Minggu, 25 Juli 2021

Jangan Menambah Beban Atau Menolak Pasien Covid-19

Rabu, 23 Juni 2021 | 14:28:29 WIB


/ istimewa

JAMBI - Sudah hampir 2 tahun wabah Covid-19 melanda Indonesia, termasuk Provinsi Jambi. Namun selama itu pula masih banyak masyarakat yang mengucilkan para pasien positif Covid-19. 

Tidak hanya warga yang positif yang dikucilkan masyarakat. Keluarga atau orang-orang terdekat si pasien juga mendapatkan perlakuan sama oleh masyarakat. 
 
Sungguh perlakuan yang sangat tidak diharapkan bagi pasien Covid-19. Perlakuan inilah yang terlihat nyata di kalangan bawah dan cukup dirasakan pasien maupun keluarganya. 
Dengan demikian artinya pemerintah harus lebih membirkan edukasi nyata kepada masyarakat, agar perlakuan mengucilkan tidak perlu lagi terjadi.
 
Bagi mereka yang telah mengalami perlakuan seperti itu, tidak menutup kemungkinan akan terpukul. Rasa malu dan minder cukup dirasakan. 
 
Perlakuan ini jauh berbanding terbalik dengan edukasi yang diberikan oleh pemerintah. Dimana dalam bahasa yang sering diutarakan jauhi penyakitnya bukan orangnya. 
 
Tapi, kenyataannya jauh berbeda, bukan hanya penyakit tapi orang yang positif dan terduga Covid-19 juga mendapatkan perlakuan sama di kalangan masyarakat.
"Orang-orang bilang jauhi penyakitnya jangan orangnya. Itu hanya sebatas pribahasa. Kenyataan beda. Ketika kita dinyatakan positif atau terduga Covid-19, langsung mendapat pengucilan dari warga. Tidak hanya yang positif tetapi keluarga juga mendapatkan kucil kan," ujar salah satu warga yang sempat dinyatakan positif Covid-19, yang tidak ingin namanya disebutkan.
 
Perlakukan ini juga tidak hanya dialami oleh dirinya, namun hampir seluruh pasien yang dinyatakan positif dan terduga Covid-19 mengalami hal yang sama. Tidak ada dukungan moril dari para tetangga. "Bahkan untuk berpapasan saja, warga enggan dengan kita," bebernya.
 
Inilah perilaku yang terjadi di masyarakat akibat kurangnya edukasi dari pemerintah. Bayangkan, jika pasien yang positif meninggal dunia mingkin perlakuan kepada keluarga pasien jauh lebih buruk dialami. 
 
Bukan hanya waktu dua atau tiga minggu dikucilkan dari warga. "Yang terduga saja seperti ini perlakuannya, bagaimana bagi keluarga yang meninggal dan dinyatakan positif," katanya.

Menurutnya, kita tidak boleh berprasangka buruk pada penderita dan keluarganya yang sakit atau memiliki gejala mirip dengan Covid-19. Jika ini terus dilakukan, maka orang menyembunyikan sakitnya supaya tidak didiskriminasi dan membuat mereka tidak menjalankan perilaku hidup sehat.
 
Sebab, perlakuan negatif hanya akan memperparah keadaan baik secara mental maupun pada penyebaran penyakit itu sendiri. Pasien Covid-19 akan tertekan dengan adanya perlakuan ini. 
 
Lantas, bagaimana menghilangkan perlakuan negatif di masyarakat ini? 
 
‘’Jangan menambah beban dengan menjauhi, membicakaran atau menolak mereka di tengah masyarakat. Berikan dukungan agar para pasien dan keluarganya bisa berpikir positif dan bisa lebih cepat sembuh,’’ katanya.
 
Tokoh masyarakat juga berperan penting membantu warganya menghadapi pandemi Covid-19. Memperbanyak informasi mengenai penyakit ini dan berbagilah pada sesama serta membantu mengurangi ketakutan dan kecemasan. Setiap keluarga juga diharapkan dapat memiliki sarana dan mau mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir.

Penulis: (*)
Editor: ikbal ferdiyal



comments