksi atau disiplin guru yang tidak proporsonal, disiplin di tengah pandemi. Jangan heran bila siswa menjadi malas dan bosan, untuk menghormati guru, mereka melakukan setengah hati, pokoknya tugas dikumpul.

Apalagi tidak didukung dengan sarana dan prasarana memadai di rumah. Fasilitas ini sangat penting untuk kelancaran PJJ seperti laptop, komputer ataupun handphone yang memadai. Ini belum cukup dan harus ditunjang dengan jaringan internet yang kuat dan kuota yang cukup. Semua ini tidak ada gunanya bila tidak didukung oleh orang tua, dengan peduli apa yang dikerjakan anaknya.

Benar kata Naeila Rifati Muna (2013:11), tanda-tanda kejenuhan belajar dapat berupa: 1) keletihan emosional, ditandai dengan perasaan frustasi, mudah tersinggung, putus asa, suka marah, tertekan, gelisah, apatis terhadap pelajaran, terbebani oleh pelajaran, bosan, dan perasaan tidak ingin menolong 2) depersonalisasi, seperti kehilangan antusias belajar, dan mulai ragu dengan apa yang dimilikinya 3) menurunnya keyakinan akademis, seperti kehilangan motivasi belajar, mudah menyerah dan tidak percaya diri.

Oleh karena itu, bagi semua pihak, mari kita lawan kejenuhan, kebosanan, kemalasan dengan tadzakkur, mengingat dan menghayati bahwa covid-19 itu nyata, jangan main-main dengan keselamatan, kesehatan anak. Tadzakkur berarti upaya untuk mengalihkan berbagai gangguan pikiran dan perasaan (Umar) dengan meyakini bahwa PJJ adalah moda pembelajaran yang paling pas di saat pandemi.

Tadzakkur merupakan kata aktiva dari dzikr (ingat), kebalikan dari lupa. Artinya hadirnya gambaran sesuatu yang diingat dan diketahui di dalam hati (Umar). Mari kita ingat berapa banyak yang sudah terkonfirmasi positif, yang sudah meninggal, yang masih dirawat. Jangan dilupakan bahwa per 23 Januari 2021 hampir 1 juta sudah terkonfirmasi positif covid-19. (covid19.go.id)

Tadzakkur berarti hati mengulang-ulang apa yang diketahuinya agar tertanam dengan kuat di dalamnya, sehingga tidak terhapus dan pudar dari dalam hati secara keseluruhan, mempelajari kembali atau berulang ulang untuk mengingat, sebagai lawan dari lupa (Umar).

Lupa merupakan akibat dari tidak diulangnya atau tidak dipelajarinya kembali ilmu pengetahuan yang pernah diketahui sebelumnya. Tadzakkur itu proses mengulang, mengingat ingat kembali dengan tujuan memantapkan pikiran dan pengetahuan yang pernah dipelajari agar tidak hilang begitu saja. Tadzakkur itu berfungsi menjaga ilmu (Ibn Al-qayyim al-Jauziyyah)

Tadzakkur di masa pandemic, sangat disaran untuk mengingat kembali sisi sisi negatif dari covid-19 yang sudah menggerogoti kehidupan kita, covid-19 sudah menjungkir balik kebiasaan, tradisi yang biasa dilakukan selama ini. Covid-19 ini sudah menghancurkan ekonomi, boleh dikatakan, mengacaukan pembelajaran di sekolah.

Oleh karena itu, perlu dilakukan tadzakkur pembelajaran selama pandemi dengan mengambil manfaat dari izhah, yakni perintah dan larangan baik melalui pendengaran dan dengan penglihatan (Manazilus-Sa’irin). Dengan pendengaran, kita mengambil manfaat dari aturan, edaran, protokol yang dikeluarkan pemerintah. Sedangkan dengan penglihatan, mengambil manfaat dari apapun terjadi di sekitar kita: banyaknya pasien positif Covid-19, yang meninggal, yang dirawat, rumah sakit hampir penuh, kuburan hampir penuh, dll.

Tadzakkur pembelajaran itu berusaha mengikis kejenuhan, kebosanan yang akan memadamkan cahaya hati, menutupi penglihatan dan menyumbat pendengarannya, membuatnya bisu dan tuli, melemahkan kekuatannya, menggerogoti kesehatannya dan menghentikan tekad (Ibn Al-qayyim al-Jauziyyah). Ini hanya karena tidak sabar, tidak mau mengingat ingat betapa dahsyat bahaya covid-19. Yakinlah bahwa sekolah akan diizinkan bila covid-19 sudah hilang dari bumi Indonesia .

Kalau memang kejenuhan dan kebosanan itu muncul bisa jadi berasal dari: pertama, terlalu banyak bergaul dengan manusia (Ibnu Taimiyah), apalagi berkomunikasi melalui media sosial yang sering berdiskusi hal hal yang tidak penting, dengan mengambil sumber informasi yang tidak valid, hoaks, dll. Akibatnya, membuat kesimpulan yang tidak benar yang merugikan diri sendiri dan orang lain, banyak waktu yang terbuang sia-sia, sibuk dan pikiran terpecah tanpa makna.

Kedua, terlalu banyak angan-angan dan berkhayal yang berlebihan. Tidak apa-apa memunculkan hayalan yang diinginkannya tapi harus realistis, masuk akal dan bisa diwujudkan sesuai dengan situasi dan kondisi. Berangan angan itu boleh untuk kebaikan.

Ketiga, malas berpikir. Apalagi di tangan sudah ada ‘smartphone’. Smartphone membuat manusia melatih otak untuk berada dalam kondisi stress dan ketakutan. Berbagai kemudahan diberikan, beragam aplikasi ditawarkan. Kecanggihannya telah mengaburkan kewaspadaan kita. Membuat kita jadi orang yang malas. (Merdeka.com).

Mari berpikir bijak tentang pembelajaran tatap muka demi keselamatan dan kesehatan bersama.

*) Pengajar di madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments