Minggu, 24 Oktober 2021

Limbah PKS Pengabuan Diduga Cemari Sungai

Selasa, 12 Oktober 2021 | 09:38:35 WIB


Kolam limbah PKS Pengabuan.
Kolam limbah PKS Pengabuan. /

 JAMBI - Selama bertahun-tahun limbah pabrik kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara VI Unit Pengabuan di Renah Mendaluh, Tanjung Jabung Barat, diduga mencemari Sungai Pengabuan. Pencemaran terjadi karena tidak memadainya kolam limbah pabrik yang berkapasitas 30 ton per jam itu.

Masalah limbah ini sudah lama menjadi keluhan masyarakat sekitar PKS Pengabuan di Desa Pulau Pauh. Manajemen pabrik ini pun sudah mencoba mencari solusi, antara lain dengan land application atau mengaplikasikan limbah sebagai pupuk kimia ke kebun PT Bukit Kausar.

Selama ini, PKS Pengabuan mengolah tandan buah segar (TBS) Sawit PT Bukit Kausar yang tak lain adalah anak PTPN VI. Sebanyak 99 persen saham PT Bukit Kausar dimiliki oleh PTPN VI, sedangkan 1 persen dimiliki oleh Koperasi Karyawan Nusantara 6.

Metro Jambi mendapat foto kolam limbah PKS yang terlihat selalu penuh waste dari pabrik tersebut. Walau sudah diaplikasikan ke lahan perkebunan anak usahanya, level limbah selalu mencapai ketinggian dinding kolam.

“Limbah diduga bocor ke Sungai Pengabuan akibat tidak terkontrolnya land application,” ujar seorang sumber Metro Jambi.

Riset oleh tim Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara belum lama ini juga mengungkap rendahnya level green productivity pabrik tersebut. “Hal ini juga menyebabkan banyaknya laporan pembuangan waste pabrik ke Sungai Pengabuan oleh warga sekitar,” ungkap para peneliti tersebut.

Manajer PKS Pengabuan Adrian Alamsyah yang dikonfirmasi awalnya menolak memberikan jawaban. Dia menyarankan untuk menghubungi staf legalnya, Faranur Fadly. Namun, lewat pesan WhatsApp dia menyatakan, “sebagai info awal  PKS Pengabuan tidak membuang limbah ke sungai.”

Walau tidak membuang ke sungai, saat disebut bahwa limbahnya tetap mengalir ke sungai, Adrian juga membantah. “Gak ada itu, Pak. Boleh dicek,” ujarnya sambil buru-buru menambahkan agar menghubungi staf legalnya.

Faranur Fadly yang kemudian dihubungi Metro Jambi juga menepis tudingan itu. “Untuk pencemaran ke sungai dan dari tim teknis lapangan bahwa limbah tidak ada aliran ke sungai, Pak,” jelasnya melalui pesan WhatsApp, Jumat pekan lalu.

Saat diajukan pertanyaan lain, nomor WhatsApp Faranur sudah tidak aktif lagi atau mungkin memblokir nomor Metro Jambi.

Dihubungi terpisah, Dinas Lingkungan Hidup Tanjungjabung Barat meminta masyarakat melapor bila mengetahui masalah limbah PKS Pengabuan. “Adukan ke Bidang Penegakan Hukum, sampaikan masukan ke situ,” ujar Kabid Pengawasan DLH Tanjab Barat Apriansyah, Senin (11/10).

Dari Apriansyah terungkap,  land application limbah dari pabrik ke lahan PT Bukit Kausar masih dalam tahap pengkajian. “PT Bukit Kausar ini lagi melakukan pengajuan LA atau land application,” ungkapnya.

Dijelaskannya, LA adalah pengolahan limbah menjadi pupuk kimia. Namun, dia menolak menjelaskan sejauh mana progress kajian tersebut. “Itu kewenangannya di Bidang Tata Lingkungan,” ujarnya.

Apriansyah juga mengelak saat ditanya soal status limbah PKS Pengabuan ini. “Kalau sejauh ini seperti apa limbahnya, itu ada konsultan pengawasnya dari Jambi,” elaknya.

Seorang sumber yang pernah berkunjung ke PKS Pengabuan menyebutkan, limbah yang masuk ke kolam selalu melimpah karena daya tampung kolam yang tidak memadai. Patut diduga, saat dibangun oleh PTPN pada 2014-2015, kolam limbahnya menyalahi spesifikasi perencanaan.

Padahal, di lingkungan internal PTPN VI, lanjut sumber ini, sudah jamak pembicaraan soal besarnya biaya pembangunan PKS tersebut. Ada yang membandingkan dengan pembangunan PKS oleh BUMN lainnya, yakni PT RNI, di Sumatera Selatan.

Informasinya, PT RNI membangun PKS dengan teknologi dan kapasitas yang sama dengan PKS Pengabuan menghabiskan dana sekitar Rp 90 miliar. Sedangkan PTPN VI disebut-sebut menghabiskan sekitar Rp 130 untuk membangun PKS Pengabuan.

“Padahal, PKS Pengabuan ini terbilang paling canggih di antara PKS-PKS lainnya di PTPN VI,” ujar sumber ini.


Penulis: mrj/eko
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj


TAGS:


comments