Sabtu, 15 Mei 2021

Tidak Santun Di Dunia Maya


Minggu, 11 April 2021 | 16:03:41 WIB


/

Oleh: Amri Ikhsan *)

HASIL survei yang dilakukan oleh Microsoft di Asia Pasifik yang secara ringkas mengatakan bahwa tingkat kesantunan digital (digital civility) dari masyarakat Indonesia paling rendah se-Asia Tenggara.

Hasil survey ini harus menjadi perhatian semua pihak, karena kesantunan merupakan salah satu karakter bangsa, kesantunan merupakan cermin adab dalam bermasyarakat. Ketidaksantunan bisa mencerminkan tingkat emosi masyarakat dalam berkomunikasi. Semakin tidak santun masyarakat dalam mengekspresikan pendapat bisa jadi menunjukkan tingkat ketidakharmonisan hubungan antar masyarakat. Ini tidak elok bagi ‘Bhinnika Tunggal Ika’.

Kebutuhan kita dalam bermedsos adalah menjaga agar percakapan berlangsung lancar, ‘nyambung’, tidak macet, tidak sia-sia, pesan bisa diterima dengan mudah dan hubungan sosial antara peserta percakapan tidak terganggu. Untuk itu, kesantunan berbahasa penting untuk dilakukan oleh peserta percakapan. Tujuannya adalah menciptakan keharmonisan dalam percakapan (Aziz, 2003).

Kalau hal ini ‘dibiarkan’, tidak anggap hal yang penting: 1) sangat dikhawatirkan akan melahirkan kegaduhan kegaduhan baru yang tidak berakhir; 2) akan dipertontonkan perdebatan perdebatan únfaedah’ yang akan menambah ‘barisan sakit hati’; 3) menjadi pembelajaran dan contoh buruk bagi anak bangsa; 4) membuat masyarakat tidak produktif karena waktu lebih banyak digunakan di dunia maya dari di dunia nyata; 5) akan menjamur para influencer nirmakna yang hanya mempertontonkan kemewahan semu dan pornoaksi, dll.

Memang harus diakui bahwa bermedsos bukanlah tempat curhat, mengadu atau berbicara bebas, sekehendak hati apalagi untuk ‘berdoa’. Apa yang ditulis, dibaca oleh nitizen lain, punya jejak digital yang hampir tidak bisa dihapus secara permanen. Oleh karena itu, waktunya kita ‘berhati hati’ dalam bermedsos: saling menghargai dan menghormati orang lain, menghormati adanya perbedaan, yang kita suka, yang kita anggap lucu, benar dan penting, belum tentu sama dengan yang dipikirkan orang lain, dll.

Mungkin kita belum terbiasa memakai bahasa yang tepat dan santun dalam berkomunikasi, tidak menghargai privasi orang lain dengan tidak mengumbarnya di media sosial sekalipun hanya untuk bercanda yang dapat menyebabkan orang lain merasa tersinggung. Dan kita begitu ‘ringan tangan’ membagikan konten, berita, gambar yang mengandung pornografi yang dapat membuat seseorang merasa terhina atau dilecehkan.

Sudah waktunya kita menghindari membuat atau memposting dan memberi komentar terhadap satu isu yang kita tidak kuasai atau berita yang kita tidak tahu persis sumbernya. Mulai saat ini, mulailah berpikir kritis sebelum memposting, pikirkan konsekuensi dari sesuatu yang akan diposting. Jadi perlu kiranya, dibaca, dicermati, dinilai dahulu sebelum di-share kepada orang lain, apakah benar informasi yang akan dibagikan tersebut, jangan sampai diri kita menjadi bagian penyebar hoaks.

Tidak bisa dipungkiri, media sosial telah menjadi sebuah kebutuhan baru di zaman sekarang. Media sosial adalah sarana yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam sebuah jaringan dan komunitas virtual (Dictionary, 2010). Oleh karena itu, nitizen harus dibekali dengan kaidah kesantunan dalam setiap tindak berbahasa. Santun adalah salah satu wujud penghormatan seseorang kepada orang lain. Saling menghargai merupakan salah satu kekhasan manusia sebagai makhluk berakal budi, yaitu makhluk yang berilakunya senantiasa berdasarkan pada pertimbangan akal budi daripada insting (Baryadi, 2005).

Kesantunan atau ketidaksantunan merupakan reaksi yang timbul setelah mendapat stimulus dari sebuah tindak tutur berdasar latar belakang ilmu yang dimiliki oleh seorang nitizen. Biasanya, semakin seseorang itu memahami apa yang bicarakan, semakin santun dia berkomentar atau sebaliknya semakin dia tidak memahami isu yang dibicarakan tapi ingin berkomentar, semakin tidak santun bahasa yang dipakai.

Dalam konteks lain, semakin seseorang ‘terlalu’ percaya dengan sebuah isu atau seseorang (pejabat public), semakin tidak santun bahasa yang dipakai bila ada sebuah posting yang mengkritik tokoh tersebut, Akibatnya, orang ini akan mendapatkan nilai negatif dari orang lain, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradab, bahkan tidak berbudaya. Begitu juga semakin netral seseorang dalam sebuah isu, diyakini semakin santun dia bereaksi.

Bahasa yang santun adalah bahasa yang diungkapkan dengan mempertimbangkan ‘perasaan’ lawan bicara kita. Idealnya dipertimbangkan pendapat Aziz (2000): gunakanlah bahasa yang kita sendiri senang mendengarnya apabila bahasa itu digunakan orang lain; dan sebaliknya, (2) janganlah menggunakan bahasa yang kita sendiri tidak menyukainya.

Ketidaksantunan berbahasa tidak terjadi begitu saja. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya bentuk tuturan yang tidak santun: (a) mengeritik secara langsung dengan menggunakan kata-kata kasar; (b) dorongan emosi penutur; (c) sengaja menuduh mitra tutur; (d) protektif terhadap pendapat sendiri; dan (e) sengaja memojokkan mitra tutur. Selain kelima faktor tersebut, terdapat faktor (f) kedudukan/jabatan di dalam persidangan dan (g) menyembunyikan informasi yang dapat merugikan penutur dan orang lain (Pranowo).

Kita sebagai makhluk sosial tentu memiliki pandangan, pendapat, ide atau aliran politik yang berbeda beda. Perbedaan ini berpotensi untuk menyampaikan komentar yang bisa saja disukai, disanjung, dikomentari secara positif, di-like, di-follow, di-subscribe, di-retweet oleh nitizen lain. Dilain pihak, pasti ada juga nitizen lain yang beropini apa yang disampaikan itu merupakan bentuk meremehkan, merugikan, menyerang, bahkan membuat seseorang kehilangan ‘muka’.

Oleh karena itu, supaya posting-an itu menciderai atau merugikan harga diri orang lain, kita perlu menyiapkan strategi kesantunan ketika bertutur dengan orang lain dengan mencari cara bagaimana agar tindakan kita tidak menyinggung lawan tutur yang dikemas dalam beberapa maksim: 1) Maksim kebijaksanaan, perbanyak memberikan keuntungan kepada mitra tutur; 2) Maksim kedermawanan, banyak memberi sanjungan; 3) Maksim penghargaan, banyak memberi pujian.

Kemudian, 4) Maksim kerendahan hati, jangan banyak memuji diri sendiri; 5) Maksim pemufakatan, cari kesepahaman, jangan cari perbedaan; 6) Maksim kesimpatian, banyak memberi apresiasi positif; dan 7) Maksim pertimbangan, lebih menyukai untuk menyenangkan (diadopsi dari Pranowo, 2009).

Kalau kesantunan tidak menjadi perhatian, jangan harap bangsa ini menjadi bangsa yang harmonis, damai dan tentram! Sejukkan hati diri dan orang lain dengan berbahasa santun.

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments