Rabu, 17 Agustus 2022

Melihat Langkah Jokowi - Rusia-Ukrania

Jumat, 01 Juli 2022 | 20:21:15 WIB


/

 Oleh: Musri Nauli*

MENGIKUTI Langkah politik ke berbagai negara Eropa memang menarik untuk diikuti. Sebagaimana yang dituliskan berbagai media, rangkaian panjang perjalanan Jokowi seperti ke Jerman untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7.

Forum G-7 terdiri dari Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Italia, Kanada, Jepang dan Inggris. Kebetulan ketujuh negara tersebut juga merupakan bagian dari anggota G20.

Sebagai mitra strategis di Asia Pasifik, kepentingan forum G-7 mengundang Jokowi sekaligus menempatkan Indonesia terutama Jokowi sebagai bagian penting dari perputaran dunia.

Sedangkan Jokowi yang bertindak sebagai Presidential forum G-20 tentu saja berkepentingan untuk memastikan keamanan global ditengah resesi paska pandemik covid-19.

Kepentingan strategis Jokowi ke Eropa dan menghadiri forum G-7 juga harus dilihat sebagai bentuk “keberanian” Jokowi ke Eropa. Disaat Indonesia sedang digugat oleh WTO didalam kebijakan Jokowi “menghentikan” ekspor nikel mentah (raw material) selain tunduk dengan regulasi Pemerintah RI juga demi kepentingan industri strategis nasional.

Dalam pemberitaan disebutkan sebelum dilakukan penghentian ekspor nikel mentah (raw material) dan Indonesia mengirimkan nikel mentah, nilainya hanya US$ 1 miliar. Lebih kurang Rp 14 - Rp 15 triliun.

Setelah ditetapkan kebijakan yang dilakukan oleh Jokowi, ekspor Indonesia kemudian melonjak. Melompat langsung naik menjadi US$ 20 miliar. Atau sekitar Rp 300 triliun.

Kedatangan Jokowi ke Eropa kemudian menghentak publik di Eropa. Pertemuan oleh Kepala Negara G-7 yang kemudian “malah” berpakaian ala Jokowi (Celana hitam, baju putih polos lengan panjang namun digulung) kemudian menjadi tagline.

Sytle Jokowi

Efek Jokowi kemudian mampu “menghiptos” forum G-7 yang semula sempat dikhawatirkan menjadi “ajang” mengadili Rusia.

Pertemuan G-7 kemudian berakhir dengan tawa lebar dari Pemimpin G-7 dan Jokowi.

Kemenangan Kecil kemudian diraih Jokowi. Jokowi “mencuri” perhatian dunia yang semula melihat forum G-7 malah gelanggang dikuasai oleh Jokowi.

Setelah pertemuan forum G-7, Jokowi kemudian ke Ukrania. Negara yang sedang berperang dengan Rusia.

Rusia kemudian menghormati Jokowi. Berbagai pemberitaan kemudian mengabarkan. Rusia menarik pasukan yang berdekatan dengan Ukrania. Sekaligus memastikan keamanan Jokowi selama di Ukrania.

Di Ukrania, Jokowi menawarkan dialog untuk mencari solusi perdamaian antara Ukrania dan Rusia. Sebagai “Sahabat”, Indonesia tidak berkepentingan dengan konflik yang terjadi Rusia-Ukrania.

Sehingga kedatangan Jokowi ke Ukrania disambut salam hangat dari Presiden Ukrania.

Setelah dari Ukrania, Jokowi kemudian menyambangi sahabatnya, Vladimir Putin di Moskow. Putin kemudian menyambut hangat. Dengan duduk berdekatan, Putin bergembira kedatangan sahabatnya yang nun dari jauh.

Dengan tenang dan tekun, Jokowi mendengarkan “gundahan” ketidakadilan yang dialami Rusia akibat embargo dari negara-negara Barat. Termasuk sikap musuhan yang nyata-nyata dialami Putin.

Dengan rendah hati, Jokowi meminta Putin sembari menunggu proses dialog, Rusia bersedia membuka blokade pengiriman kebutuhan dunia.

Terutama ketergantungan global komoditas utama pangan dunia dari Rusia seperti gandum, jagung, kedelai, bahkan pupuk.

Dengan tersenyum sekaligus membuktikan keseriusan Rusia, Putin kemudian bersedia membuka blokade untuk memastikan ekspor kebutuhan dunia.

Namun yang unik, dengan gaya politik tingkat tinggi, Putin kemudian mengingatkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Rusia.

Perjalanan panjang kedua negara didalam persahabatan yang sudah terbangun sejak Indonesia merdeka dengan detail diuraikan oleh Putin. Sembari Putin menyebutkan dukungan teknologi sejak zaman Soekarno yang Masih digunakan dengan baik Indonesia.

Tidak salah kemudian pidato yang disampaikan oleh Putin membuktikan salam hangat dari Rusia.

Banyak yang menyebutkan kedatangan Jokowi baik ke Ukrania dan Rusia adalah langkah berani yang ditunjukkan oleh Jokowi.

Perhatian dunia yang melihat Langkah Jokowi menghadiri forum G-7, ke Ukrania dan Rusia membuat Jokowi kemudian “trending” di berbagai media massa internasional. Jokowi kemudian menjadi magnet yang menarik perhatian dunia.

Sikap “ngeyel” Rusia untuk memblokade jalur distribusi ekspor kebutuhan dunia namun kemudian kedatangan Jokowi membuka jalur blokade membuat dunia berdecak kagum. Jokowi memainkan diplomasi “smart” dengan sunyi. Nyaris sama sekali tidak terpikirkan oleh dunia.

Padahal “sikap mental” petarung Jokowi yang memang tidak mengenal takut sudah banyak ditunjukkan Jokowi.

Dengan “enteng” Jokowi  dengan kapal perang mendatangi “areal abu-abu” di Laut Natuna Utara (dulu dikenal sebagai Laut Cina Selatan) yang diklaim oleh Tiongkok.

Simbol “Kepala negara” yang memastikan areal yang masuk ke Indonesia sebagai simbol kedaulatan Indonesia, juga membuktikan Jokowi tidak main-main dengan urusan kedaulatan Indonesia.

Atau cara ciamik Jokowi ditengah himpitan “Amerika Serikat” ketika negosiasi Freeport dapat diselesaikan dengan “Smart”.

Kedatangan Jokowi ke Ukrania tidak hanya sekedar menunjukkan keberanian semata.

Namun sekaligus membawa pesan. Pesan perdamaian Dunia untuk membantu menyelesaikan konflik antara Rusia-Ukrania.

Dengan niat tulus sekaligus tangan terbuka lebar, modal sebagai negara Sahabat antara Indonesia - Ukrania - Rusia, Jokowi berhasil memainkan gendangnya. Gendang yang kemudian diterima kedua belah pihak.

Sekaligus membuktikan Jokowi memang jago didalam urusan “melobi”. Tidak salah kemudian Jokowi tepat dikatakan sebagai “diplomat ulung” yang dengan “smart’, tanpa suara gaduh namun kemudian diterima oleh berbagai pihak. Sekaligus “juru damai” yang mampu “meredam” konflik agar tidak berkepanjangan.

Tentu saja kita masih menunggu bagaimana proses dialog yang akan terus bergulir antara Rusia-Ukrania.

Namun dengan “modal” tulus, sebagai seorang Sahabat, peran strategis Jokowi didalam menyelesaikan konflik Rusia-Ukrania menjadi “pondasi” dasar melanjutkan proses lebih baik lagi.

Saya tidak Sabar menunggu akhir dari proses dialog perdamaian.

Namun mengikuti jejak langkah Jokowi, Jokowi mempunyai seribu strategi yang cukup ciamik dimainkan.

Tidak salah kemudian, menjelang Jokowi mengakhiri jabatannya Presiden, Jokowi akan “running” di tingkat global.

Sebagai pemilih Tetap, saya bangga dan tidak salah memilih. Seorang “smart”, jago diplomasi, tanpa gaduh sembari pelan-pelan menyelesaikan tanggungjawab Indonesia dalam percaturan global. Politik bebas aktif.

Makna konstitusi yang menjadi Indonesia menjadi rujukan didalam melihat relasi dunia.

*Advokat. Tinggal di Jambi


Penulis: Musri Nauli
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments