Selasa, 19 Oktober 2021

Omset Mal Anjlok 60 Persen

Jam Operasional Hingga Pukul 17.00 WIB, Traffic Pengunjung Turun Drastis

Senin, 26 Juli 2021 | 08:14:28 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi /

 JAMBI - Pandemi Covid-19 memberikan dampak serius terhadap mal dan pelaku usaha pada mal-mal di Kota jambi. Tak hanya traffic pengunjung, event-event yang biasanya rutin digelar pun turun drastis. 

Marketing Communication Section Head Lippo Plaza Jambi Farhan Fadhory mengatakan bahwa pandemi Covid-19 dan kebijakan pemerintah soal Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berjalan sejak awal pekan lalu membuat traffic pengunjung anjlok drastis.

“Traffic turun sekitar 30-35 persen,” ungkap Farhan kepada Metro Jambi, Minggu (25/7). Sebelum pandemi, traffic pengunjung harian Lippo Plaza berkisar di angka 2.500-3.000 orang. Memasuki masa pandemi Covid-19 sejak 2019, traffic harian pengunjung berada pada kisaran 1.500-1.700 orang.

Mematuhi kebijakan pemerintah, kata dia, jam operasional Lippo Plaza kini diatur dari pukul 10.00-17.00 WIB setiap harinya. “Sebelumnya, mal dibuka pukul 10.00-22.00 WIB,” tambah dia.

Farhan mengakui, banyak pelaku usaha atau tenant di mal tersebut yang kesulitan membayar sewa atau bahkan meminta pengurangan. Bahkan, ada gerai yang tutup.

“Ada dua yang tutup, yakni Elizabeth dan Butik,” jelasnya. Hanya saja, mempertimbangkan kode etik, Farhan enggan menyebutkan nilai sewa masing-masing gerai di Lippo Plaza.

Menurut Farhan, sistem jam operasional kerja karyawan Lippo sendiri kini menggunakan rasio 25:72, yakni 25 persen work from office (WFO) dan 75 persen work form home (WFH). Namun dia tidak menyebutkan adanya pengurangan karyawan. “Confidential,” katanya.

Beberapa pelaku usaha yang beroperasi di sejumlah mal juga mengaku mengalami kesulitan terus-menerus sejak merebaknya virus corona. “Menurun drastis,” kata Hendry, manajer Hypermart Lippo Plaza Jambi, kepada Metro Jambi, Minggu (25/7).

Hendry menjelaskan, dibandingkan dengan tahun lalu (year on year), omset Hypermart Lippo mengalami penurunan 18 persen. “Jika dibanding dengan omset bulan lalu, ini sudah minus 24 persen,” ujarnya.

Kebijakan pemerintah terkait pandemi, misalnya pembatasan pengunjung mal dan event, mengharuskan Hypermart melakukan penyesuaian. Jam kerja bahkan jumlah karyawan pun dikurangi. Tetapi, gaji karyawan yang masih bekerja tidak dikurangi.

Memang, lanjut Hendry, jumlah karyawan yang dikurangi tidak banyak, yakni hanya lima orang, namun tetap saja memberi dampak ke masyarakat. “Sebelumnya karyawan kita 40 orang, sekarang tinggal 35,” kata dia.

Secara terbuka Hendry menjelaskan bahwa pada 2020 omset per bulan berada pada kisaran Rp 10-12 miliar atau Rp 800 juta-Rp 1 miliar per hari. Sejak PPKM pekan lalu, lanjut dia, mencapai omset di angka Rp 600 juta per hari saja susah. 

Di sisi lain, tambah dia, biaya sewa, listrik dan air di mal Lippo Plaza masih normal.

Terpisah, Manajer Jagoan Bakso Malang Jamtos Kani Ahmad menyampaikan bahwa pandemi membuat omset menurun dan jumlah karyawan mau tidak mau harus dipangkas. Sebelum pandemi, omsetnya bisa mencapai Rp 250 juta per bulan. Kini sekitar Rp 100 juta.

“Turun drastis,” ujarnya saat ditemui, Minggu (25/7). Awalnya, Jagoan Bakso Malang mempekerjakan 14 karyawan. Kini dipangkas tinggal 12 orang. Itu pun tidak kerja penuh waktu.

“Pertengahan tahun kemarin sempat lancar, jadi 12 orang tersebut full kerja. Setelah ada PPKM, dengan adanya pembatasan jam operasional kerja yang biasanya ada dua shift, kini jadi satu shift," jelas Kani.

Karena satu shift dinilai sama dengan satu hari kerja, maka pendapatan karyawan pun berkurang. “Jadi, berapa hari kita masuk itulah yang digaji. Tidak full, jauh sekali,” ungkapnya.

Diakuinya, karena penjualan menurun, tidak jarang pihaknya membuang sisa makanan yang tidak bisa tahan lama. “Terpaksa produksi hariannya kita batasi. Jika ada permintaan lebih, ya, kita kasih tahu sudah sold out,” ujar dia.

Kabag Perekonomian Setda Kota Jambi Evridal Asri tidak menepis bahwa mal-mal yang aktif beroperasi di Kota Jambi kini terkena dampak serius pandemi Covid-19.

Dia mengatakan, penurunan pendapatan mal-mal tersebut bisa mencapai antara 50-60 persen. Bahkan, ada mal dengan jejaring nasional yang mengalami pertumbuhan minus alias merugi. Namun, Evridal tidak menyebut nama mal dan angka pasti penurunannya.

Hanya saja, berbeda dari Jamtos, WTC dan JPM yang dimiliki pengusaha daerah, mal-mal milik pengusaha nasional seperti Transmart dan Lippo Plaza Mal, masih mendapat support dari mal serupa di daerah lain yang mungkin “masih aman”. 

Diakuinya, kebijakan pemerintah membuat mal harus membatasi aktivitas. Kebijakan terkini, pusat-pusat perbelanjaan serta pusat perdagangan memang dibatasi beroperasi hingga pukul 17.00 WIB.

Kapasitas pengunjung dibatasi hanya 25 persen dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.  “Artinya, mal tutup lebih awal dan pengunjung dibatasi supaya tidak menumpuk,” ujarnya.

Pemerintah dengan kebijakan relaksasi ekonomi telah memberi peluang kepada pelaku usaha untuk membuka usahanya. Tetapi di sisi lain harus melaksanakan prokes, ditambah dengan kebijakan tutup lebih awal. “Ini membuat pendapatan mereka jauh berkurang," katanya.

Sementara masyarakat konsumen, meski bisa ke mal dengan prokes ketat, masih banyak yang memilih tidak menuju tempat-tempat umum, apalagi berbelanja. Banyak yang memilih berdiam di rumah.

Evridal menilai sejauh ini belum ada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang diberlakukan pengelola mal dan tenant di mal-mal. “Di Kota Jambi belum sampai kepada merumahkan atau memberhentikan karyawan,” ujarnya.

Para pengelola mal, menurut dia, cenderung mengurangi shift kerja. “Hita berharap jangan sampai pelaku usaha memberhentikan atau merumahkan karyawannya. Kita khawatir timbul masalah baru, yakni  penggangguran," ujarnya lagi.

Agar tidak menimbulkan efek domino yang lebih serius, untungnya, sebagian pengelola mal mengambil kebijakan yang mendukung para tenant-nya untuk terus beroperasi. Ada mal yang memberikan diskon sewa hingga 50 persen.

“Kalau tidak di-support oleh pengelola mal, mungkin sudah banyak tenant yang tutup,” ungkapnya.

Anjloknya pendapatan mal juga terbaca jelas pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Jambi. Kepala BPPRD Kota Jambi Nella Ervina mengatakan, bahwa PPKM Mikro di Kota Jambi kini sudah diturunkan dari level 4 ke level 3.

Ada pengetatan di sektor tertentu, tetapi ada pula kelonggaran di sektor esensial. Namun, tetap saja kebijakan itu tidak menguntungkan sebagian pelaku usaha yang otomatis juga mengurangi pemasukan daerah.

Dia mencontohkan kebijakan makan di tempat pada restoran yang dibatasi, sehingga otomatis membuat penerimaan daerah dari sektor restoran ikut berkurang. 

BPPRD sendiri memberikan kelonggaran kepada wajib pajak yang belum mempergunakan alat pemantau pajak atau terminal monitoring device (TMD) yang terkoneksi langsung kepada BPPRD. Namun, tetap saja banyak yang mulai kolaps.

“Sudah banyak usaha yang tidak mampu lagi bertahan. Pertama karena keterbatasan pengunjung, kemudian juga tidak mampu membiayai operasional. Tidak seimbang biaya operasional dengan pendapatan,” ungkapnya, Minggu (25/7).

Sehingga, banyak pelaku usaha mengajukan tutup sementara. “Mereka yang mengajukan tutup sementara, pajaknya kita proses untuk dihentikan juga. Jika mereka buka lagi, nanti kita kenakan lagi,” jelas Nella.

Nella mengatakan bahwa pajak dari berbagai jenis usaha mengalami angka penurunan berbeda-beda. Untuk restoran saja, jelasnya memberikan gambaran, pada 2021 Pemkot menargetkan sebesar Rp 60 miliar.

Tetapi per Juli baru terealisasi sebesar Rp 25 miliar atau 42 persen. “Artinya berkurang sekitar 9 persen atau Rp 5 miliar dari realisasi tahun lalu,” katanya.

Di mal, lanjut Nella, ada juga pajak parkir yang juga mengalami penurunan tajam. Dia mengungkapkan, target parkir 50 persen pada pertengahan tahun ini baru tercapai 8 persen. “Seharusnya paling sedikit 40 persen sudah tercapai,” katanya.


Penulis: nta/chy
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj


TAGS:


comments