Kamis, 9 Desember 2021

Tawazun Dalam Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas

Rabu, 28 April 2021 | 16:46:48 WIB


/

Oleh: Amri Ikhsan *)

AKHIRNYA pemerintah memutuskan seluruh sekolah wajib menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas pada tahun ajaran baru Juli nanti. Kebijakan ini berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang disiarkan langsung lewat channel YouTube Kemendikbud, Selasa (30/3).

SKB Empat Menteri soal PTM terbatas tersebut disikapi secara bijak. PTM ini tetap berprinsip: 1) kesehatan dan keselamatan prioritas utama dalam penetapan kebijakan, penyelenggaraan pendidikan; dan 2) mempertimbangkan tumbuh kembang dan hak anak selama pandemi Covid-19. (Kemdikbud)

Dengan prinsip ini pemerintah sudah menerapkan tawazun dalam mengambil kebijakan. Tawazun merupakan suatu sikap untuk memilih titik yang seimbang atau adil dalam menghadapi suatu persoalan. Sikap tawazun sangat diperlukan agar tidak melakukan sesuatu hal yang berlebihan dan mengesampingkan hal-hal yang lain. (NU online)

Tujuan tawazun itu didisain untuk memberi kesimbangan dalam berbagai dimensi, sehingga tercipta kondisi yang stabil, sehat, aman dan nyaman (NU online). Oleh karena itu sikap tawazun ini harus diterapkan dalam pelaksanaan PTM selama pandemi, agar PTM bisa berjalan seimbang antara belajar dan kesehatan. Karena jika mengabaikan salah satu diantaranya, maka akan memunculkan masalah baru.

Dalam konteks PTM ini, pemerintah sudah menyimbangkan antara belajar dengan kesehatan. Sekolah/madrasah boleh belajar tatap muka tapi terapkan protokol kesehatan ketat, begitu juga sekolah/madrasah boleh memilih belajar daring dengan memperhatikan kualitas materi pelajaran.

Dalam PTM biasanya ada pilihan: 1) belajar tatap muka dengan intensitas interaksi yang tinggi: kerumunan, jarak dengan resiko kesehatan tinggi; 2) PJJ tanpa interaksi langsung, tapi minim komunikasi pembelajaran langsung, rentang dengan kebosanan, kejenuhan. Ini pilihan yang sulit yang memiliki kekuatan dan kelemahan. Sikap tawazun sangat penting dalam kondisi ini.

Meskipun tawazun memberikan suatu keseimbangan atau keadilan, bukan berarti harus menempatkan posisi di tengah-tengah atau jalan tengah. Sebuah pertengahan belum tentu menunjukkan suatu keseimbangan, ini tergantung bobotnya. Tujuannya adalah agar tidak melakukan sesuatu hal yang berlebihan dan mengesampingkan hal-hal yang lain.

Tawazun dalam PTM bisa diimplementasikan dengan pembelajaran yang holistik, disamping belajar normal, siswa dibimbing untuk memiliki kemampuan untuk hidup di era pandemi, kemampuan hidup di masa sulit. Bagi siswa, bisa belajar nyaman ditengah ketidaknyaman, bagi guru, bisa mengajar aman ditengah kondisi tidak aman.

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan PTM dengan prinsip tawazun: a) mengajak siswa berpikir; b) mengasah kecerdasan emosional; c) memupuk sikap dan kecakapan mandiri; d) saling ketergantungan; e) mengasah sensasi ganda (menggunakan sejumlah indera bersama-sama); f) artikulasi, membicarakan atau menulis pikiran. (Ginnis, 2008).

Tawazun PTM harus diimplementasikan dalam beberapa aksi nyata yang ‘menggembirakan’ peserta didik: Pertama, harus diingat bahwa PTM di masa pandemi merupakan pembelajaran transisi (UNESCO) dimana ada perubahan moda pembelajaran dari yang sebelumnya daring atau PJJ ke PTM. Transisi ini harus dilaksanakan dengan bijak, karena sudah lebih satu tahun pembelajaran daring dilakukan, bisa dikata siswa sudah terbiasa belajar sambil pegang gadget.

Kedua, PTM ini belum normal, masih tahap uji coba. Hanya diboleh 50% dari kapasitas kelas, artinya 50 % siswa berada di rumah sewaktu setengah yang lain sedang PTM. Supaya adil dan tawazun, kedua kelompok ini wajib diselamatkan, tidak boleh dibeda bedakan. Disini peran dan kreativitas guru sangat menentukan. Guru dalam kondisi ini harus mendisain pembelajaran yang bisa dikomunikasikan secara tatap muka tapi juga bisa dipelajari oleh siswa yang berada di rumah.

Ketiga, disadari atau tidak, PTM selama pandemi itu penuh dengan ‘tekanan’ yang mempengaruhi psikososial siswa, dan juga guru. Selama ini, siswa hanya diatur dalam urusan ‘pembelajaran’ yang sifatnya umum, tapi selama pandemi, siswa itu atur mulai dari kedatangan ke sekolah atau madrasah sampai melangkahkan kaki mau pulang.

Hampir semua gerak gerik siswa dipantau, diawasi agar cocok dengan protokol kesehatan: 1) memakai masker; 2) mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir; 3) menjaga jarak; 4) menjauhi kerumunan, serta 5) membatasi mobilisasi dan interaksi. Kelima ‘gerak’ ini bukan hal yang mudah dilakukan oleh orang seumur siswa.

Keempat, “Tekanan psikososial’ dalam PTM selama pandemi harus disikapi guru dengan arief dan bijaksana. Materi pembelajaran yang diberikan haruslah berprinsip ‘comprehensible input’, materi yang mudah dipahami oleh siswa tanpa ada bantuan pihak lain, materi yang bisa dikerjakan siswa dengan senang hati dan riang gembira.

Kelima, sekali lagi, PTM selama pandemi penuh dengan ‘drama’ karena ada prokes yang ketat, 50% dari kapasitas, dll. Belajar dalam tekanan akan membebani psikososial siswa, maka komunikasi guru dengan siswa haruslah selalu menggairahkan semangat siswa. Diharapkan tidak tuturan guru yang melemahkan motivasi siswa. Ini bisa dilakukan guru dengan berkomunikasi santun: tuturan penuh puja puji, penuh tawa dan senyum, tuturan yang lebih membantu, memberi solusi, dll.

Keenam, selama PTM, guru harus ‘all-out’ menyiapkan materi pembelajaran bagi siswa, materi itu haruslah interaktif dan atraktif yang akan menggembirakan siswa dalam belajar. Diharapkan materi itu baru, belum pernah dipelajari siswa sebelumnya, sehingga menantang siswa dalam belajar.

Sekolah/madrasah harus berinisiatif untuk menyederhanakan kurikulum, membuat kurikulum adaptif. Sekolah/madrasah bisa memilah dan memilih Kompetensi dasar, penilaian, proses yang sesuai dengan psikososial siswa. Ini mendesak dilakukan karena kebijakan pemotongan alokasi jam belajar, pengurangan kapasitas kelas dan dibatasinya interaksi guru siswa.

Ketujuh, sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi, pembelajaran harus diseimbangkan dengan menggunakan teknologi, menggunakan platform pembelajaran. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam PTM terbatas akan memberi suasana yang berbeda yang bisa melenjitkan prestasi siswa atau sebaliknya, melemahkan motivasi siswa untuk belajar.

Memang PTM itu mendesak untuk dilakukan, tapi persiapan, kreativitas dan inovasi sekolah/madrasah kunci dari pelaksaan PTM ini. Ini adalah ikhtiar sekolah/madrasah untuk tawazun. Kita tunggu saja!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments