Kamis, 2 Desember 2021

Perda Angkutan Batubara Segera Direvisi

Senin, 15 Juli 2019 | 22:22:23 WIB


Varial Adhi Putra
Varial Adhi Putra / dok.metrojambi.com

JAMBI - Perda angkutan batubara di Provinsi Jambi akan mengalami revisi dalam waktu mendatang. Hal ini menyangkut evaluasi yang dilakukan selama ini dan alasan penegakan hukum yang lebih membuat si pelanggar jera.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jambi, Varial Adhi Putra mengatakan ada beberapa alternatif untuk perubahan perda.

“Artinya kita melakukan revisi ulang perda untuk melakukan antisipasi pelaksanaan penegakan hukum tepadu," jelasnya.

Karena menurutnya, tujuan awal Perda dibuat agar kendaraan yang melintas ini tidak melebihi tonase kemudian juga mengatisipasi untuk selalu tertib dalam waktu oprasional yang sudah ditetapkan oleh Perda.

Varial menyebut sebenarnya inti persoalan batu bara tersebut dari mulut tambangnya, apabila ditertibkan dari mulut tambangnya maka akan efektif.

"Mereka beroperasional dari jam 6 sore sampai dengan jam 6 pagi kalau dump truknya diisi di pagi hari tentu mereka mencari cela berjalan di siang hari, nah sekarang akan kita wacanakan mereka diisi di sore hari agar mereka akan berjalan di malam hari," sampainya.

Selain itu, kata Varial, dari data lapangan Dishub juga didapati kendaraan yang overload. "Ada yang tidak memenuhi perda, kapasitas yang di bawa oleh damp truk seharusnya 8 ton tetapi pada saat di lapangan melebihi dari 8 ton tersebut, itu yang akan kita tekankan juga kepada pengusahanya melalui koordinasi dengan ESDM," ujarnya.

Selebihnya pihak Dishub juga merencanakan di sepanjang jalur Kabupaten Batanghari dan Sarolangun akan dilakukan pemantauan berkala karena pada jalur tersebut memiliki tingkat kepadatan dan kecelakaan yang tinggi. Yang turun saat pemantauan dilakukan oleh Dishub provinsi, Dishub kabupaten, Polres, dan Polda.

"Pemantauan ini bertujuan untuk keselamatan pengendara dan akan menertibkan yang melanggar Perda," ujarnya.

Terpisah, Kadis ESDM Harry Andria berpandangan untuk peraturan mengenai proses pengangkutan batu bara di mulut tambang pada sore hari bisa saja dilakukan. Asalkan semua sepakat baik pengusaha maupun pemerintah.

"Bisa saja dilakukan ke depan," katanya.

Terkait dengan kondisi truk batubara yang saat ini menumpuk di malam hari, Harry menyebut ini merupakan bagian dari transformasi pengusaha batubara. Selain karena jam operasional dari pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB, alasan lain juga berubahnya kendaraan yang dipakai pengusaha.

"Karena dilarang pakai mobil tronton (besar) sekarang memakai mobil kecil, malah ini menimbulkan masalah baru dengan banyaknya nya kendaraan di malam hingga pagi hari," sampainya.

Dia mengatakan perbandingannya tiga dibanding satu. Seperti dahulu ada 500 mobil besar sekarang menjadi 1.500 mobil kecil, jika 1.000 mobil besar berarti sekarang 3.000 mobil kecil yang beroperasi di jalan yang tentu resikonya tambah banyak memenuhi jalan dan ramai.

"Mau gimana lagi mereka punya hak juga, tinggal kita aja melakukan pengawasan sesuai kewenangan masing-masing, kita bisa mendorong mereka mengikuti aturan tonasenya sekian, tapi angkutan sudah diluar pengawasan kami karena sudah di luar wilayah tambang, yang kita awasi adalah cara mereka menambang, mengelola lingkungan, dan kecelakaan kerja," pungkasnya.


Penulis: Rina
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments