Selasa, 4 Oktober 2022

Ditangkap, Bos Emas Ilegal Jantungan

Rabu, 22 Desember 2021 | 07:59:01 WIB


Direktur Reskrimsus Polda Jambi Kombes Pol Sigit Dany Setiyono saat merilis penangkapan jaringan perdagangan emas ilegal
Direktur Reskrimsus Polda Jambi Kombes Pol Sigit Dany Setiyono saat merilis penangkapan jaringan perdagangan emas ilegal / dokumentasi - Metrojambi.com

 JAMBI - Walau sudah menangkap AS (70) dan menetapkannya sebagai tersangka, Polda Jambi belum menahan dan memeriksa kembali pengusaha asal Sumatera Barat itu. Polisi menyebut AS tidak ditahan karena sedang sakit.

“AS sakit jantung, mungkin karena faktor umur, sudah tua. Beliau masih dirawat di Jakarta,” ungkap Direktur Reskrimsus Polda Jambi Kombes Pol Sigit Dani Setyono. Polisi kini sedang mendalami para tersangka lain yang sudah ditahan.

Sosok AS bukan sembarangan. Di Sumatera Barat dia dikenal sebagai saudagar besar emas yang mengembangkan sayap bisnis hingga ke berbagai kota di Sumatera dan Jawa.

Dia disebut-sebut berkerabat dengan salah satu mantan kepala daerah di Sumatera Barat dan mantan Ketua DPD RI Irman Gusman. Sebagai pengusaha, dia dikenal sering membantu pembangunan daerah asalnya.

Tersangka lain dalam kasus ini adalah Irwanto alias Iwan (44) dan Bripka Manjas Mara (45), oknum anggota Polda Bengkulu. Polisi menyebut Iwan adalah sopir kendaraan pengangkut emas yang dikawal Manjas.

Nama lain adalah Dhedi Pirman (38),  penampung emas hasil penambangan emas ilegal di Sarolangun dan Hendra Giromiko (40). Hendra adalah pembeli emas dari Dhedi. Lalu ada Indra Mulyadi (51), pemodal asal Jakarta.

AS, pengusaha sukses asal Minangkabau, ditangkap di Jakarta terkait pengembangan kasus emal ilegal asal Sarolangun. AS diduga membeli emas ilegal dari Hendra Giromiko.

Awalnya, polisi mengamankan Irwanto dan Bripka Manjas di dekat Pos Patroli Jalan Raya Singkut, Sarolangun.  Hasil pengembangan, polisi menangkap Dhedi Pirman di Sarolangun dan Hendra Giromiko di Kota Jambi.

Polisi kemudian menangkap Indra Mulyadi dan AS di Jakarta. Menurut Sigit, Dhedi Pirman membeli emas dari para penambang ilegal di Sarolangun untuk diolah menjadi emas batangan seberat 500 gram.

Dhedi menjualnya kepada Hendra Giromiko di Bengkulu. Untuk menjemput Emas, Hendra mengirim Iwan yang dikawal Manjas Mara. Di tangan Hendra, emas batangan 500 gram diolah lagi menjadi batangan seberat 1.000 gram untuk dijual kepada AS.

AS mengolahnya kembali sebelum dikirim ke Mulyadi. Dari Jakarta, urai Sigit, emas-emas tersebut dijual ke Surabaya untuk diolah menjadi perhiasan. Perhiasan dari emas ilegal asal Sarolangun tersebut dijual di Pulau Jawa hingga ke luar negeri.

Polda mengamankan uang tunai Rp 1,6 miliar dari kasus ini. Hasil penjualan emas yang melibatkan enam pelaku tersebut berkisar antara Rp 25-30 miliar per sebulan. “Sistem kerjanya by order. Kerja setelah ada uang muka," ujar Sigit.

Selain uang tunai polisi menyita sekitar 3 kg emas batangan. “Satu batang memiliki berat lebih kurang 500 gram,” kata Sigit. “Kita akan membongkar jaringan ini hingga tuntas, dari hulu hingga hilir,” tambahnya.


Penulis: nov
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj


TAGS:


comments