Senin, 12 April 2021

Kanker Menyerang, Ratusan Hektar Duku Jambi Mati dan Gagal Panen


Senin, 29 Maret 2021 | 10:38:37 WIB


GAGAL PANEN: Batang duku yang diserang jamur
GAGAL PANEN: Batang duku yang diserang jamur / Sudir/Metrojambi.com

JAMBI – Duku Jambi yang terkenal manis kini diancam kepunahan. Petani duku di Kabupaten Muarojambi, Batanghari, Tebo dan Tanjung Jabung Timur terpaksa memusnahkan ribuan batang duku mereka yang diserang jamur. 

“Saya sudah menebang 60 batang," ujar Ning Ali, petani duku Desa Bangso, Kumpeh Ilir kepada Metro Jambi, Minggu (28/3/2020). Kumpeh terkenal sebagai penghasil duku terbaik di Provinsi Jambi, yang bahkan mampu menembus pasar internasional.

Ning Ali menceritakan, awalnya dahan-dahan duku di kebunnya menguning. “Mulanya warna dahan kuning pekat lalu mengering. Selanjutnya daun-daunnya mulai rontok, batangnya mati dan kroposan,” ujarnya.

Tidak sampai di situ, saat diperiksa ketika batang sudah mati dan ditumbang, terlihat di pohon duku banyak ulat berwarna hitam dan keabu-abuan. “Sudah banyak yang kena. Panen duku tahun ini benar-benar gagal,” tambah Ning Ali.

Zulkipli, petani duku lainnya di Desa Sipin Teluk Duren, Kumpeh Ulu, mengaku menemukan fonemena serupa di kebunnya dan kebun-kebun lainnya. “Lumayan banyak duku saya yang sakit, puluhan batang lah," ujarnya.

Sebagian petani menjual duku dengan sistem kontrak. Di awal musim, pemborong atau toke duku bisa mengontrak sebatang duku besar penghasil buah terbaik sebesar Rp 10-15 juta. Hasil panen batang duku pilihan itu bisa mencapai 1-2 ton.

Memang tidak semua duku berbuah lebat dengan kualitas baik. Sebatang duku kecil ada yang dikontrak Rp 1-2 juta saja.

Bagi petani duku Jambi, memiliki pohon duku adalah tabungan. Dari hasil panennya, tidak sedikit petani yang bisa membayar ongkos naik haji, membangun rumah, menyekolahkan anak maupun membeli kendaraan. Kini, ancaman penyakitnya cukup mengkhawatirkan.

Hendra, toke duku di Kumpeh, memperkirakan kerugian para pedagang duku dan petani pada tahun ini menembus angka miliaran rupiah. Bukan tanpa alasan. Hendra sendiri pernah membelanjakan uang ratusan juta dalam sehari untuk mengontrak duku-duku petani.

“Kalau tahun ini sepertinya tidak bisa lagi. Perkiraan kami, para toke duku di Kumpeh Ulu dan Kumpeh Hilir, duku-duku yang rusak sudah mencapai 100 hektar," katanya.

Dicky Kurniawan, seorang petani duku di Danau Lamo, Kecamatan Marosebo, yang berbatasan dengan Kumpeh dan juga penghasil duku yang baik, menceritakan sudah menebang 10 batang duku di awal tahun ini.

“Sudahlah gagal panen, diserang jamur pula. Entah jamur apa,” ujar petani yang juga pekerja lingkungan di salah satu NGO di Jambi ini. Yang lebih parah lagi adalah kebun duku mertuanya. “Kalau mertua sudah menebang 100 batang duku yang sakit,” tambahnya. 

Dicky sendiri bingung dengan jenis jamur yang menyerang kebun-kebun duku di berbagai daerah di Provinsi Jambi. Sekilas, katanya, jamur duku ini berbeda dari jamur putih yang sering menyerang tanaman lainnya, seperti durian.


Penulis: Sudir Putra/Achy
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments