Sabtu, 18 September 2021

Komposisi Musik Elegi : Sebuah Misteri

Rabu, 23 Juni 2021 | 11:56:11 WIB


Muhammad Alfath
Muhammad Alfath / istimewa

SIANG itu, 17 Juni 2021, di Studio Seni Program Studi (Prodi) Sendratasik Universitas Jambi (UNJA), tampak banyak orang berkumpul sambil berbincang. Di ruangan studio, hawa sejuk dari AC menyentuh badan. Alunan musik dari pengeras suara merambat ke seluruh pejuru ruangan, dan perlahan menyusup ke pikiran, dan jiwa melalui indra. Seketika, ruang nan sejuk itu “memanas” sebab intensitas diskusi yang kian meningkat. Ini ialah sekilas gambaran suasana pada saat acara bedah karya musik berjudul “Elegi” yang diciptakan oleh Indra Gunawan, yang merupakan salah seorang dosen di Prodi Sendratasik UNJA.

Acara pertunjukan musik dan bedah karya dimulai kira-kira pukul 14.00 WIB. Acara di buka oleh seorang MC. Lalu, sebelum acara inti terlebih dahulu ditampilkannya karya berjudul Swan Lake dari Tchaikovsky untuk duet piano dan biola oleh dua musisi wanita. Kemudian, dilanjutkan dengan pertunjukan resital instrumen saksopon yang membawakan dua repertoar. Pertama berjudul Concerto Miniature garapan Leroy Ostransky, dan kedua karya aransemen lagu melayu Jambi dengan judul Kuala Sedu. Pada repertoar yang pertama, solo saksopon diiringi oleh suara piano yang diputar dari laptop. Kemudian, penyajian lagu Kuala Sedu, solois saksopon diiringi oleh instumenkeyboard, gitar bass, dan drum set. Di samping itu, sebagai selingan, beberapa lagu lainnya juga dinyanyikan oleh mahasiswa-mahasiswa Sendratasik Unja.

Komposisi musik Elegi dipertunjukkan setelah penampilan-penampilan di atas. Karya yang dikomposeri oleh Indra Gunawan ini disajikan dengan menggunakan empat alat musik gesek berdawai, terdiri dari dua biola, satu biola alto dan cello dalam format strings quartet. Nada demi nada dikeluarkan, lalu membentuk suatu irama, terus bergerak dengan perkembangan, disertai berbagai sisipan, kemudian hilang. Begitulah penggalan karya musikElegi. Karya ini  berkarakter melodis, ornamentatif, dinamis, dan membawa kesan liris.

Setelah karya Elegi dipertunjukkan, acara dilanjutkan dengan sesi presentasi dan diskusi. Indra Gunawan dan moderator duduk di depan panggung. Pokok-pokok materi ditampilkan pada layar proyektor di samping kanan panggung. Saat itu, komposer mengatakan bahwa tema musikal  yang dihadirkannya atas dasar pengamatan dan pengalamannya terhadap nyanyian Krinok (salah satu nyanyian tradisi rakyat Jambi).

Ia menelusuri Krinok dari berbagai sumber dan juga dari penelitian-penelitian lain, salah satunya penelitian Krinokyang dilakukan oleh Prof. Mahdi Bahar (guru besar di Sendratasik). Komposer mendapati aspek-aspek musikal dari Krinok secara identik diantaranya berisi suatu skala nada, ornamen-ornamen (hiasan yang melekat pada melodi), dan figur musik. Elemen-elemen itu disarikannya menjadi sebuah tema musikal, kemudian dikembangkan menjadi komposisi musik satu bagian beserta sisipan (intro, coda). 

Berdasarkan data-data yang telah didapatkan, Indra juga mendapati Krinok pada mulanya bukanlah seni pertunjukan (tontonan), namun suatu bentuk nyanyian ratapan. Persoalan ini menjadi ide musikal dalam karyaElegi. Di samping rajutan bunyi yang membawa nuansa liris, kesan emosional tersebut secara gamblang tersampaikan pula dari judul karyanya. Bagi komposer, Elegi diartikan sebagai ratapan, kesedihan atas kehilangan, kematian, dan lain sebagainya. Namun, di komposisi musik itu, ia tidak memindahkan secara langsungkarakteristik ratapan dari Krinok, tetapi hanya meminjam elemen musikalnyalalu digarap menjadi karya musik sebagai media ratapan atas pengalaman individual komposer.

Pemaparan dari komposer tersebut, memantik diskusi yang cukup intensif. Dari sekian banyak pertanyaan yang muncul, di tulisan ini, penulis hanya ingin mengangkat salah satu pertanyaan dari penonton yaitu “keluh kesah apa sebenarnya yang dialami komposer sehingga ia meratap”, karena hal tersebut masih menjadi misteri. Saat di forum, komposer seakan menutupi persoalan itu, karena mungkin bersifat privasi. Namun penulis melihat bahwa hal tersebut juga sebenarnya adalah untuk memberikan keleluasaan bagi penonton untuk turut juga berpartisipasi dalam menerjemahkan ratapan padadiri masing-masing. Disini penulis ingin mencoba sedikit mengulasnya berdasarkan hasil diskusi tersebut.

Saat presentasi, komposer menyinggung bahwa sejauh ini, Iamelihat bahwa pemahaman serta apresiasi musikologis mahasiswa Sendratasik UNJA masih kurang. Disini penulis menerjemahkan bahwa salah satu ratapan yang dimaksud oleh komposer adalah prihatin melihat kondisi mahasiswa Sendratasik tersebut. Komposer sebelumnya juga pernah mengatakan kepada penulis, masalah dari kebanyakan mahasiswa Sendratasik khususnya yang mengambil minat musik adalah pada orkestrasi (ilmu terkait pengaturan jalinan musikal beserta alat-alatnya). Hanya sedikit yang betah untuk mempelajarinya, baik karakter instrumen, maupun dinamika musik.Banyak faktor,entah itu dari pribadimahasiswanya ataupun sebab dari luar.Menurut pandangan penulis, wajar saja komposer membuat karya Elegi secara sederhana, tujuannya agar mudah untuk dirasakan (jalinan musiknya tidak begitu rumit), dan terkesan misterius agar penonton penasaran dan ingin tahu lebih jauh.

Penulis menyadari bahwa pandangan di atas belum tentu sepenuhnya benar. Mungkin saja ada hal lain yang diratapi oleh komposer.Sampai sekarang penulis masih bertanya-bertanya, dan masuk pada “kemisteriusan” karya Elegi. Oleh karena itu, penulis melihat bahwa misi dari komposer adalah memang ingin menjadikan penonton untuk merasa penasaran dengan karyanya, sehingga dapat merenungi kembali ratapan apa yang dimaksud dari karyaElegi, dan merefleksikan pada diri masing-masing.

Karya Elegi ini sepertinya belum selesai. Masih banyak hal yang bisa dilakukan oleh komposer, seperti menggarapnya ke divisi instrumen musik tiup, perkusi, vokal, bahkan orkestra. Karena di Sendratasik Unja tidak hanya ada instrumen gesek (strings), namun terdapat beberapa alat musik lainnya.Yang mana, setiap instrumen itu mempunyai karaktermasing-masing, sehingga membuatnya memiliki tingkat kerumitan orkestrasi yang berbeda-beda. Dengan menggarap karya Elegi ke berbagai alat musik, tampaknyainijugabisa menjadi solusi untuk pemecahan persoalan yang sedang dihadapi oleh komposeragar lebih optimal. ***

Penulis adalah  Mahasiswa Program Magister, Penciptaan dan Pengkajian Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang 


Penulis: Muhammad Alfath
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments