Minggu, 7 Maret 2021

Mantan Ketua DPRD Provinsi Jambi Keberatan Dituntut Lebih Berat, Ini Alasannya...


Kamis, 18 Februari 2021 | 16:08:54 WIB


Sidang tuntutan Cornelis Buston dkk secara virtual di Pengadilan Tipikor Jambi.
Sidang tuntutan Cornelis Buston dkk secara virtual di Pengadilan Tipikor Jambi. /

 JAMBI – Mantan Ketua DPRD Provinsi Jambi Cornelis Buston (CB) keberatan dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebab, CB dituntut lebih berat dari dua terdakwa lainnya, Chumaidi Zaidi dan AR Syahbandar, dalam kasus suap 'uang ketok palu' pengesahan RAPBD Provinsi Jambi tahun 2017-20218.

CB merasa dirinya tidak pernah menerima uang sebesar Rp 1 miliar dari Gubernur Jambi Zumi Zola sebagai jatah dirinya selaku ketua DPRD. Namun dia mengaku pernah meminta proyek senilai Rp 50 miliar, itu pun kemudian tidak pernah terealisasi.

Dalam persidangan, CB mengaku menerima uang dari Kusnindar sebesar Rp 100 juta. Namun uang itu diakuinya merupakan pinjaman pribadinya ke Kusnindar.

“Menurut jaksa uang Rp 100 juta pinjaman dari Kusnindar itu dianggap sebagai DP dari jatah ketua sebesar 1 miliar,” ujar Herri Najib, penasehat hukum CB kepada metrojambi.com, Kamis (18/2/2021).

Sementara, dalam fakta persidangan saksi Apif Firmansyah mengaku tidak tahu soal jatah itu. “Saksi Doddy juga mengaku bahwa CB menolak ketika mau diberi uang 1 miliar,” tegas Herri Najib lagi.

Oleh karena itu, kata Herri, pihaknya merasa keberatan dan akan menyampaikannya dalam nota pembelaan. “Nanti akan kita sampaikan dalam pembelaan, karena dalam tuntutan juga tidak disebutkan bahwa uang pinjaman itu telah dikembalikan kepada Kusnindar,” beber Herri.

Herri juga mengatakan, pada saat pemeriksaan di KPK dulu, pihaknya melampirkan bukti peminjaman uang Rp 100 juta itu kepada penyidik. Tapi itu tidak dilampirkan dalam BAP.

“Dalam persidangan kami juga sudah tunjukkan bukti itu, tapi jaksa mengatakan tidak ada.  Padahal ada. Saya sendiri yang memberikan itu kepada penyidik,” tukas Herri.


Penulis: Sahrial
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments