Senin, 17 Mei 2021

Tiga Tahun Terjebak Defisit, Pemkab Batanghari Fokus PAD dan Perkuat Lobi Pusat


Kamis, 25 Maret 2021 | 11:00:49 WIB


Fadhil Arief
Fadhil Arief / istimewa

MUARABULIAN - Sudah tiga tahun Kabupaten Batanghari mengalami defisit anggaran. Dampaknya, banyak program dan kegiatan dipangkas, pembayaran pun ditunda. Perlu exit strategy yang kreatif untuk menyeimbangkan kembali anggaran daerah yang baru dipimpin oleh pasangan Fadil Arif-Bakhtiar itu.

Defisit terjadi sejak 2018 dan berlanjut ke 2020. Kepala Badan Keuangan Daerah Batanghari Muhammad Azan menyampaikan, pada 2018 defisit mencapai Rp 11 miliar, lalu naik pada 2019 menjadi Rp 38,48 miliar. “Defisit terjadi karena tidak balance-nya belanja daerah dengan pendapatan,” kata Azan kepada Metro Jambi, Rabu (24/3/2020).

Dalam APBD Batanghari 2019, penerimaan direncanakan sebesar Rp 1,43 triliun, tetapi terealisasi Rp 1,32 triliun. Realisasi tersebut naik dari 2018 yang sebesar Rp 1,19 triliun. Namun, realisasi belanja daerah mencapai Rp 1,34 triliun.

Belanja sebanyak itu sudah lebih kecil dari rencana sebesar Rp 1,46 triliun. Namun, banyaknya pendapatan yang tidak mencapai target, sementara belanja daerah cenderung tetap, membuat defisit terus berlanjut.  “Pada 2020 terjadi lagi defisit sebesar Rp 12,8 miliar,” tambah Azan.


Penulis: chy/nta
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments