Sabtu, 4 Desember 2021

Strategi Bisnis Media Agar Tetap Eksis dari Ancaman Medsos dan Pergeseran Minat Baca

Senin, 18 Oktober 2021 | 11:39:26 WIB


/ istimewa

JAMBI – Tiga praktisi media dari Amerika Serikat, London, dan Asia Pasifik memaparkan hasil pengamatan dan survei yang mereka lakukan mengenai tren global dan prospek perusahaan media berita pada tahun 2021. 

Para praktisi media ini juga memaparkan apa yang sebaiknya dilakukan perusahaan media menyikapi perubahan yang terjadi. Termasuk ancaman dari arus informasi di media sosial (Medsos) 

Paparan ini disampaikan dalam workshop jurnalistik yang digelar Royal Golden Eagle (RGE) secara hybrid 13-14 Oktober 2021. Workshop digelar dengan tetap.menerapkan protokol kesehatan secara ketat itu diikuti 38 jurnalis dari 6 kota di Indonesia, Jambi, Medan, Pekanbaru, Jakarta, dan Bogor.

Di kegiatan yang didukung World Association of News Publishers (WAN-IFRA) sebagai co-organised ini, para peserta mendapatkan update informasi berkaitan tren perkembangan media selama dan pasca pandemi, yang berdampak kepada model bisnis perusahaan media serta konten pemberitaan.

Saat membuka pelatihan, Head of Corporate Communications RGE, John Michael Morgan meminta para peserta selalu aktif berkomunikasi dua arah mengenai perkembangan media saat inj. 

Di awal acara, peserta mendapatkan update perkembangan bisnis kelompok usaha RGE yaitu APRIL, Asia Pacific Rayon, Asian Agri&APICAL, Tanoto Foundation.

Joon-Nie Lau, Director of Asia WAN-IFRA Asia Pacific mempresentasikan tren global dan prospek perusahaan media pada tahun 2021 berdasarkan penelitian terbaru WAN-IFRA tentang World Press Trends.

Menurutnya, dari hasil penelitian tentang bagaimana pandemi berdampak pada organisasi berita, baik secara finansial maupun dari sudut pandang kerja sehari-hari.

Dijelaskannya, studi kasus tentang bagaimana pada masa pandemi perusahaan media memproduksi konten dan kampanye kreatif, dengan kualitas editorial, etika, dan reputasi. "Tetap ikuti tren terkini, dan simak cara-cara baru bercerita dengan platform yang dekat dengan warga," katanya.

Sementara itu, Chairman Public Benefit Journalism Research Center, George Brock  memaparkan tren menurunnya sirkulasi media cetak dan omzet iklan. “Ada ancaman PHK di bisnis media cetak,” ujarnya.

Perubahan model bisnis media ke arah digital menjadi solusi. Untuk itu, perlu kerja keras membangun kepercayaan pembaca. Ini memang berat karena di saat yang sama media juga sedang kesulitan keuangan. 

Artinya, saat kondisi finansial kembang-kempis, media harus mengeluarkan dana lagi. “Namun mau tak mau harus dilakukan. Jika tidak, media akan makin tertinggal. Bahkan dari kreator-kreator konten,’’ katanya. 

Maka investasi adalah langkah mutlak. Sembari itu, pengelola media juga mesti memperbaiki strategi bisnis berbasis data, serta membina hubungan dengan narasumber-narasumber penting guna mempertahankan kekuatan utama media yakni kepercayaan dari pembaca atau penonton,” jelasnya.

Sementara itu, Principal Consultant Smith Edwards Group, Virgil Smith mengatakan para pemimpin redaksi perlu menyadari lanskap media massa kini telah berubah. Begitu juga dengan cara orang mengonsumsi berita. Karena itu, kepercayaan pembaca harus dibangun dengan menerapkan konsep multimedia dan multiplatform. ‘’ Ini tantangan memimpin di ruang redaksi,’’ kata dia.


Penulis: (*)
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments