Kamis, 26 Mei 2022

Wiwid Ngotot Tak Terima Suap, Fahrurrozi dan Arrakhmat Eka Putra Menyesal

Kamis, 13 Januari 2022 | 08:22:16 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / istimewa

JAMBI - Mantan anggota DPRD Provinsi Jambi, Wiwid Ishwara, ngotot mengaku tidak pernah menerima uang ketok palu RAPBD Provinsi Jambi 2018. Dicecar jaksa pun dia tetap menyatakan tidak pernah menerima uang suap dari siapa pun.

Bantahan-bantahan itu disampaikan Wiwid di hadapan majelis hakim yang diketuai Syafrizal pada sidang lanjutan kasus korupsi ketok palu, Rabu (12/1). Sebagai terdakwa, Wiwid menjalani sidang lewat Zoom dari Lembaga Pemasyarakatan Jambi.

Baca juga : KPK Panggil Sembilan Saksi Terkait Kasus Orang Kepercayaan Zumi Zola

Kusnindar, mantan anggota DPRD Provinsi Jambi, sebelumnya mengaku membagi-bagikan uang suap ketok palu ke para koleganya di legislatif. Kurnindar juga mengantar uang suap ke rumah Wiwid, yang diterima oleh pembantunya.

Namun, Wiwid menyatakan tidak pernah menghubungi Kusnindar baik untuk urusan pribadi maupun terkait uang ketok palu itu. “Tidak pernah, Yang Mulia,” kata mantan politisi Partai Amanat Nasional ini.

Wiwid juga membantah menerima uang dari Ketua Komisi III DPRD Provinsi Jambi kala itu, Zainal Abidin, terkait jatah dari kontraktor Paut Syakarin yang sekarang juga sudah ditahan.

Hakim mengingatkan Wiwid agar jujur, walau sebagai terdakwa dia memiliki hak ingkar atau tidak disumpah.

Baca juga : Diperiksa KPK, Tetap Sinulingga dan Widodo Ditanya Tentang Apif Firmansyah

“Perlu diingat keterangan Saudara sebagai terdakwa tidak berdiri sendiri, ada keterangan saksi. Tapi, keterangan yang lain sangat berbeda dengan keterangan terdakwa. Makanya menjadi pertanyaan kami,” kata hakim.

Namun Wiwid “keukeuh” menyatakan tidak menerima uang suap, baik dari Kusnindar untuk fraksi maupun jatah Komisi III. “Ya, sudah kalau memang Saudara tidak mengakui, tidak apa-apa. Nanti kami yang akan menilainya,” tutup hakim.

Saat dicecar jaksa, Wiwid juga tidak mengaku menerima uang suap saat mengikuti bimbingan teknis Komisi III di Hotel Seruni, Bogor. Saat di hotel itu, para anggota Komisi III menerima uang dari Paut Syakarin.

“Hadir semua. Kalau tidak salah empat atau lima hari," aku Wiwid.  Dia juga mengaku tidak pernah bertemu dengan anggota Komisi III lainnya di luar kantor. 

Terdakwa lain, Fahrurozi, menyatakan menerima uang ketok palu dari Kusnindar sebesar Rp 200 juta. Namun, mantan anggota DPRD dari PKB ini mengaku tidak ingat kapan uang itu diberikan.

“Akhir tahun atau awal, saya lupa. Uang itu dalam kantong plastik,” katanya. Fahrurozi menerima uang itu dari Kusnindar di depan rumahnya. “Ini jatah, kata Kusnindar,” kata Fahrurrozi.

Kusnindar sempat menanyakan rumah Zainul Arfan, yang saat itu anggota DPRD Provinsi Jambi dari PDI Perjuangan. “Saya bilang tidak tahu. Tiba-tiba datanglah Zainul Arfan, dia dikasih uang juga,” ujarnya.

“Kusnindar sempat bilang, ini jatah anggota. Sisanya nanti ada lagi,” tambahnya. Uang tahap kedua, ujar Fahrurrazi, diberikan di rumah Kusnindar.

Menjawab jaksa penuntut umum KPK, dengan lantang Fahrurrazi menyebutkan bahwa uang suap itu dipakai untuk keperluan pribadi. “Saya tidak tahu dari mana uangnya. Cuma dikasih tahu dari pemerintah saja,” paparnya.

Fahrurazi juga mengaku menerima uang jatah Komisi III. Pertama diterimanya sebesar Rp 25 juta saat bimtek di Bogor, di antar langsung ke kamarnya. “Tidak disebut dari mana uangnya, cuma dikasih tau jatah Komisi III saja," ujarnya.

Sadar menerima uang suap di luar gaji itu, Fahrurrozi meminta maaf dan menyesali perbuatannya. “Saya minta tolong selesaikan kasus ini. Mohon pertimbangan karena saya masih punya anak kecil yang butuh perhatian,” katanya.

Arrakhmat Eka Putra dari PKS juga mengaku menerima uang ketok palu sebesar Rp 300 juta dari Kusnindar. Uang itu, diterimanya di parkiran kantor DPRD Provinsi Jambi.

“Setelah itu saya laporkan ke ketua fraksi (Rudi Wijaya),” terang Arrakhmat Eka Putra. Menurutnya, tidak ada tanda terima. 

Selain uang ketok, Arrakhmat Eka Putra juga menerima jatah untuk Komisi III di Hotel Seruni Bogor, yang diserahkan Ketua Komisi III Zainail Abidin. “Saya disuruh (Pak Zainal) ngambil amplop di atas meja. Kata pak Zainal, Itu jatah, Jen (singkatan sekretaris jenderal),” katanya.

Arrakhmat juga meyampaikan permonnan maafnya dan pengaku sudah  mengembalikan uang itu ke KPK. “Saya menyesal, saya khilaf dan tidak akan mengulangi lagi,” kata Arrakhmat sambil menangis.


Penulis: ria
Editor: Ikbal Ferdiyal/mrj



comments