Minggu, 19 September 2021

Belajar dari Ketangguhan Perempuan SAD

Minggu, 28 Maret 2021 | 07:37:11 WIB


Dwi Oktapiani, Pendamping Warga SAD di Sumay, Tebo
Dwi Oktapiani, Pendamping Warga SAD di Sumay, Tebo / Metrojambi.com

 "HARI itu ada untuk merayakan keberadaanmu. Kamu adalah perempuan yang sedang mekar dengan pesona yang indah dan tak akan pernah hilang. Tetaplah kuat, teguh dan tangguh dalam menghadapi segala tantangan".

Kutipan tersebut rasanya pantas disematkan kepada Dwi Oktapiani, pada peringatan Hari Perempuan Internasional 2021. Perempuan lajang kelahiran Kabupaten Tebo, Jambi, tersebut membaktikan sebagian besar masa mudanya untuk membantu kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) atau yang dikenal dengan sebutan Orang Rimba. Berbeda dengan anak muda sebayanya yang rata-rata memilih bekerja di kota besar, Dwi begitu dia akrab disapa, ikhlas dan semangat menerobos semak belukar dan masuk jauh ke dalam hutan lebat, untuk mendampingi orang rimba.

Menjadi pendamping warga SAD, sejatinya sudah dilakoni Dwi selama tiga tahun. Hal itu tak lepas dari pekerjaannya sebagai Liason Officer PT Lestari Asri Jaya (LAJ) untuk kelompok Orang Rimba. Berbagai kesulitan yang dialami, baik dalam perjalanan melintasi hutan rimba menuju pemukiman Orang Rimba, maupun saat berinteraksi dengan mereka, bukanlah dianggap sebagai kendala oleh perempuan keturunan Melayu itu. Butuh pendekatan khusus dalam berinteraksi dengan kelompok Orang Rimba, mengingat adanya perbedaan adat, budaya dan Bahasa.

"Sejak masih sekolah, saya sudah penasaran dengan SAD. Sebagai penduduk asli Jambi, keberadaan Orang Rimba ini memantik saya untuk berkontribusi kepada mereka. Karena, bagaimanapun juga mereka adalah saudara kita, sesama anak bangsa Indonesia," tutur Dwi membuka kisah.

Cita-cita dan niat baik tersebut akhirnya terwujud, setelah dia diterima sebagai karyawan PT LAJ, perusahaan karet alam di Tebo, Jambi, dan ditugaskan mendampingi Orang Rimba di sekitar kawasan Wildlife Conservation Area (WCA). WCA merupakan kawasan seluas 9.700 hektar yang ditujukan sebagai wilayah perlindungan terhadap habitat hewan liar dan tanaman langka, sekaligus menjadi kawasan perlintasan gajah yang berada di lokasi HTI perusahaan.

Kawasan tersebut juga menjadi wilayah penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. LAJ melindungi kawasan tersebut, agar tetap alami dan lestari, sebagai komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian alam, termasuk menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat tinggal bagi kelompok Orang Rimba.

Setiap hari, Dwi harus menaiki motor khusus menembus hutan belantara untuk menuju pemukiman Orang Rimba yang berada jauh di dalam hutan. Tak jarang motor yang dinaikinya mengalami kendala di tengah hutan. Hal itu memaksanya untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki puluhan kilometer. Dengan dukungan keluarga terutama orang tua, semua itu dijalaninya dengan semangat.

“Tugas utama saya sebagai pendamping Orang Rimba, adalah berbagi ilmu dengan mereka, tentang cara mengelola lahan yang baik. Mulai dari bercocok tanam tanaman pokok, teknik mengolah hasil panen, hingga membimbing mereka mengelola hutan secara bijak,” paparnya.

Sepintas, tanggung jawab tersebut terlihat mudah dan bisa dilakukan siapapun. Namun, perlu diketahui, Orang Rimba memiliki budaya hidup berpindah lokasi tempat tinggal. Perpindahan tersebut, terutama jika ada musibah atau terjadi hal yang dianggap kurang baik terjadi pada mereka, saat menetap di sebuah lokasi hutan. Secara sabar, Dwi memberikan pemahaman kepada Orang Rimba, kendati mereka berpindah lokasi tempat tinggal, mereka diminta tetap mengelola lahan yang sudah ditanami.

Selain harus berperan sebagai petugas penyuluh pertanian, Dwi dituntut memiliki skill yang multitalenta. Sebab, dirinya juga sering dimintai pendapat tentang masalah kesehatan dan penyakit yang diderita warga. Bahkan, termasuk menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari, sampai masalah pribadi. Tak jarang para Induk (sebutan untuk ‘ibu’ di Orang Rimba) menyampaikan cuhatan tentang keluarganya.

"Di situ kita harus mengedepankan empati. Tidak melulu mendahulukan tugas pekerjaan dari kantor. Sebab dengan empati itulah, tugas yang saya emban dapat diterima dengan mudah oleh Orang Rimba. Bahkan melalui interaksi dengan Orang Rimba, ilmu dan wawasan saya juga jadi bertambah, karena saya jadi rajin membaca berbagai literasi tentang kehidupan, tanaman dan kesehatan,” ucapnya.

Untuk dapat diterima dan menjadi bagian dari komunitas Orang Rimba bukanlah hal mudah. Sebab, Orang Rimba adalah komunitas tertutup, jauh dari peradaban, dan membatasi diri dari interaksi dengan dunia luar. Butuh waktu sekitar enam bulan bagi Dwi untuk bisa benar-benar melebur dengan mereka. Untuk dapat diterima komunitas Orang Rimba, menuntut Dwi menghabiskan sebagian besar waktunya bersama mereka. Dia ikhlas mengorbankan kehidupan pribadinya, baik interaksi dengan keluarga dan teman-temannya.

Ada satu hal dari kehidupan Orang Rimba yang membuat Dwi merasa miris dan sedih. Sebagian besar anak-anak Orang Rimba tidak dapat menikmati bangku pendidikan secara formal. Kondisi itu sebenarnya tak lepas dari budaya Orang Rimba yang membatasi diri dari dunia luar. Namun, Dwi bertekad untuk mencurahkan semua ilmu dan kemampuannya untuk mengangkat harkat dan martabat kelompok Orang Rimba.

"Saya sedih melihat anak-anak lain bisa bersekolah, tapi hal itu tidak dirasakan oleh anak-anak SAD. Saya bertekad untuk mengangkat martabat SAD, apalagi LAJ (RLU group) juga sangat support dan peduli dengan kelompok SAD. Ini sangat memudahkan saya memberikan pendampingan dan pemberdayaan terhadap mereka," katanya.

Dan sebagai pekerja perempuan di lingkungan yang penuh tantangan, Dwi Oktapiani juga banyak belajar dari para Induk/ibu. Ketangguhan dan kreatifitas para Induk menghadapi masalah keseharian menjadi pembelajaran penting buatnya.

Menurut Dwi, kaum Induk Orang Rimba menjadi pendamping suami yang ideal. Mereka selalu dimintai pendapat oleh suaminya sebelum mengambil keputusan. Selain mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga, tak jarang mereka juga membantu suaminya berladang hingga berburu. Posisi perempuan sangat penting di Orang Rimba.

"Para Induk/ibu di komunitas Orang Rimba menurut saya termasuk perempuan tangguh. Tidak gampang menyerah. Pendapat mereka selalu didengar dan diperhatikan. Itu yang membuat saya bangga," tandasnya.


Penulis: */Ikbal
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments