Kamis, 30 Juni 2022

Edukasi Penghitungan Harga Pokok Produk dan Pemasaran Kentang Irisan Beku Kayu Aro

Rabu, 01 Desember 2021 | 22:00:28 WIB


/

Pendahuluan

Pergeseran pola konsumsi masyarakat dari goods base consumption menjadi experience base consumption (Yuswohady, 2017). Arah pergerakan konsumsi masyarakat dari konsumsi barang ke konsumsi pengalaman, artinya masyarakat saat ini lebih memilih mengisi waktu liburan dengan berwisata untuk mendapatkan pengalaman baru daripada membeli barang atau bisa dikatakan bahwa masyarakat saat ini lebih mengalokasikan uang yang dimiliki untuk berliburan daripada membeli barang.

Pergerakan konsumsi masyarakat tersebut berdampak pada sektor pariwisata dengan semakin bermunculannya objek-objek wisata baru, baik yang alami maupun yang buatan. Sektor pariwisata di Kayu Aro telah merubah pola pikir masyarakat dan ikut terjun dalam kegiatan tersebut seperti penyediaan penginapan dan homestay yang semakin banyak.

Pendampingan warga Koto Periang mengolah kentang irisan beku dilaksanakan pada Tahun 2020 yang lalu melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat Skema Penerapan IPTEK yang diketuai oleh Bapak H. Mohammad Ihsan, S.E., M.Si dan Tim. Warga Desa Koto Periang sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut dan menambah pengetahuan dan ketrampilan warga.

Warga Desa Koto Periang saat ini telah mampu untuk mengolah kentang menjadi kentang irisan beku. Kentang irisan beku diharapkan dapat menjadi salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat. Masalah lain muncul ketika mitra akan menjual produk yang telah dihasilkan dan mitra mengalami kesulitan untuk menentukan harga jual produk tersebut.

Program Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun 2021 diharapkan menjadi solusi permasalahan yang dihadapi oleh warga Desa Koto Periang agar mampu memproduksi dan memasarkan produk. Warga juga diharapkan mampu menghitung harga pokok produk secara akurat agar harga jual menggambarkan harga pokok yang telah ditambah dengan marjin keuntungan yang diinginkan.

Hasil dan Pembahasan

Kayu Aro merupakan tujuan wisata telah menggerakkan perekonomian masyarakat namun masih dinikmati oleh segelintir atau sekelompok orang saja. Hal ini ditandai dengan ramainya kunjungan penginapan-penginpanan di Kayu Aro. Penginapan-penginapan yang sangat banyak dan kunjungan wisatawan yang banyak di Kayu Aro namun tidak tersedia toko yang menyediakan oleh-oleh khas Kayu Aro.

Hasil alam berupa kentang yang melimpah hanya dijual langsung ke pengepul namun tidak diolah untuk menjadi salah satu oleh-oleh khas Kayu Aro. Potensi perekonomian dengan penyediaan oleh-oleh khas Kayu Aro bisa menjadi salah satu dampak yang dapat dirasakan masyarakat dari sektor pariwisata di Kayu Aro.

Desa Koto Periang telah memiliki badan usaha milik desa (bumdes) dan telah bergerak untuk mengolah kentang berupa keripik kentang namun terkendala pada cuaca dan pemasaran. Tim pengabdian mencoba membantu masyarakat dengan pelatihan pembuatan kentang irisan beku yang tidak tergantung pada cuaca dan memiliki daya tahan hingga 6 bulan. Proses pengolahan yang sederhana namun dapat meningkatkan nilai jual kentang dan memiliki daya tahan yang lama.

Sesi pertama penyampaian materi tentang perhitungan harga pokok produksi dan penentuan harga jual kentang irisan beku., Sesi kedua demonstrasi pemasaran secara online dengan menggunakan media sosial.

Perhitungan Harga Pokok Produksi

Tim pengabdian menjelaskan tentang komponen biaya-biaya yang dikeluarkan hingga kentang tersebut diolah dan siap dipasarkan. Komponen biaya yang dikeluarkan terdiri dari biaya bahan baku berupa kentang dengan harga saat ini dari petani kentang adalah Rp 8.000/kg.

Biaya selanjutnya adalah biaya pengemasan yang terdiri dari plastik kemasan dan stiker kemasan. Plastik kemasan yang dipakai adalah plastik yang tebal dan lentur agar tidak mudah pecah saat disimpan di lemari pendingin. Biaya plastik kemasan Rp 1.500/plastik. Biaya selanjutnya adalah biaya stiker untuk label produk, biaya pembuatan satu stiker adalah Rp 1.000.

Semua komponen biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh satu kilogram kentang irisan beku diperkirakan sekitar Rp 11.000. Harga jual dipasaran untuk kentang irisan beku di swalayan sekitar Rp 28.000 – Rp 50.000. Petani kentang atau ibu-ibu PKK memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan mereka dari mengolah kentang utuh menjadi kentang irisan beku. Diperkirakan keuntungan yang dapat diperoleh sekitar Rp 17.000/kg.

Demonstrasi Pemasaran Secara Online

Demontrasi pemasaran secara online dengan menjelaskan media social yang akan digunakan. Sebelum proses pemasaran dilaksanakan maka peserta diberikan pengetahuan terkait dengan teknik pengambilan foto agar produk yang akan yang dipasarkan terlihat sangat menarik. Setelah pengambilan foto kemudian foto tersebut diedit dengan aplikasi yang telah tersedia, proses pengeditan ini dapat menggunakan handphone.

Peserta pengabdian menyimak dengan serius. Seusai penjelasan oleh tim pengabdian peserta pengabdian langsung mempraktikkan secara bersama dan di pandu oleh tim pengabdian. Proses pengeditan foto dapat menggunakan aplikasi canva yang telah tersedia di playstore atau juga di buka langsung di browser. Aplikasi canva sangat mudah untuk digunakan baik digunakan menggunakan laptop maupun handphone. Berikut tampilan beberapa aplikasi pengeditan foto dan aplikasi canva.

Setelah proses pengambilan foto dan pengeditan dilakukan, kemudian kentang irisan beku dapat dipasarkan dengan menggunakan media social. Media social yang digunakan yaitu facebook marketplace. Pemilihan facebook marketplace dengan alasan yang sangat mudah untuk digunakan dan tidak berbayar alias gratis.

 

*) Disusun oleh; Mohammad Ihsan, Asep Machpudin, Edward, H. Firmansyah, Garry Yuesa Rosyid. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi


Penulis:
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments