Minggu, 20 Juni 2021

Edarkan Racun Rumput Palsu, CV Ozil Tani Ganti Label Goquat jadi Primaxone, Alphatech jadi King-AP

Kamis, 18 Maret 2021 | 10:02:35 WIB


/ Metrojambi.com

 JAMBI – Polda Jambi mengamankan pengusaha bernama Jamal (40), warga RT 08 Talang Bakung, Kecamatan Paalmerah, karena diduga memalsukan label racun rumput berbagai merek.

Ketika diekspos ke media, Rabu (17/3/2020), pemilik CV Ozil Tani ini diperlihatkan sejumlah herbisida (racun rumput) berlabel palsu.

Kepala Sub Direktorat I Industri Perdagangan Ivestasi (Indagsu) Ditreskrimsus Polda Jambi AKBP Yuyan Priyatmaja mengungkapkan, bahwa penangkapan pelaku dilakukan pada 15 Januari 2021. Akan tetapi, ekspos media baru dilakukan karena menunggu hasil uji laboratorium atas barang bukti.

“Harus mengecek dan memastikan kualitas barang bukti dari laboratorium, sesuai tidak kandungannya," ujar Yuyan saat konferensi pers di Mapolda Jambi.

Jamal dan barang bukti diamankan dari kediamannya yang sekaligus juga tempat penyimpanan dan toko obat pertanian.

“Kita amankan pelaku saat akan mengganti stiker label menggunakan hot air gun (pemanas, red) supaya bila dibuka tidak rusak,” tambahnya. Saat itu ditemukan sekitar 100 lembar label herbisida palsu.

Dari penjelasan Yuyan diketahui, dalam menjalankan aksinya Jamal membeli racun rumput yang lebih murah, seperti Goquat dan King AP, lalu mencopot labelnya. Selanjutnya, dia membuat label merek racun rumput mahal yang sedang naik daun, seperti Primaxone dan Alphatech, untuk ditempelkan pada jeriken berisi Goquat dan King-AP.

Misalnya, racun rumput merek Goquat 140 SL dipasangi label Primaxone 276 SL lalu dijual dengan harga Primaxone. Harga Goquat asli Rp 150 ribu, sedangkan harga Primaxone berisi Goquat bisa mencapai Rp 300 ribu.

Cara yang sama dilakukan pada King-AP 220 AL, yang dilepas labelnya lalu diganti dengan Alphatech 240 SL. “Harganya dua kali lipat, omset dalam satu bulan bisa Rp 500 juta," tambah Yuyan.

Kode SL (Soluble, larut dalam air), menentukan efektivitas herbisida dalam membasmi  gulma atau rumput pengganggu lahan. Karena produk dengan kode SL lebih cepat membasmi gulma, maka harganya lebih tinggi dari produk berkode 220 AL.

Kepada polisi, Jamal mengaku melakukan kejahatan tersebut selama enam bulan. Tetapi penyelidikan polisi menunjukkan dia sudah beroperasi sejak dua tahun lalu. “Nanti kita buktikan di persidangan saja," kata Yuyan.

Diketahui, dalam sebulan, Jamal berhasil menjual 100-150 dus, yang didistribusikan ke berbagai daerah di Provinsi Jambi melalu toko-toko pertanian. Dalam dua tahun dia mengedarkan sekitar 2.000 dus herbisida bermerek palsu dengan omset sekitar Rp 12 miliar.

“Yang paling laku di pasaran dan paling dicari adalah Primaxone dan Alphatech. Makanya  dia berinisiatif mengelabui pembeli untuk mendapatkan keuntungan besar,” tambahnya.

Selama ini, distribusi dilakukan melalui CV Ozil Tani sehingga membuat para pelanggannya yakin  barang yang dijualnya asli dan resmi.

Saat pengerebekan beberapa waktu lalu, polisi mendapati tong -tong  berisi pestisida. "Kita masih dalami apakah ada pengoplosan juga atau tidak,” kata Yuyan.

Jamal akan dijerat dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pelindungan Konsumen dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda maksimal Rp 2 miliar.


Penulis: Novri
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj


TAGS:


comments