Kamis, 28 Oktober 2021

Blind Spot Sepakbola Jambi

Rabu, 22 September 2021 | 13:48:02 WIB


Hadiyandra
Hadiyandra / istimewa

Oleh: Hadiyandra

PENGELOLAAN sepakbola, baik tingkat pusat maupun daerah, sepenuhnya menjadi kewenangan PSSI. Hal ini berarti pula bahwa kemajuan sepakbola di daerah ditentukan oleh regulatornya, yakni PSSI provinsi. Bersinergi dengan klub, pemerintah daerah, dan kantong-kantong pembinaan yang tersebar di wilayah kewenangannya harus dilakukan. 

PSSI Provinsi Jambi yang kepengurusannya akan berakhir di penghujung 2021 ini seakan-akan sedang berhadapan dengan dilematis akut kemajuan sepakbolanya. Prestasi tidak kunjung terlihat dalam satu dekade berlalu. 

Kompetisi berjenjang terkendala, baik teknis maupun nonteknis, kendala pandemi Covid-19 dua tahun terakhir. Kompetisi jenjang Askab/Askot tidak berjalan karena kabupaten kota tidak melihat adanya kelanjutan kompetisi pada jenjang di atasnya, peningkatan SDM terasa ada, tetapi tindaklanjutnya stagnan, dan harapan untuk berprestasi di ajang PON pun amat jauh karena tidak bisa lolos dari tingkat wilayah. 

Tidak terurainya benang kusut ini membuat sepakbola Jambi berada dalam zona blind spot, sisi gelap, yang tidak terlihat dan amat membahayakan. 

Blind Spot diartikan sebagai sisi gelap yang tidak terlihat oleh seorang sopir sehingga sangat membahayakan. Sisi gelap ini karena pandangan sopir terhalang oleh gerbong besar, terhalang oleh jangkauan terbatas kaca spion, terhalang karena tertutupnya pandangan ke kaca belakang. 

Untuk menghilangkan blind spot ini, PSSI Provinsi Jambi harus mengurai dirinya dalam setiap sel-sel sepakbola itu sendiri. Program pembinaan dan kompetisi berjenjang harus bergulir. Kompetisi tingkat Askab/Askot sudah terlalu lama tertidur. Padahal, jika itu berjalan, maka kompetisi/turnamen tingkat wilayah, provinsi, piala gubernur, piala asprov (baik kelompok umur ataupun senior) dengan sendirinya akan dapat digairahkan. 

Model kompetisi dengan sistem wilayah adalah bentuk ideal untuk Provinsi Jambi. Wilayah Barat dan Timur ideal karena dapat memperpendek mobilisasi dan penghematan anggaran klub. Dinamika berkompetisi pun meningkat karena ada sasaran lanjutan. 

Skema kompetisi sebagai lanjutan putaran askab/ askot dapat dilakukan dalam beragam bentuk. Misalnya,  peringkat 1 dan 2 kompetisi Askab/Askot dipertemukan di tingkat wilayah. 

Peringkat 1 daerah dipertemukan memperebutkan piala liga super gubernur, dan peringkat 2 daerah dipertemukan memperebutkan piala liga utama asprov. Kemudian, dua klub terbaik liga super dipertemukan dengan dua klub terbaik liga utama dengan tajuk piala interkonintal, piala DPRD Provinsi Jambi.

Apakah berakhir sampai di situ saja? Tentu tidak. Juara liga 3 Asprov menjadi kewajiban bersama untuk meningkatkan level klub ke liga 2. Caranya, 22 pemain tersebut mempunyai bapak angkat yang menjamin keberlangsungannya mengarungi kompetisi. Bapak angkat itu jika dibagi ke 11 kabupaten/kota, maka 1 kabupaten/kota mengasuh 2 orang pemain. 

Tentu rasanya tidak memberatkan. Bapak angkat untuk klub (dibaca sponsor utama) juga diupayakan dari perusahaan-perusahaan besar di wilayah ini. Inilah yang menjadi kewajiban pengurus asprov untuk mau bekerja keras mewujudkannya. Kewajiban ini beriringan dengan kemauan dan kerja keras klub dalam mempersiapkan dirinya.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa pemicu prestasi sepakbola daerah adalah perhatian dan kemauan pemilik klub. Bicara klub daerah di willayah Provinsi Jambi, maka tidak bisa dilepaskan dari pemerintah kabupaten/ kota. 

Hampir semua klub peserta liga melekat dan bahkan berketergantungan tinggi dengan anggaran daerah yang disalurkan lewat KONI atau langsung ke klub/ PSSI daerah. Sebut saja persitaj (Tanjabbar), Mosas (Tanjabtim), PS Muaro Jambi (Muaro Jambi), Persijam (Kota Jambi), Persibri (Batanghari), PS Bungo ( Bungo), PS Tebo ( Tebo), PS Sarolangun (Sarolangun), Persisko (Merangin), PS Kerinci (Kerinci), dan Sungaipenuh FC (Sungaipenuh). 

Klub-klub di atas semestinya harus dibesarkan oleh daerahnya masing-masing. Banyak sekali klub-klub di wilayah pulau Jawa dan wilayah Timur Indonesia yang bersinar di level liga (Liga 3, 2, dan 1) karena mendapat perhatian dari pemerintah daerahnya. Political will pemimpin daerahlah kuncinya. 

Bersinergisnya semua elemen, yakni klub, pemerintah daerah, Askab/Askot, dan sponsor diyakini akan melahirkan prestasi. Elemen terakhir yang disebutkan di atas, sponsor, akan mengalir dengan sendirinya manakala klub telah mulai menunjukkan keseriusan aktivitas, apalagi telah mampu berprestasi.

Makna sesungguhnya dari gambaran di atas adalah membesarkan klub. Sampai tataran ini, pemangku daerah (dibaca bupati dan walikota) haruslah ada dalam kebersamaan klub. Perhatian penuh dalam proses pembinaan dan penganggaran selayaknya dicurahkan. Asprov PSSI (PSSI Provinsi) lebih sebagai administrator yang melayani kepentingan klub dalam menggapai kesuksesan. 

Mindset yang mungkin selama ini kurang pas adalah menganggap Asprov PSSI lebih prestisius dibandingkan dengan klub. Sesungguhnya Asprov lebih pada menjalankan fungsi pelayanan. Asprov mutlak melayani semua kebutuhan anggotanya (klub) dalam menjalankan pembinaan dan kompetisi. Semua kebutuhan administrasi klub harus dipenuhi asprov agar kelancaran kompetisi/ liga tetap terjamin.

Lionel Messi bersinar di Barcelona, lalu berlabuh di PSG. Duo klub besar ini disebut seantaro dunia karena presiden klubnya. Nama klublah yang dikenal khalayak. PSSI-nya Spanyol dan Perancis hampir tidak pernah disebutkan. Ini membuktikan bahwa klub jauh lebih berpengaruh dibandingkan induk organisasinya. Dengan demikian pula, membesarkan klub jauh lebih penting dan bermakna dalam mengibarkan bendera prestasi.

Dengan tekad dan keinginan berasama ini, besar harapan kita, blind spot sepakbola Jambi akan berubah menuju prestasi yang telah lama dinanti masyarakatnya.


Penulis: Hadiyandra
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments