Senin, 15 Agustus 2022

Menanti Sunset Sambil Jelajah Mangrove

Menikmati Kapal Wisata Air di Kota Kualatungkal

Kamis, 21 Oktober 2021 | 08:01:07 WIB


/

 KALAU ke Kualatungkal, ibukota Tanjungjabung Barat, belum lengkap jika tidak menikmati keindahan kawasan Water Front City. Kini ada kapal wisata air yang akan membawa wisatawan berkeliling sambil menanti matahari tenggelam. 

EKO SISWONO, Kualatungkal

Kualatungkal berada 135 km dari Kota Jambi, ibukota Provinsi Jambi. Dikenal sebagai gerbang masuk Jambi dari Singapura, Malaysia dan Batam via laut, kota ini terbilang sibuk. Wisatanya pun menggeliat.

Bila berkunjung ke sini, mampirlah ke jembatan Titian Orang Kayo Mustika Rayo Alam atau yang kerap disebut kawasan Water Front City (WFC). Inilah salah satu destinasi wisata di Negeri Serengkuh Dayung Serentak ke Tujuan itu.

Cobalah berkunjung di waktu sore. Ada suasana terbenamnya matahari atau sunset di sebelah barat, yang membuat pengunjung betah berlama-lama di jembatan panjang yang didirikan muara Sungai Pengabuan dan pinggiran laut ini.

Belakangan, sunset tidak hanya bisa dinikmati dari jembatan. Kini tersedia kapal wisata air yang menjelajahi pesisir laut dan Sungai Pengabuan.

Kapal ini akan memanjakan mata pengunjung menikmati sensasi wisata bahari sambil menjelajah hutan mangrove dan menanti sunset. Kapal ini sangat cocok bagi kaum milenial yang hobi berswapoto dan keluarga.

Arbi, owner kapal dan penggagas wisata ini ini mengaku terinspirasi membuat kapal wisata itu saat melihat kapal ikan ayahnya yang lama menganggur. Muncul ide untuk memodifikasinya. “Saya minta izin ke Bapak,” kata dia saat dibincangi Metro Jambi, Rabu (20/10).

Awalnya, ayahnya keberatan karena menganggap mengurus administrasi usaha wisata itu susah. “Tetapi setelah saya coba konsultasi dengan pihak terkait, alhamdulillah keluar izinnya. Lalu kami bersama teman-teman memodif kapal ini menjadi kapal wisata air,” lanjutnya.

Kapal ini semula adalah kapal penangkap ikan jenis viber dengan mesin speed boat model BF20 berbahan bakar Pertalite. Dulunya kapal ini didapat dari  bantuan pemerintah pusat.

Belakangan, kapal itu tidak difungsikan karena penghasilan nelayan tidak sesuai dengan biaya operasional kapal.

Kini bersama teman-temannya, Arbi mengola usaha itu di bawah bendera Bronut Tourism, yang juga menjadi nama kapal wisata itu.

Berkapasitas 20 orang, kapal ini sudah beroperasi sejak sebulan lalu. Untuk keamanan, tersedia fasilitas baju pelampung dan asuransi jiwa. Penumpang juga diberi snack.

Sekali perjalanan, penumpang dewasa dikenai tarif Rp 20 ribu dan anak-anak Rp 10 ribu dengan rute perjalanan selama lebih kurang 40-50 menit. Penumpang diajak menelusuri tepian kota Kualatungkal di Sungai Pengabuan, melihat kawasan hutan mangrove dan satwa pesisir.

Karena air yang pasang-surut di Kualatungkal, Bronut Tourism tidak setiap waktu dapat beroperasi. Ada kalanya air laut surut sehingga kapal wisata andalan Ardi kandas dan terpaksa tidak beroperasi.

“Kita mulai beroperasi pukul 15.00 WIB  sampai jam 18.00 WIB. Stand by di jembatan WFC, di ujung Pelabuhan LLASDP Kualatungkal,” ujarnya. Tiket dapat dibeli di lokasi atau menghubungi kontak yang tertera di aku IG @bronuttourim.

Sejauh ini, antusias pengunjung begitu luar biasa dengan kehadiran Bronut Tourism. Dalam sehari kapal wisata air itu dapat mengangkut penumpang sebanyak tiga sampai empat kali.

“Kalau air deras, kita juga tidak berani membawa penumpang ke arah seberang, paling hanya tepian kota Kualatungkal, mulai dari Kampung Nelayan sampai Sungai Tiram,” sebutnya.


Penulis:
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj


TAGS:


comments