Selasa, 26 Oktober 2021

Minta Ada Sekolah di Dalam Hutan

Curhatan Orang Rimba di Depan Menteri Nadiem Makarim

Kamis, 23 September 2021 | 07:29:32 WIB


Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim bercengkrama bersama anak-anak orang rimba saat bermalam bersama orang rimba di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Selasa (21/9/2021). Nadiem Makarim bermalam bersama orang rimba saat melakukan kunjungan kerja di Provinsi Jambi
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim bercengkrama bersama anak-anak orang rimba saat bermalam bersama orang rimba di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Selasa (21/9/2021). Nadiem Makarim bermalam bersama orang rimba saat melakukan kunjungan kerja di Provinsi Jambi / Metrojambi.com/KKI Warsi

 JAMBI - Dalam rangkaian kunjungannya ke Jambi,  Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim bermalam dengan Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, pada Selasa (21/9).Mas Menteri –demikian sapaannya--, sempat berdialog dengan warga pedalaman itu.

Pertemuan Orang Rimba dengan Menteri Nadiem terjadi di Kantor Lapangan KKI Warsi, Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun. Nadiem menunjukkan rasa senangnya bisa berinteraksi dengan anak-anak rimba yang juga tinggal di bangunan kayu itu

Nadiem juga melihat langsung kegiatan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Bungo Kembang yang juga didukung Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Yohana Berliana Marpaung, Fasilitator Pendidikan Warsi yang juga pengurus PKBM, menyerahkan kaos hasil  karya anak rimba di kelas pelajaran keterampilan.

Kelas keterampilan ini salah satunya adalah  mencetak kaos untuk dijadikan souvenir yang bisa menambah pemasukan anak-anak rimba yang beranjak remaja.  Mereka juga memproduksi aneka kerajinan berbasis rimba, seperti kalung sebelik sumpah, anyaman rotan dan kotak tisu dari kulit kayu ipuh.

Kaos yang diserahkan kepada Menteri bertulisan "kamia ndok tokang baco tuliy".  Menerima kaos ini, Menteri bertanya makna tulisan tersebut. Yohana menjelaskan tulisan itu artinya: kami ingin bisa membaca dan menulis.

“Pengharapan anak rimba untuk masa depannya. Kaos ini merupakan hasil karya anak rimba yang sudah kehilangan rimbanya dan tinggal di bawah perkebunan sawit  biar pun kehidupan mereka sulit, mereka tetap semangat untuk tahu baca tulis,” kata Yohana.

Sebagai suvenir pernah berkunjung ke Orang Rimba, Menteri Nadiem juga menerima kalung sebeliksumpah yang diserahkan oleh Manager Program KKI Warsi Robert Aritonang, sesaat sebelum Mentri Nadiem meninggalkan lokasi kunjungan, Rabu (22/9) pagi.

Curhatan Orang Rimba



Kehangatan dan keramahan Mas Menteri di malam itu membuat Melandai dan Menalang tersipu-sipu saat diajak berbincang oleh pendiri Gojek itu. Murid kelas II SD Air Panas, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun, itu masih belum terlalu paham siapa yang tengah menyapanya.

Malu-malu mereka menjawab pertanyaan Nadiem. Di rumah kayu tersebut, Nadiem membangun dialog langsung dengan Orang Rimba. Dia mendengarkan curhatan langsung masyarakat yang jauh dari hingar bingar kota ini.

Orang Rimba menyampaikan, pendidikan sudah menjadi kebutuhan mereka untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Namun mereka tetap berharap mendapat pendidikan yang sesuai dengan kehidupan Orang Rimba.

Tungganai Basemen, tetua adat Orang Rimba, menyampaikan bahwa bagi mereka yang tinggal di dalam hutan yang dibutuhkan adalah guru yang bisa datang ke lokasi mereka. “Kalau sekolah di luar rimba, susah anak kami Bepak. Kami kalau bulih minta sekolahnya di dalam rimba tempat kami,”kata Tungganai.

KKI Warsi sendiri sebenarnya memiliki guru yang mengajar dengan cara datang langsung ke rombong-rombong Orang Rimba yang hidup terpisah-pisah di dalam kawasan hutan. Namun, tentu saja tidak semua anak-anak rimba yang sudah memasuki usia sekolah bisa tersentuh program ini.

Menurut Tungganai, Orang Rimba masih hidup berpindah untuk mencari penghidupan. Kondisi ini menyulitkan bagi anak-anak mereka yang ingin bersekolah. Sementara, tanpa sekolah Tungganai khawatir dengan masa depan Orang Rimba ke depannya.

Hal senada juga disampaikan oleh Temenggung Ngrip. Menurut Ngrip, kehidupan asli Orang Rimba sangat bergantung dengan hutan. Tetapi,  hutan semakin sempit, populasi Orang Rimba makin bertambah.

Kondisi ini menyebabkan Orang Rimba kesulitan mencari penghidupan. Kalau penghidupan sulit maka pendidikan juga akan sulit dilakukan.

Padahal, mereka tetap harus menyesuaikan diri dengan kehidupan modern. “Kami harop ko, bebudak harus bersekolah supaya anak anak kami tidak seperti kami orang tuanya.  Kami harop bebudak nantinyo dapat pekerjaan yang bagus bisa berbaur dengan orang luar,”kata Ngrip.

Mulung, salah satu kader pendidikan Orang Rimba, yang ikut mengajar anak-anak  Orang Rimba dikelompoknya di Punti Kayu, menyebutkan bahwa anak-anak didiknya tidak mau belajar kalau lagi kelaparan.

Katanya, sebagian besar Orang Rimba telah kehilangan hutannya sehingga sumber makanan juga hilang. Sebagian orang tua mencoba berburu dan meramu, yang lainnya terpaksa mencari brondolan sawit untuk dijual dan dibelikan bahan pangan.

Dengan kondisi ini, menurut dia, pendapatan Orang Rimba menjadi tidak menentu. Inilah yang dapat mengganggu proses belajar mereka.

Lain lagi yang disampaikan Depati Nyalo. Katanya, sumber penghidupan yang habis membuat mereka harus mencari tempat penghidupan baru sepanjang tahun. Kondisi ini menyulitkan anak-anak mereka untuk bersekolah.

Menteri Nadiem mencermati ungkapan-ungkapan hati Orang Rimba yang acapkali diselingi bahasa rimba yang harus diterjemahkan itu. Nadiem menyampaikan, pendidikan memiliki banyak bentuk dan tiap daerah memiliki karakteristik sendiri. 

Untuk itu, memerdekakan kurikulum dan pendidikan harus cocok dengan apa yang di butuhkan masyarakat berdasarkan kearifan lokal masyarakatnya.

“Ini suatu hal yang sangat menyenangkan buat saya belajar. Saya juga sadar perubahan hutan itu sangat berdampak kepada masyarakat yang bergantung kepada hutan, dan ini harus menjadi suatu hal yang di cermati pemerintah,”kata Nadiem.

Nadiem menyatakan sudah menyerap apa yang dibutuhkan Orang Rimba untuk pendidikan di masa depan. “Dari semua yang saya dengar, ujungnya adalah mata pencaharian. Itu kuncinya. Mata pencaharian adalah kunci permasalahan yang harus ditangani secara lintas sektor, bukan hanya pendidikan,”kata Nadiem.

Manager Program KKI Warsi Robert Aritonangyang hadir dalam pertemuan dengan Menteri Nadiem menyebutkan, kunjungan ini adalah bentuk kepedulian negara kepada masyarakat adat yang hingga kini masih berjuang mendapatkan kesetaraan dengan warga lainnya.

Selama ini persoalan mendasar yang dialami oleh Orang Rimba adalah kehilangan sumber penghidupan, setelah hutan yang menjadi rumah mereka beralih fungsi menjadi perkebunan dan hutan tanaman.

Katanya, butuh kesadaran semua pihak untuk memahami kondisi yang dialami Orang Rimba saat ini. Penyelesaian persoalan ini harus multisektor untuk pengakuan hak Orang Rimba atas lahan.

“Mau dimana lagi mereka hidup. Ini dulu dibenahi baru pendidikan akan memberikan hasil yang maksimal untuk mendukung kehidupan mereka,” kata Robert.


Penulis: mrj
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj



comments