Rabu, 6 Juli 2022

Warga Bungo Ternyata Tewas Dibunuh Ayah dan Adik, Ini Motifnya...

Senin, 06 Desember 2021 | 17:41:19 WIB


Kapolres Bungo, AKBP Guntur Saputro menginterogasi dua orang pelaku pembunuhan terhadap Dodi (35), warga Dusun (Desa, red) Mulya Jaya, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo. Pelaku tidak lain merupakan ayah dan adik kandung korban
Kapolres Bungo, AKBP Guntur Saputro menginterogasi dua orang pelaku pembunuhan terhadap Dodi (35), warga Dusun (Desa, red) Mulya Jaya, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo. Pelaku tidak lain merupakan ayah dan adik kandung korban / Metrojambi.com

MUARABUNGO – Pihak kepolisian berhasil mengungkap kasus pembunuhan terhadap Dodi (35), warga Dusun (Desa, red) Mulya Jaya, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, yang jasadnya ditemukan dalam kondisi tangan dan kaki terikat.

Kapolres Bungo, AKBP Guntur Saputro mengatakan, pelaku pembunuhan terhadap Dodi adalah ayah dan adik kandungnya sendiri, yakni KUS (56) dan UJ (28).

Kepada petugas kepolisian, pelaku mengaku motif melakukan aksi pembunuhan tersebut atas permintaan korban sendiri, yang mengalami gangguan jiwa.

Guntur menerangkan, bermula saat KUS dipanggil oleh korban pada Selasa (30/11) lalu ke kamarnya. Korban yang tinggal di sebuah kamar tertutup yang dikunci dengan teralis itu mengaku kepada ayahnya sudah bosan hidup dan ingin mengakhiri hidupnya.

“Setelah terjadi perbincangan, ayah korban mengiyakan keinginan korban,” kata Guntur kepada wartawan, Senin (6/12).

KUS dan korban berencana untuk bertemu di bendungan Dusun Mulya Jaya. Untuk melancarkan aksinya, KUS meminta bantuan UJ untuk mengabulkan permintaan korban.

“Kenapa di bendungan, kerena bendungan tersebut menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh korban,” kata Guntur.

Selanjutnya pada Rabu (1/12) malam sekitar pukul 19.00 WIB, KUS dan UJ pergi ke bendungan yang telah disepakati dengan korban. Sementara korban sudah terlebih dahulu pergi ke bendungan tersebut pada sore harinya sekitar pukul 17.00 WIB.

Adapun tali yang digunakan untuk mengikat kaki dan tangan korban, dibawa sendiri oleh korban yang diambil dari tali jemuran rumahnya.

“Sampai di lokasi, korban langsung menyerahkan tali jemuran yang dibawanya kepada pelaku. Kemudian mengikat dan menyemplungkan korban ke dalam bendungan,” beber Guntur.

Kejadian pembunuhan ini tidak dicegah oleh pihak keluarga lain, dikarena korban sudah sering meresahkan warga. Selain itu, korban juga sering menghilang dan susah dicari oleh pelaku.

Selain itu, korban juga sering meminta permintaan yang tidak wajar dan sering berkeinginan untuk bunuh diri. Selain itu, biaya pengobatan korban selama mengalami ODGJ juga sudah banyak dan membebani keluarga.

“Alasan itu menjadi pendorong untuk pelaku mengikuti keinginan korban,” katanya.

Setelah melakukan aksi kejinya itu, kedua pelaku beraktivitas seperti biasa tanpa ada rasa penyesalan. Setelah ada informasi menemuan mayat, pelaku seolah kaget dan merasa sedih atas kejadian tersebut.

Atas perbuatannya tersebut pelaku dijerat dengan pasal 340 dengan melakukan pembunuhan berencana. Pelaku diancam penjara seumur hidup.


Penulis: Khairul Fahmi
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments