Kamis, 2 Desember 2021

Seratusan Personel Siaga di Air Hitam

Selasa, 02 November 2021 | 07:39:16 WIB


Bupati Sarolangun Cek Endra bersama Kapolres Sarolangun AKBP Sugeng Wahyudiono memberikan keterangan pers terkait konflik antara Suku Anak Dalam dengan perusahaan di wilayah Air Hitam, Senin (1/11)
Bupati Sarolangun Cek Endra bersama Kapolres Sarolangun AKBP Sugeng Wahyudiono memberikan keterangan pers terkait konflik antara Suku Anak Dalam dengan perusahaan di wilayah Air Hitam, Senin (1/11) / Metrojambi.com

 SAROLANGUN - Pasca bentrok antara security dan pekerja PT Primatama Kreasi Mas dengan Orang Rimba atau Suku Anak Dalam pada Jumat (29/10), suasana di Air Hitam masih di bawah penjagaan aparat. Polri dan TNI menerjunkan seratusan personel.

Kapolres Sarolangun AKBP Sugeng Wahyudiono mengatakan, pihaknya menyiagakan personel di Air Hitam secara bergantian. “Personel tetap kita gerakkan di sana, bergantian saja. Kalau dilepas begitu saja tidak bisa,” kata Sugeng, Senin (1/11).

Menurutnya, polisi di-back up TNI dan aparat pemerintah. Gabungan personel Polda Jambi, polres dan polsek sekitar 80 orang. “Belum lagi dari TNI. (Total) pasti lebih dari 100,” tambahnya.

“Sementara proses (penyelesaian konflik) masih berjalan dan saya masih belum bisa memberikan informasi detail kepada kawan-kawan media,” ujarnya lagi.

Polisi tidak hanya menyelidiki para pelaku penembak security PT PKM, tetapi juga kasus perusakan kendaraan dan rumah warga SAD. “Karena semuanya sama di mata hukum, maka tindakan itu juga harus dilakukan proses hukum,” katanya.

Pasca insiden tersebut, belasan orang sudah diperiksa, termasuk pihak perusahaan grup Sinar Mas tersebut dan korban penembakan yang dirawat di rumah sakit. Sugeng mengungkapkan, ada sekitar 14 orang yang telah dimintai keterangan.

Sementara upaya persuasif terhadap warga SAD yang diduga terlibat dan sedang melarikan diri ke dalam hutan terus dilakukan.

“Tadi Pak Bupati telah menyebutkan, kita mengajak temenggung dan jenang yang hadir agar bisa memberikan pemahaman kepada pelakunya untuk menyerahkan diri,” tambah Sugeng.

Bupati Sarolangun Cek Endra usai rapat koordinasi dengan Forkompinda meminta agar terduga pelaku penembakan menyerahkan diri. “Kita minta ke temenggung, yang tidak ada hubungan dan kaitan dengan peristiwa itu tetap seperti biasa,” ujarnya.

Cek Endra memastikan para kepala desa tidak pernah menginstruksikan warganya menyerang Orang Rimba pasca bentrok dengan security.

Bentrok pada Jumat bermula ketika sekelompok perempuan Rimba yang mencari brondol (buah sawit yang jatuh berserakan) diintimasi satpam PT PKM. Para satpam merampas sawit yang membuat para perempuan itu berteriak.

Besayung, salah satu pria Rimba, mencoba melindungi kaum perempuannya, namun malah dipukuli. Kemudian datang riga Orang Rimba lain yang kebetulan membawa senjata rakitan atau kecepek.

Dalam situasi gaduh, sambil melarikan diri, Orang Rimba menembakkan senjata dan mengenai tiga satpam.  Dua satpam dilarikan ke Bangko, satu orang dirawat di Kota Jambi.

Pasca insiden itu, terjadi penyerangan balik ke pemukiman Orang Rimba. Sudung atau pondok-pondok Orang Rimba di dalam kebun diobrak-abrik. Sepeda motor mereka dibakar.

Pemukiman Madani yang dibangun khusus untuk Orang Rimba di Desa Lubuk Jering juga diserbu. Di sini, sepeda motor mereka juga dibakar. Total tercatat lima unit sepeda motor yang dibakar di dua lokasi. Sekitar 350 Orang Rimba kabur ke dalam hutan.

Insiden Jumat itu berkait erat dengan bentrokan-bentrokan sebelumnya, salah satunya pada 17 September 2021. Hari itu, saat itu Orang Rimba bernama Nutup dan adiknya, Niti,  serta tujuh orang lainnya dihadang satpam dan pekerja  PT PKM.

Satpam meminta mereka menurunkan buah sawit brondolan yang mereka kumpulkan hari itu. Mereka mengalah, tetapi malah dipukuli sehingga tiga orang terluka. Enam sepeda motor mereka dirampas dan dibuang ke parit atau kanal perkebunan.

Saat itu, melintas Besera dan Orang Rimba lainnya. Mereka juga dipukul dan sepeda motor mereka ikut dirampas dan dibuang. Total sebanyak 17 sepeda motor Orang Rimba yang dirampas dan dibuang ke parit.

Dalam situasi ketakutan, Orang Rimba berlari meninggalkan lokasi bentrok.

Usai insiden itu, dilakukan perundingan damai. Pada 13 Oktober 2021 disepakati PT PKM didenda adat membayar pampaih Rp 36 juta bagi korban luka-luka.

Sedangkan 17 sepeda motor yang dibenamkan di parit akan dikembalikan ke Orang Rimba dalam kondisi sudah diperbaiki.

Perusahaan meminta waktu seminggu untuk perbaikan sepeda motor dan membayar denda adat. Namun, hingga Jumat, 29 Oktober 2021, janji tak kunjung dipenuhi.


Penulis: rio/mrj
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj


TAGS:


comments