Sabtu, 27 November 2021

Memimpin itu Menderita: Pesan Untuk Gubernur Jambi Terpilih

Jumat, 28 Mei 2021 | 14:51:00 WIB


Amri Ikhsan
Amri Ikhsan / istimewa

Oleh: Amri Ikhsan

HASILNYA, pasangan 03 Al Haris-Sani unggul sebesar 55,62 persen, diikuti oleh pasangan 01 Cek Endra-Ratu sebesar 42,93 persen dan pasangan 02 Fachrori-Syafrial sebesar 1,45 persen. (Metro Jambi).

Itu adalah hasil Real quick Count PUTIN di Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi, Kamis, 27 Mei 2021. Selamat kepada pasangan Haris Sani.

Satu pesan disampaikan kepada pasangan ini: “ “Leiden is Lijden” :  “memimpin adalah menderita”. Pesan ini mesti disampaikan kepada Gubernur Jambi terpilih, kesediaan dan kerelaan pemimpin untuk hidup menderita demi rakyat, ini bukan berarti pemimpin harus menderita. Ini hanyalah salah satu pilihan jalan pengabdian, yang biasa dilalui oleh pemimpin yang punya niat membahagiakan rakyat yang dipimpin lebih utama dibanding pemimpin dan keluarganya.

 Pemimpin yang baik adalah mereka yang memilih terdepan dalam derita dan terakhir dalam bahagia demi yang dipimpinnya. “Leiden is Lijden” ini memang terasa berat untuk dijalankan, terutama bagi yang memandang kepemimpinan sebagai kekuasaan—“memimpin adalah dilayani”. Tak heran, di zaman ketika pemimpin sudah dilihat sebagai sebuah profesi, sebuah kebanggaan, sebuah trend seperti saat ini, hampir tak ada pemimpin yang rela menderita.

Siap menjadi pemimpin berarti siap untuk menderita. Menjadi pemimpin harus siap menerima semua pendapat mulai dari yang baik dan membangun hingga pada pendapat pahit yang hanya bisa disimpan di dalam hati. Siap ‘mengorbankan’ keluarga untuk mendekati ‘kekuasaan’, siap ‘membubarkan’ tim sukses yang memang susah sukses.

Siap bekerja tanpa membeda beda latar belakang politik, tanpa mempertimbangkan ‘data KPU’ daerah mana yang menyumbang suara terbanyak, tanpa mencatat siapa penyumbang donasi terbesar, siapa yang sudah ‘berkorban’ untuk membantu. Pemimpin itu bekerja seperti ‘orang baru’ yang baru datang, tidak kenal siapa siapa.

Pemimpin juga harus merasa kesatria jika memang salah.  Pemimpin juga harus mau dikritisi karena mereka hidup di dunia nyata apalagi di dunia maya, dimana publik bebas ‘berbicara’ kadang - kadang tanpa batas. Karena memang pemimpin berpotensi untuk melakukan kesalahan atau kekhilafan.

Menurut catatan sejarah, Indonesia memiliki sebuah cerita romantis soal sosok pemimpin yang memilih hidup menderita. Kasman Singodimedjo menjulukinya sebagai sosok “Leiden is Lijden”. Sosok itu tak lain adalah Haji Agus Salim. Haji Agus Salim adalah seorang pemimpin, dan pejuang kemerdekaan, yang hidupnya indetik dengan penderitaan. Ia hidup bersahaja bersama keluarga kecilnya. Penderitaanya lebur dalam kepemimpinannya, dan kepemimpinannya lebur dalam penderitaan.

 

Padahal jika mau memilih hidup ”normal” beliau akan kaya raya. Tetapi beliau lebih memilih melarat karena tidak mau diikat oleh dunia. Jangankan meminta kenaikan gaji dan tunjangan, berfikir mengenai hal itu saja tidak terlintas dalam benaknya.

Di kontrakan, H. Agus Salim, kira-kira enam bulan sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur. H. Agus Salim berpendapat bahwa dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat di lain kota atau negeri. (Prisma No 8, Agustus 1977)

Memimpin dengan jiwa “Leiden is Lijden” memang masih sulit di temukan pada pemimpin saat ini. Tidak bisa dipungkiri, pemimpin identik dengan ‘berkuasa’ atau ‘tukang perintah’. Jabatan ini ‘seksi’. Orang rela mengorbankan apa saja demi merebut kursi kekuasaan. Biasanya mereka siap mengeluarkan uang miliaran untuk mendapatkan jabatan ini, mereka mau berjanji apa saja asal dipilih rakyat.

Sesusah-susahnya pemimpin, ia tetap minimal naik mobil Innova, HP mahal, duduk di sofa, ruang an full AC, dan hidup enak, memiliki banyak ajudan, semua kebutuhan disiapkan oleh Negara, dll. Biasanya bagi bawahan, tidak ada kata ‘tidak’ kalau pemimpin itu sudah berbicara.

Kepada Calon Gubernur terpilih, mandat sudah diberikan. Mandat ini lahir dari rahim rakyat dan harus diterima sebagai sesuatu yang sakral dan suci. Kami sadar mandat ini berat, tidak semua pemimpin sanggup memikul amanat ini. Kami ini beragam, berbeda beda keinginan, berbeda kebutuhan, semua kami ingin cepat kehendak kami terkabul. Sifat, kelakuan, bahasa kamipun beragam.

Kami memang menunggu konsistensi pemimpin untuk memilih jalan ‘menderita’ dalam mengabdi bukan hanya manis di mulut, bukan slogan kampanye belaka. Kami menunggu ‘penderitaan’ pemimpin dalam memikirkan nasib rakyat, menghabiskan pikiran dan waktu untuk ‘membahagiakan’ rakyat.

Terus terang, kami tidak mau pemimpin kami mental jelata, tak kuasa melayani, hanya bisa dilayani. Berusaha mendahulukan usaha menaikkan gaji dan tunjangan berlipat-lipat, beli mobil dinas baru, bangun ruangan mewah agar tidak berpeluh-kesah, berbalas budi dengan transaksikan alokasi anggaran untuk tim sukses dan partai pengusung; pertontonkan kemewahan sebagai ukuran kesuksesan; utamakan manipulasi pencitraan, bukan mengelola kenyataan.

Harapan kami, jangan biarkan petani, nelayan, pedagang dan rakyat jelata tergusur menyerahkan tanah kepada tuan-tuan tanah dan nantinya akan dibangun perumahan mewah, mall besar. Jangan biarkan petani, nelayan, perajin terus merugi: menjual murah sebagai produsen dan membeli mahal sebagai konsumen.

Jangan biarkan anak anak bangsa putus sekolah hanya karena pendidikan mahal, jangan biarkan guru mengajar ála kadarnya’ hanya karena tidak pernah ikut pelatihan. Jangan biarkan rakyat meninggalkan budaya dan tradisi leluhur, karena terlalu ásik’ main gadget dan karena kurangnya keteladanan dari pemimpin. Jangan biarkan kekerasan dan narkoba ‘mengganggu’ kehidupan kami.

Memang memimpin itu adalah menderita. Kalau pemimpin itu ingin terhubung dan ingin melihat dan menanggung penderitaan rakyat, dia harus duduk di tanah paling rendah dari rakyatnya, kekuasaannya harus diposisikan pada tempat yang paling paling hina diantara rakyatnya. Kalau tidak, atau pemimpin itu ‘sok’ berkuasa, bisa dipastikan rakyat akan menjauh. Dia harus menganggap dirinya pelayan yang tanpa mengeluh untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Kita mengharapkan gubernur  terpilih memimpin dengan sifat lemah-lembut dalam ketegasannya, cerdas, ramah, dan dekat dengan rakyatnya di tengah kesibukannya, dihiasi kesabaran, kesalehan, dan keberpihakannya pada kebenaran.

Diakui, memilih pemimpin tidaklah mudah. Pemimpin yang baik adalah  pemimpin betulan bukan pemimpin kebetulan. Pemimpin betulan adalah pemimpin yang memenuhi ketentuan-ketentuan dan persyaratan yang dipersyaratkan. Sedangkan pemimpin kebetulan adalah orang yang kebetulan menjadi pemimpin.

Selamat kepada Gubernur Jambi Terpilih, semoga sehat dan diberi kekuatan menjalankan amanah yang maha berat ini,  Aamiin!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah


Penulis: Amri Ikhsan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments