Kamis, 26 Mei 2022

Perjuangan Nakes Melawan Covid-19

Kamis, 25 November 2021 | 20:42:20 WIB


Tim Pemulasaran dan Pemakaman jenazah Covid-19 saat bertugas.
Tim Pemulasaran dan Pemakaman jenazah Covid-19 saat bertugas. / Metrojambi.com

BATANGHARI- Perjuangan Tenaga Kesehatan (Nakes) dalam rangka turut membantu pemerintah melawan Covid-19 sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, nakes yang merupakan garda terdepan ini tentu saja mengenyampingkan rasa khawatir akan bahaya yang mengancam kesehatan.

Salah seorang tenaga kesehatan di kabupaten Batanghari yang bertugas sebagai Tim Pemulasaran dan Pemakaman jenazah pasien Covid-19, Neneng Eva Anggraeni, S.ST menyampaikan perjuangan dirinya bersama tim saat bertugas. Ia menyebutkan pada bulan Agustus 2021 lalu, dalam satu hari pernah mengurus 12 jenazah Covid-19 di beberapa kecamatan se kabupaten Batanghari.

"Pernah saat itu kita tidak ada waktu untuk istirahat. Ada 12 jenazah yang terpapar Covid-19 dalam sehari. Kita bagian pemulasaran dan bagian pemakamannya," ujarnya, Kamis (25/11).

Setiap tim pemulasaran dan pemakaman jenazah Covid-19 tersebut, kata wanita yang biasa disapa Neng ini berjumlah 12 orang. Yang terdiri dari 6 orang petugas kesehatan bagian pemulasaran dan 6 lainnya bagian pemakaman.

Dalam bertugas, tentu saja tim ini selalu menggunakan APD lengkap sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan.  "Selalu mengenakan APD," sebut Neneng.

Kembali ia menceritakan keluh kesah dirinya terkadang tidak pulang ke rumah dan kurangnya waktu untuk beristirahat. Karena tim ini bekerja 24 jam.

"Harus standby 24 jam. Pernah dalam waktu 2 hari 2 malam saya dan teman- teman satu tim tidak tidur. Pernah juga lebaran masih dikuburan. Tapi ini pekerjaan dan kami harus tetap bersemangat menjalankan kewajiban ini," ucap dia.

Selanjutnya, kata Neneng terkadang, keluarga dari pihak pasien tidak terima kalau pasien tersebut dinyatakan Covid-19. Bahkan tim pernah mendapat perlakuan kasar dari warga setempat.

"Mereka, pihak keluarga tidak mau dimakamkan dengan protokol. Caci maki itu sudah biasa. Warga juga ada yang tidak terima kalau dimakamkan dengan protokol Covid-19," katanya.  

Pemakaman jenazah terkadang dimakamkan sesuai permintaan keluarga, lanjut Neneng. Sehingga menghabiskan banyak waktu.  "Sementara ada pasien lain yang masih menunggu untuk dimakamkan. Dan akhirny kebut sana sini dan transportasi tidak difasilitasi kadang menggunakan mobil pribadi," pungkas Neneng.


Penulis: Pratiwi Resti Amalia
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments