Rabu, 23 Juni 2021

Viyoshi Terlibat Jual Beli Alphard Bodong

Rabu, 14 April 2021 | 09:47:44 WIB


Viyoshi (jilbab hitam) saat ditangkap Tim Tabur Kejati Jambi
Viyoshi (jilbab hitam) saat ditangkap Tim Tabur Kejati Jambi / Metrojambi.com

 JAMBI - Kejaksaan Tinggi Jambi akhirnya bisa menjebloskan Viyoshi A Febrianto ke dalam penjara setelah buron selama hampir tujuh tahun. Viyoshi diamankan Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejati Jambi dan Kejaksaan Agung  di  Perumahan Bintaro Jaya, Sektor 2, Tangerang.

“Pukul 15.00 WIB sore ini dibawa ke Jambi dengan pesawat Citilink. Langsung dieksekusi ke Lapas Klas II Jambi,” ujar Asisten Intelijen Kejati Jambi Jufri, Selasa (13/4). Viyoshi diadili dan dihukum satu tahun pidana penjara dalam kasus penipuan dengan korban Muhammad Faiz Dahlan.

Informasi yang didapat Metro Jambi, kasus yang menjerat Viyoshi berawal ketika pada 2011 dia mengajak Mohammad Faiz Dahlan berbisnis minyak produksi Petronas Malaysia. Kepada Faiz dia mengaku menjabat Direktur CV Variasi Utama, tinggal di Jalan Catelya I No. 1 Sungai Putri, Kota Jambi.

Dia juga mengaku memerlukan uang untuk membeli 20.000 metrik ton solar ke Petronas, bekerja sama dengan Kenzie Tan, Direktur KT Shipping Service. Untuk meyakinkan, Viyoshi juga mengajak Faiz Dahlan ke Singapura untuk bertemu Kenzie Tan, tetapi sampai di Singapura hanya disuruh menunggu di luar Hotel Tamara Singapura.

Menariknya, pada Januari 2012, Faiz Dahlan tetap mentransfer USD  62.000 (saat itu setara Rp 600 juta) ke rekening KT Shipping Service di United Overseas Bank Ltd Singapore. Viyoshi menjanjikan Faiz keuntungan dari bisnis ini.

Faiz mentransfer dari Bank International Indonesia (BII) Batam (Bank BII Batam). Janji Viyoshi, minyak akan dikirim dalam tiga hari. Namun, minyak tidak pernah datang, keuntungan yang dijanjikan pun tidak pernah diberikan ke Faiz Dahlan.

Jufri mengatakan, Viyoshi dihukum berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI No. 1671 K/Pid/2013 tanggal 26 Februari 2014 karena terbukti menipu Faiz Dahlan.

Perempuan kelahiran Bandung 31 Agustus 1965  itu pernah ditahan oleh penyidik dan penuntut umum, tetapi sempat dibebaskan oleh PN Jambi. JPU mengajukan kasasi, tanpa menahan Viyoshi.

Selain kasus penipuan, Viyoshi juga diduga terlibat kasus jual beli mobil bodong dengan korban berinisial LA. Kasus ini dilaporkan ke Polda Jambi pada Desember 2020.

“Sudah dalam penyelidikan di Subdit III Polda Jambi," kata Endang Kuswardani, pengacara LA.

Menurut Endang, LA dan Viyoshi berteman. Suatu waktu, LA ingin membeli mobil dan menyerahkan uang Rp 163 juta ke Viyoshi. Viyoshi lalu mengirimkan mobil Toyota Alpard kepada LA.

“Dari awal sudah ada kejanggalan. Klien kita mau beli mobil (lain), tapi dikirim Alphard,” kata Endang.

Belakangan diketahui plat nomor polisi Alphar yang dikirim tidak sesuai STNK alias bodong. Kliennya, kata Endang, mencoba menghubungi Viyoshi, tapi dia menghilang. Karena itu, dengan mobil tersebut keluarga LA mencari Viyoshi ke Jakarta .

Apesnya, saat di Jakarta, mobil tersebut kena tilang karena salah parkir. "Karena plat dan STNK berbeda, akhirnya mobil ditahan di Mabes Polri. Ternyata mobil itu punya orang lain," kata dia lagi.

Diakuinya, LA sempat diinterogasi terkait asal muasal mobil tersebut. "Klien kita menjelaskan bahwa mobil itu dibeli dari Viyoshi. Mobil itu ditahan, uang klien kita tidak dikembalikan. Makanya kita melaporkan kasus penipuan," pungkas Endang.


Penulis: Sahrial
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj


TAGS:


comments