Sabtu, 27 Februari 2021

Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Jambi Turun


Senin, 22 Februari 2021 | 12:07:07 WIB


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Wahyudin
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Wahyudin / istimewa

JAMBI - Pada September 2020, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Jambi yang diukur dengan Gini Ratio tercatat sebesar 0,316. Angka ini menurun 0,004 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2020 sebesar 0,320.

Sedangkan Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2020 tercatat sebesar 0,346 turun dibanding Gini Ratio Maret 2020 yang sebesar 0,351. sedangkan di daerah perdesaan pada September 2020 tercatat sebesar 0,289 naik dibandingkan dengan Maret 2020 yang sebesar 0,287.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi Wahyudin menyampaikan bahwa September 2020, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 21,38 persen yang berarti Jambi berada pada kategori ketimpangan rendah.

Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 19,36 persen yang artinya berada pada kategori ketimpangan rendah.

Sementara untuk daerah perdesaan, lanjut Wahyudin, angkanya tercatat sebesar 22,64 persen yang berarti masuk juga dalam kategori ketimpangan rendah.

"Persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah pada bulan September 2020 ini meningkat jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2020 yang sebesar 20,90 persen dan meningkat jika dibandingkan dengan kondisi September 2019 yang sebesar 20,57 persen," ujarnya.

Sementara itu, untuk Provinsi yang mempunyai nilai Gini Ratio tertinggi di September 2020, tercatat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu sebesar 0,437 sementara yang terendah tercatat di Provinsi Bangka Belitung dengan Gini Ratio sebesar 0,257.

Dibanding dengan Gini Ratio nasional yang sebesar 0,385, terdapat tujuh Provinsi dengan angka Gini Ratio lebih tinggi, yaitu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (0,437), Gorontalo (0,406), DKI Jakarta (0,400), Jawa Barat (0,398), Papua (0,395), Sulawesi Tenggara (0,388), dan Nusa Tenggara Barat (0,386).


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments