Rabu, 29 Juni 2022

BPBD Sarolangun Minta Warga Waspada Bencana

Senin, 04 Oktober 2021 | 10:10:39 WIB


Longsor yang terjadi di kawasan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun belum lama ini
Longsor yang terjadi di kawasan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun belum lama ini / dokumentasi - Metrojambi.com

 SAROLANGUN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sarolangun menyatakan, berdasarkan laporan dari BMKG Jambi, kini telah masuk awal musim penghujan.

Kepala BPBD Sarolangun Trianto mengimbau, kepada seluruh masyarakat untuk berhati-hati, mengingat kondisi curah hujan yang cenderung meningkat.

Menurutnya, curah hujan sedang maupun lebat ini mengakibatkan beragam kondisi di lapangan dan muka air mengalami peningkatan. Hal tersebut tentu memicu kekhawatiran bagi warga yang bermukim dekat dengan aliran sungai.

"Kemungkinan ini akan terjadi banjir, abrasi atau adanya longsor disepanjang tebing yang ada di sekitar sungai," kata Trianto, Senin (4/10).

"Kita sudah memberikan informasi berjenjang sesuai dengan kewenangan masing-masing untuk menghadapi masuknya musim hujan saat ini," ungkapnya.

Untuk bencana angin kencang, dia menceritakan pernah terjadi di Kecamatan Sarolangun, Mandiangin dan juga Cermin Nan Gedang (CNG). "Artinya potensi ini ada," terangnya.

Trianto juga mengungkapkan beragam kejadian bencana yang pernah terjadi di Kabupaten Sarolangun, seperti longsor di Kecamatan Batang Asai, tepatnya di Bukit Raya yang kerap terjadi, dan masyarakat setempat dihimbau untuk selalu waspada.

"CNG dan Limun juga kerap terjadi longsor karena kawasan pegunungan. Kemudian yang berpotensi banjir itu di dataran rendah, mulai dari Limun, CNG, Mandiangin, Pauh," ujarnya.

Pihaknya juga telah melakukan pemetaan di lapangan, bahwa terdapat beberapa daerah yang mengalami abrasi atau longsor sungai, seperti di Pelawan, Penegah di Desa Pulau Aro, kemudian Dusun Baru yang mengalami abrasi hampir memakan badan jalan desa.

"Di sana ada pemukiman, SD dan bangunan milik pemerintah lainnya. Terkahir juga ada di Desa Batu Penyabung yang hampir memakan rumah warga," bebernya.

"Dapur rumah warga ada yang mengalami longsor dan ada 20 rumah lainnya yang kisaran panjang abrasinya sekitar 200 meter," katanya.

Pihaknya mengimbau warga yang rumahnya rawan longsor sungai untuk sementara dapat menghindar terlebih dahulu. Mengingat masih ada potensi longsor sungai susulan, apalagi ketika sering terjadi hujan.

Sementara itu, untuk daerah lainnya seperti Desa Baru juga diakui mengalami pengikisan hampir 1 meter setiap tahunnya. "Sudah kita petakan dan usulkan untuk dijadikan penanganan," jelasnya.

Sejauh ini, kata Trianto, pemerintah daerah belum menaikan status siaga bencana. Suatu daerah meningkat statusnya, apabila di lapangan potensi bencana kian meningkat akan berpotensi dijadikan status siaga darurat hidrometerologi.


Penulis: Mario Dwi Kurnia
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments