Jumat, 29 Oktober 2021

Badan Bahasa Lakukan Pengayaan Kosakata dari Bahasa Melayu Jambi

Kamis, 14 Oktober 2021 | 10:44:16 WIB


Pemerkayaan bahasa Indonesia dari bahasa Melayu Jambi di Kabupaten Merangin, Jambi, beberapa waktu lalu.
Pemerkayaan bahasa Indonesia dari bahasa Melayu Jambi di Kabupaten Merangin, Jambi, beberapa waktu lalu. / ANTARA/Humas Badan Bahasa Jambi.

JAKARTA - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jambi melakukan pengayaan kosakata dari bahasa Melayu Jambi.

“Berdasarkan data dalam KBBI edisi V yang dimutakhirkan pada April 2021. Dari ribuan yang sudah diusulkan, hanya 57 kosakata Melayu Jambi yang masuk ke dalam KBBI. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengusulan kosa kata bahasa daerah Jambi perlu disempurnakan, baik dari keunikan kosakata maupun definisi dan konteks kalimat,” ujar Kepala Kantor Bahasa Jambi, Sukardi Gau, dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu.

Untuk itu, perlu pengembangan kosakata bahasa Indonesia melalui kosakata bahasa daerah. Dia menambahkan kegiatan berbentuk pendokumentasian kosakata ini dimulai sejak 2013. Meskipun nama kegiatannya berbeda setiap tahun, keluaran (output) yang dihasilkan tetap sama, yakni kosakata yang diusulkan ke KBBI.

“Dalam rentang waktu antara 2013--2020, Kantor Bahasa Provinsi Jambi telah mendokumentasikan sekitar empat ribuan kosakata bahasa daerah Jambi,” tambah dia.

Kantor Bahasa Provinsi Jambi menargetkan 1.000 kosakata bahasa daerah Jambi sebagai bahan usulan pengayaan kosakata KBBI pada 2021. Target itu diperoleh dari tiga lokasi pengambilan data di Kabupaten Merangin dan setiap wilayah ditargetkan 350 kosakata.

Salah satu lokasi pengambilan data/daerah pengamatan (DP) adalah wilayah Rantau Panjang yang terletak di Kecamatan Tabir. Data kosakata yang langsung diperoleh dari informan di lapangan tercatat 350 kosakata.

“Akan tetapi, saat dilakukan konsinyasi, beberapa kosakata harus di eliminasi, karena memiliki konsep yang sama dengan bahasa Indonesia,” ungkap dia.

Dengan demikian, untuk memenuhi target 350 kosakata, tim juga melakukan pengambilan data melalui sumber tertulis. Penambahan sumber tertulis itu, untuk memenuhi target yang diinginkan, yakni 1.050 kosakata yang berasal dari bidang pernikahan, kelahiran, kematian, pertanian, permainan rakyat, peralatan rumah tangga, aktivitas tubuh, kuliner, dan tradisi.

Pengambilan data kosakata di Rantau Panjang melibatkan penutur jati bahasa Melayu Jambi dialek Merangin. Melalui pengambilan data dapat diketahui bahwa jumlah kosakata budaya yang diperoleh lebih besar daripada kosakata sehari-hari.

“Hal ini dikarenakan kosakata sehari-hari sudah banyak padanannya dalam bahasa Indonesia. Kosakata budaya lebih memiliki konsep unik sehingga data pengayaan kosakata ini didominasi oleh kosakata budaya tersebut,” imbuh dia.

Kosakata budaya bukan tidak mungkin dapat dijadikan sebagai kosakata bahasa Indonesia. Selain konsepnya yang unik, kosakata budaya juga sarat makna. Makna itu dapat diketahui melalui definisi.

“Pendefinisian sebuah kosakata harus jelas dan rinci sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas pula kepada pembaca. Selain itu, dapat juga dilampirkan foto sebagai pendukung definisi kosakata itu. Sumber pengambilan kosakata harus dicantumkan agar definisi yang kurang jelas dapat ditelusuri lagi,” jelas dia.


Penulis: Antara
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments